Dokter Gia Pratama Bagikan Seni Edukasi Pasien Geriatri pada MAJESTYNAS 2026

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter sekaligus kreator konten kesehatan, dr Gia Pratama menjadi pembicara dalam talkshow bertajuk The Art of Medical Storytelling: Edukasi Pasien Geriatri ala dr Gia Pratama pada MAJESTYNAS 2026 yang diselenggarakan Medical Muhammadiyah Researcher Community (M2RC).

Kegiatan berlangsung di Auditorium Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FKK UMJ), Sabtu (20/6/2026).

Baca juga: UMJ Teken MoU Internasional Bersama National Mean Chey University

Dalam talkshow tersebut, dr Gia membagikan pengalamannya mendampingi pasien geriatri yang memiliki berbagai keterbatasan, mulai dari gangguan pendengaran hingga penurunan daya ingat.

Menurutnya, seorang dokter tidak dapat memaksakan kondisi pasien untuk memahami informasi dengan cara yang sama, tetapi harus mencari solusi sesuai dengan kondisi pasien.

Ia menjelaskan, fokus utama tenaga kesehatan adalah membantu pasien dengan berbagai pendekatan yang memungkinkan mereka tetap memperoleh pelayanan terbaik.

“Kalau untuk geriatri, kuncinya kesabaran. Mereka sudah memiliki banyak keterbatasan. Fokus kita solusi. Kalau tidak bisa mendengar, ya gunakan tulisan. Kalau mudah lupa, ya ingatkan lagi secara terus menerus,” ujar dr Gia.

Salah satu teknik yang dibagikan dr Gia adalah cara menjelaskan kondisi medis kompleks dengan analogi sederhana. Untuk edukasi tentang gula darah, ia menggunakan perhitungan yang mudah dipahami awam.

“Miligram jadi gram, desiliter jadi liter. Artinya dalam satu liter darah Bapak, Ibu, hanya boleh ada gula satu gram. Kita punya lima liter darah. Berarti hanya boleh ada gula lima gram. Pertanyaannya, berapa gram gula yang Bapak, Ibu, masukkan setiap harinya,” papar dr. Gia mendemonstrasikan tekniknya.

Selain membahas edukasi pasien geriatri, dr Gia membagikan pengalamannya memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi kesehatan. Ia mengajak mahasiswa mulai berkarya dan menyebarkan informasi kesehatan tanpa takut memulai dari hal kecil.

“Olahraga yang terbaik adalah olahraga yang dilakukan. Begitu pula edukasi, yang terbaik adalah yang dilakukan. Tidak usah banyak alasan, mulai dulu saja,” katanya.

Lebih lanjut, dr Gia mengungkapkan, dirinya memiliki visi untuk mencegah satu juta masyarakat Indonesia terkena penyakit jantung dan stroke melalui edukasi kesehatan yang masif di media sosial.

Ia menilai, pencegahan merupakan langkah yang lebih efektif dibandingkan hanya berfokus pada pengobatan, terutama di tengah meningkatnya angka penyakit tidak menular di Indonesia.

“Visi hidup saya mencegah satu juta orang Indonesia terkena serangan jantung dan stroke. Karena itu, saya percaya media sosial dapat menjadi sarana yang sangat besar untuk menyebarkan edukasi kesehatan dan mengubah pola hidup masyarakat,” tuturnya.

Ketua Pelaksana MAJESTYNAS 2026, Mutiara Balkis Andika Alfath menjelaskan, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kompetisi, juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa kedokteran untuk memperluas wawasan dan keterampilan di bidang kesehatan.

“Tema seminar kami sesuaikan dengan rangkaian lomba yang ada. Kehadiran dr Gia diharapkan dapat memberikan perspektif baru tentang pentingnya komunikasi dan edukasi kesehatan, khususnya bagi pasien geriatri,” katanya.

Sebanyak 170 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia mengikuti MAJESTYNAS 2026. Mereka dari Universitas Udayana, Universitas Andalas, Universitas Lampung (Unila), serta sejumlah perguruan tinggi dari Makassar. Selain itu, 66 finalis yang telah lolos seleksi, turut hadir langsung dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |