Inilah Panglima Termuda Dalam Sejarah Islam

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejarah Islam mencatat sejumlah panglima perang yang luar biasa. Mereka berperan dalam menegakkan kalimat tauhid dan tidak gentar melawan musuh-musuh Allah. Salah seorang di antara para pejuang itu adalah Usamah bin Zaid.

Sejarah mencatat namanya sebagai panglima Muslim termuda. Ia juga menjadi komandan perang terakhir yang ditunjuk langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Saat diberi amanah kepemimpinan oleh Rasulullah SAW, usianya terbilang amat muda: 18 tahun.

Ketika itu, Imperium Romawi Timur (Bizantium) terus mengganggu perbatasan daulah Islam di dekat Syam (Suriah). Bizantium semakin gencar melakukan provokasi begitu mengetahui bahwa Rasulullah SAW sedang sakit di Madinah. Mereka terus mengancam kekuatan Islam dengan membuat gejolak di perbatasan Syam.

Dalam kondisi fisik yang belum fit seutuhnya, Rasulullah SAW tetap memerintahkan perlawanan ke perbatasan Syam. Beliau juga menyuruh sejumlah sahabatnya untuk menulis surat-surat perintah kepada para duta Muslim di Arab selatan agar mereka membasmi gerakan-gerakan yang dimotori para nabi palsu.

Nabi-nabi palsu itu menyebarkan fitnah dan kekacauan. Mereka juga menyerukan orang-orang yang mereka temui agar memberontak terhadap Rasulullah SAW.

Untuk menyelesaikan krisis di perbatasan Arab-Syam, Nabi SAW menunjuk Usamah bin Zaid sebagai panglima perang. Dalam misi ini, pemuda yang cerdas dan pemberani itu membawahi sejumlah sahabat lainnya yang lebih senior dari segi usia, termasuk Umar bin Khattab.

Beberapa sahabat sempat mempertanyakan keputusan Rasul SAW ini. Sebab, dalam penilaian mereka, masih banyak sahabat senior dalam pasukan Muslimin. Sebut saja, Sa'ad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Ketiganya mereka anggap lebih pantas memimpin pasukan ke perbatasan Syam.

Mendengar berbagai desas-desus "ketidakpuasan" itu, Umar segera menemui Rasulullah SAW. Kepada beliau, al-Faruq menyampaikan bahwa ada yang terkesan menyepelekan kemampuan Usamah dalam memimpin pasukan. Beliau merespons hal itu dengan wajah merah--tanda marah.

Nabi SAW kemudian bergegas mengumpulkan para sahabat di Masjid Nabawi. Rasulullah SAW kemudian bersabda, "Wahai sekalian manusia, aku mendengar pembicaraan mengenai pengangkatan Usamah? Demi Allah, seandainya kalian menyangsikan kepemimpinannya, berarti kalian menyangsikan juga kepemimpinan ayahnya, Zaid bin Haritsah. Demi Allah, Zaid sangat pantas memegang pimpinan, begitu pula dengan putranya, Usamah."

Rasulullah SAW melanjutkan, "Jika ayahnya sangat aku kasihi, maka putranya pun demikian. Mereka adalah orang-orang yang baik. Hendaklah kalian memandang baik mereka berdua. Mereka juga sebaik-baik manusia di antara kalian."

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |