Media Sosial dan Kesehatan Mental: Apa Hubungannya?

3 hours ago 2

Image ZIDNA KARIMAH

Eduaksi | 2026-06-22 10:21:54

Pernahkah Anda terbangun di pagi hari, dan sebelum kesadaran penuh terkumpul, tangan Anda sudah meraba-raba kasur mencari benda persegi panjang bernama ponsel? Lalu, dalam hitungan detik, Anda sudah tenggelam dalam guliran (scrolling) tanpa akhir dan melihat liburan mewah seorang teman, pencapaian karier rekan kerja, hingga berita konflik global yang mencekam. Hanya dalam waktu sepuluh menit sejak membuka mata, perasaan cemas, tidak berdaya, dan "merasa kurang" tiba-tiba sudah menggelayuti pikiran Anda.

Selamat datang di era hiperkonektivitas. Sebuah era di mana kita terhubung dengan seluruh dunia setiap detik, namun secara paradoks, justru semakin terasing dari kedamaian diri sendiri.

Kesehatan mental bukan lagi sekadar isu pinggiran atau komoditas obrolan di ruang terapi. Ia telah menjelma menjadi krisis kesehatan publik yang nyata, masif, dan membutuhkan perhatian segera. Mengapa di era yang serba mudah ini, kesehatan mental masyarakat justru berada di titik yang mengkhawatirkan?

Paradoks Ruang Digital: Dekat di Layar, Jauh di Jiwa

Secara sosiologis, teknologi dirancang untuk mendekatkan yang jauh. Namun, data ilmiah menunjukkan arah yang sebaliknya bagi psikologis manusia. Manusia adalah makhluk evolusioner yang membutuhkan koneksi interpersonal yang otentik dengan cara tatap muka, nada suara, dan bahasa tubuh. Ketika interaksi tersebut mengalami penurunan hanya dengan menjadi sekadar tombol like, view, dan kolom komentar, ada ruang hampa yang tercipta di dalam psikis kita.

Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan akan tertinggal. Kita terus-menerus membandingkan kehidupan nyata kita yang penuh dengan "kabel kusut" dan piring kotor, dengan kehidupan orang lain yang telah dikurasi secara estetis di media sosial.

Menurut teori perbandingan sosial (Social Comparison Theory) yang digagas oleh psikolog Leon Festinger, manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengevaluasi diri mereka dengan membandingkannya dengan orang lain. Di era digital, perbandingan ini terjadi secara tidak seimbang (upward social comparison). Kita membandingkan hari-hari biasa kita dengan "hari terbaik" orang lain, yang memicu perasaan rendah diri, depresi, dan kecemasan kronis.

Membaca Data: Bukan Sekadar "Kurang Bersyukur"

Di masyarakat kita, masih ada stigma kuat bahwa gangguan kesehatan mental adalah akibat dari "kurang iman", "kurang bersyukur", atau sekadar "mental lembek/generasi stroberi". Narasi ini tidak hanya keliru, tetapi juga berbahaya karena mengabaikan fakta neurosains dan epidemiologi.

Mari kita lihat data dan fakta ilmiah yang ada:

1. Lonjakan Prevalensi Global dan Nasional

Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam World Mental Health Report menunjukkan bahwa gangguan kecemasan dan depresi meningkat drastis secara global, terutama pasca-pandemi COVID-19. Di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terbaru dari Kementerian Kesehatan, jumlah total kasus gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan pada remaja berusia 15 tahun ke atas mengalami peningkatan signifikan dari tahun ke tahun.

2. Beban Ekonomi dan Produktivitas

Kesehatan mental yang buruk bukan hanya urusan perasaan individual. Cetak biru kebijakan yang diterbitkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengindikasikan bahwa hilangnya produktivitas akibat gangguan mental (seperti burnout dan depresi di tempat kerja) memberikan beban ekonomi yang masif bagi negara akibat fenomena presenteeism (hadir bekerja secara fisik, tetapi tidak berfungsi optimal karena masalah psikologis).

3. Ketimpangan Akses Layanan (Treatment Gap)

Data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengungkapkan fakta miris: rasio antara psikiater/psikolog klinis dengan jumlah penduduk di Indonesia sangat tidak seimbang. Sebagian besar tenaga profesional kesehatan mental terpusat di kota-kota besar di Pulau Jawa, menyebabkan masyarakat di daerah penyangga dan luar Jawa mengalami kesulitan akses yang luar biasa untuk mendapatkan penanganan psikologis yang layak.

Anatomi Stres Modern: Dari Burnout hingga Kelelahan Eksistensial

Mengapa masyarakat modern begitu rentan terkena gangguan mental? Selain faktor digital, kita hidup dalam struktur masyarakat yang mengagungkan budaya produktivitas beracun (hustle culture).

Masyarakat kontemporer sering kali menilai harga diri seorang manusia berdasarkan pencapaian ekonomi dan status kariernya. Istilah "istirahat" kini sering kali dipandang secara sinis sebagai "kemalasan".

"Kita berada di era di mana manusia mengeksploitasi dirinya sendiri secara sukarela, atas nama pencapaian dan optimalisasi diri." — Byung-Chul Han, Filsuf Kontemporer dalam buku "The Burnout Society".

Secara biologis, ketika tubuh dipaksa bekerja di bawah tekanan konstan tanpa jeda, sistem saraf kita akan terus berada dalam mode fight-or-flight (lawan atau lari). Hormon kortisol dan adrenalin akan terus diproduksi secara berlebih. Dalam jangka panjang, kondisi ini merusak struktur otak, khususnya area hippocampus (yang mengatur memori dan emosi) dan prefrontal cortex (yang mengatur pengambilan keputusan). Hasil akhirnya adalah burnout akut, keputusasaan, dan hilangnya makna hidup.

Membongkar Stigma dan Membuka Ruang Dialog

Langkah pertama untuk menyembuhkan masyarakat yang "sakit" secara mental adalah dengan mengubah cara kita membicarakan isu ini. Kita harus menggeser paradigma dari menghakimi menjadi memahami.

Ketika seseorang mengeluh mengalami kecemasan atau depresi, intervensi pertama yang dibutuhkan bukanlah ceramah moral, melainkan ruang aman untuk didengar. Mengakui bahwa diri kita sedang tidak baik-baik saja bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk keberanian dan kesadaran diri (self-awareness) yang tinggi.

Pendidikan kesehatan mental (mental health literacy) harus diintegrasikan sejak dini, mulai dari kurikulum sekolah dasar hingga lingkungan korporat. Masyarakat perlu diedukasi untuk membedakan antara kesedihan normal (respons alami terhadap kehilangan atau kegagalan) dengan depresi klinis yang membutuhkan intervensi medis dan psikologis profesional.

Rekomendasi Solusi: Membangun Ekosistem Kesehatan Mental yang Resilien

Menyelesaikan krisis kesehatan mental masyarakat tidak bisa mengandalkan aksi individu semata; ini adalah kerja kolektif yang membutuhkan pendekatan sistemik dari berbagai lini.

Menyelesaikan krisis kesehatan mental di tengah masyarakat tidak bisa dibebankan kepada pundak individu sendirian. Kita tidak bisa sekadar menyuruh seseorang untuk "lebih rileks" atau "ambil cuti" jika lingkungan di sekitarnya masih terus memproduksi stres secara struktural. Sehingga dibutuhkan sebuah kerja kolaboratif yang terintegrasi dari berbagai sektor untuk membangun ekosistem pendukung yang kuat.

Di level tertinggi, pemerintah memegang peran krusial melalui kebijakan publik. Langkah nyata yang mendesak untuk dilakukan adalah mengintegrasikan layanan psikologis secara penuh ke dalam fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti Puskesmas, di bawah payung BPJS Kesehatan secara merata. Mengapa ini penting? Tujuannya adalah untuk memangkas treatment gap yang selama ini terjadi. Dengan hadirnya psikolog di Puskesmas, masyarakat kelas menengah ke bawah tidak lagi menganggap layanan kesehatan mental sebagai barang mewah yang tak terjangkau. Langkah ini akan menciptakan akses yang inklusif dan merata bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan pertama pada jiwanya.

Bergeser ke hulu perkembangan generasi, institusi pendidikan harus menjadi benteng pertahanan kedua. Sekolah tidak boleh lagi hanya menjadi pabrik nilai akademik, melainkan harus bertransformasi menjadi ruang yang aman secara emosional. Hal ini dapat diwujudkan dengan menyediakan konselor atau psikolog sekolah yang aktif dan mudah didekati, bukan sekadar berperan sebagai "polisi sekolah" yang menghukum murid. Selain itu, kurikulum regulasi emosi perlu diajarkan sejak dini. Intervensi nyata di sekolah ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini terhadap gangguan mental pada remaja, sekaligus memutus rantai perundungan (bullying) dan menekan angka fatal seperti kasus bunuh diri di kalangan pelajar.

Sementara itu bagi populasi dewasa, sektor industri atau tempat kerja memegang kendali atas kesejahteraan mental para pekerjanya. Di tengah gempuran hustle culture, perusahaan perlu mengadopsi kebijakan modern seperti Right to Disconnect yang mana itu adalah sebuah hak legal bagi karyawan untuk tidak merespons pesan atau email pekerjaan di luar jam kerja resmi. Perusahaan juga selayaknya memfasilitasi cuti khusus kesehatan mental (mental health day). Intervensi di dunia kerja ini bukan sekadar bentuk empati, melainkan strategi bisnis yang cerdas. Tujuannya adalah untuk menekan angka burnoutkaryawan, yang pada akhirnya akan mendongkrak produktivitas jangka panjang perusahaan secara sehat dan berkelanjutan.

Fondasi paling mendasar berada di tingkat komunitas dan keluarga. Kita perlu membumikan pemahaman kesehatan mental melalui pelatihan Mental Health First Aid (Pertolongan Pertama Kesehatan Mental) yang ditujukan bagi kader posyandu, rukun tetangga, hingga tokoh masyarakat setempat. Ketika tingkat akar rumput dibekali kemampuan untuk mengenali gejala awal depresi atau kecemasan tanpa memberikan stigma negatif, kita sedang membangun sebuah sistem pendukung sosial (social support system) yang organik. Komunitas yang peka akan melahirkan lingkungan yang saling menjaga, sehingga tidak ada lagi anggota masyarakat yang harus menderita dalam kesunyian.

Langkah Kecil dari Diri Sendiri: Praktik Digital Minimalism

Sembari menunggu sistem makro berbenah, apa yang bisa kita lakukan di tingkat mikro untuk menyelamatkan kesehatan mental kita sendiri?

Salah satu pendekatan ilmiah yang paling efektif saat ini adalah mempraktikkan Minimalisme Digital (Digital Minimalism) sebagaimana dipopulerkan oleh Cal Newport. Ini bukan berarti kita harus membuang ponsel pintar kita dan kembali ke zaman batu. Melainkan, kita mengambil kendali penuh atas teknologi, bukan sebaliknya.

Berikut beberapa langkah taktis yang bisa diterapkan mulai hari ini:

  • Tetapkan Jam Malam Digital: Matikan seluruh notifikasi media sosial minimal satu jam sebelum tidur dan satu jam setelah bangun tidur. Berikan waktu bagi otak Anda untuk bertransisi secara alami tanpa stimulasi dopamin buatan.
  • Mengelola dalam Konsumsi Informasi Anda: Unfollow, mute, atau block akun-akun yang secara konstan memicu perasaan tidak aman (insecure) atau menyebarkan toksisitas. Isilah lini masa Anda dengan konten yang mengedukasi, menginspirasi, atau menenangkan.
  • Praktikkan Mindfulness di Sela Rutinitas: Sempatkan waktu 5-10 menit sehari untuk duduk diam tanpa gawai, fokus pada napas, atau berjalan kaki di bawah sinar matahari pagi. Hal ini terbukti secara klinis dapat menurunkan kadar kortisol dalam tubuh.

Pulang ke Kemanusiaan Kita

Kesehatan mental pada akhirnya bukanlah sebuah garis finis yang statis, melainkan sebuah proses keseimbangan yang dinamis. Masyarakat yang sehat secara mental bukanlah masyarakat yang tidak pernah bersedih atau cemas, melainkan masyarakat yang memiliki kapasitas, ruang, dan sistem pendukung untuk memproses emosi-emosi tersebut dengan cara yang sehat dan bermartabat.

Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan diri kita seperti mesin yang harus terus berproduksi tanpa henti di layar digital. Mari letakkan gawai sejenak, tatap mata orang di depan kita, hirup napas dalam-dalam, dan kembalilah ke dunia nyata. Sebab di dunialah, kemanusiaan kita yang sesungguhnya berada.

Referensi

Achmad, R. (2024). Kontribusi dukungan sosial dan intensitas penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental Gen Z. YASIN: Jurnal Pendidikan Dan Sosial Budaya, 4(6), 112–126. https://doi.org/10.58578/yasin.v4i6.3998

Aribowo, P., & Bagaskara, M. I. (2025). Dampak penggunaan media sosial "brain rot" terhadap kesehatan mental remaja. Jurnal Sosial Teknologi, 5(3), 350–357. https://doi.org/10.59188/jurnalsostech.v5i3.1412

Assariy, M. Z., Hersari, N. I., Sitorus, N. A., Arifin, S., & Faisal, F. (2024). Literature review: The influence of hustle culture on mental health. AIP Conference Proceedings, 3048(1), 020024. https://doi.org/10.1063/5.0201952

Budiana, I. (2024). Media sosial dan kesehatan mental generasi Z. Prosiding Seminar Nasional Ilmu Kesehatan Dan Keperawatan, 1(1), 13–23. https://doi.org/10.61132/prosemnasikk.v1i1.2

Haniifah, N. R. N., Isbandi, F. S., Rahayu, K. A., Natasha, A. D., Thoriq, A., & Fadillah, H. (2025). Pengaruh penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental Gen Z studi kasus: Survei anggota Gen Z waktu yang mereka habiskan di media sosial. Jurnal Bisnis Dan Komunikasi Digital, 2(2), 16–28. https://doi.org/10.47134/jbkd.v2i2.3581

Huda, A. A. S., Fadilah, A. N., & Rahmawati, D. (2025). Mengurai urgensi isu kesehatan mental remaja melalui telaah publikasi penelitian tahun 2023–2025 dalam perspektif analisis bibliometrik. Jurnal Humaniora dan Teknologi, 11(2), 128–142. https://doi.org/10.34128/jht.v11i2.214

Maharani, M., Martono, M., & Rizkidarajat, R. (2024). Prevalence and motivation of hustle culture behaviour among high school students. International Journal of Humanities and Social Science Invention, 13(9), 129–132. https://doi.org/10.35629/7722-1309101107

Purnamasari, Y., Setyadji, V., & Oppier, N. M. (2025). Penguatan literasi digital Generasi Z: Analisis dampak media sosial terhadap kesehatan mental. Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Maju, 6(02), 57–63. https://doi.org/10.33221/jpmim.v6i02.4138

Sitanggang, A. S., Azkia, H. F., Sutrisno, E., FH, Z., & Eka, D. (2024). Pengaruh sosial media terhadap mental health Gen-Z. El-Mujtama: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(5), 3024–3034. https://doi.org/10.47467/elmujtama.v4i5.4213

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |