Artis Aldi Taher menghibur pengunjung yang menghadiri gelaran Jakarta Mothers Day 2025 di Jakarta, Ahad (21/12/2025). Aldi Taher sempat mendapat 10 ribu pesan WA yang ingin memesan burger.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sosiolog dari IPB University, Dr Ivanovich Agusta, menanggapi viralnya nomor pribadi figur publik Aldi Taher yang dibanjiri pesan dari warganet. Menurut dia, fenomena ini merupakan salah satu bentuk baru perilaku kolektif di era digital.
Dia menjelaskan, dalam perspektif sosiologi klasik, perilaku kolektif sering dikaitkan dengan tindakan spontan yang dipicu emosi bersama dalam ruang fisik. Namun di era digital, kerumunan tersebut bertransformasi menjadi massa virtual, hadir dalam bentuk berbeda, lebih cair, cepat, dan masif.
"Ini adalah gejala khas masyarakat digital, ketika orang bergerak spontan, cepat, dan tanpa koordinasi formal, dipicu oleh viralitas di media sosial," kata Ivanovich dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (28/4/2026).
la beranggapan, fenomena ini bukan sekadar iseng, melainkan bagian dari ritual kolektif digital. Warganet selalu terdorong oleh keinginan untuk terlibat dalam momen viral. "Ada ilusi kedekatan antara masyarakat dan figur publik. Mengirim pesan menjadi cara untuk merasa terhubung," kata dia.
Ivanovic juga menyoroti adanya efek imitasi sosial yaitu ketika individu cenderung meniru tindakan yang sedang populer. Selain itu, fenomena fear of missing out (FOMO) turut memperkuat dorongan tersebut. Partisipasi, sekecil apa pun, membuat seseorang merasa relevan dalam percakapan publik.
Namun demikian, menurut Ivanovich, kejadian ini menunjukkan kaburnya batas antara ruang privat dan publik. Mengacu pada pemikiran Jurgen Habermas tentang ruang publik, Ivanovich menyebut bahwa ruang privat kini semakin mudah terekspos.
"Nomor pribadi yang seharusnya bersifat privat, ketika tersebar, sering dianggap layak diakses publik, padahal secara etis tidak demikian," tegas dia.
.png)
1 hour ago
1















































