Veda Ega Pratama, Harapan Baru Indonesia di Balapan Moto3

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tahun 2026, gairah menonton balapan MotoGP bagi masyarakat Indonesia seperti kembali ke era 2000-an saat Valentino Rossi masih jadi pujaan penggemar balap roda dua. Namun, kali ini bukan untuk menanti balapan di kelas utama MotoGP, melainkan Moto3, dengan hadirnya jagoan baru asli Indonesia, Veda Ega Pratama.

Remaja 17 tahun dari Gunungkidul, Yogyakarta ini sebenarnya bukanlah pembalap pertama Indonesia yang mewakili Merah Putih di ajang balap motor Grand Prix. Sudah ada para pendahulunya, yakni Doni Tata, Rafid Topan, Dimas Ekky Pratama, Andi Gilang, hingga Mario Aji yang saat ini masih membalap di kelas Moto2.

Namun, dengan tetap menaruh hormat kepada pembalap terdahulu, baru Veda Ega yang bisa menyedot perhatian warga Indonesia untuk kembali menonton balap motor, meski itu di kelas terendah, Moto3.

Apa yang dilakukan Veda Ega Pratama di awal musim 2026 bukan cuma lumayan bagus untuk ukuran debutan. Ia mengukir cerita adaptasi luar biasa dari biasanya butuh satu-dua musim untuk pembalap baru untuk sekadar bertahan di papan tengah.

Veda langsung menusuk ke rombongan depan, dan dalam percakapan komentator tentang perebutan podium. Di seri kedua musim ini, di Autodromo Internacional Ayrton Senna, Brasil, ia finis di posisi ketiga. Sebuah hasil yang, kalau dilihat sekilas, mungkin terasa seperti satu kejutan. Tapi kalau ditarik ke belakang, sejarah yang ditulis oleh Veda itu buah dari hasil latihannya balapan di parkiran pasar sapi Gunungkidul sejak usianya lima tahun. Dalam sejarah panjang pembalap Indonesia di Grand Prix, pencapaian Veda Ega adalah pendobrak.

"Indonesia, kalian memiliki bintang!" kata komentator MotoGP saat Veda mencatat sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang berhasil naik podium Grand Prix. Satu Indonesia bangga. Media sosial dan media massa ramai dengan remaja 17 tahun ini, sang pencetak sejarah bagi Indonesia di dunia balap.

Namun, itu tidak berhenti di Brasil. Veda bukan tipe pembalap yang naik sekali lalu hilang. Ia start kelima di Buriram pada debutnya di Moto3, dan finis di urutan yang sama. Ini pencapaian yang sudah sangat bagus bagi seorang pembalap pemula di Moto3.

Lalu Veda konsisten dua kali start dari posisi keempat pada GP Brasil dan Amerika. Sederhananya dalam bahasa balap, Veda cukup cepat. Adaptasinya dengan motor Honda NSF250RW milik Honda Team Asia berjalan lebih lekas dari kebanyakan rookie lain yang menunggangi motor serupa.

Namun, kecepatan saja tidak cukup untuk menjelaskan kenapa Veda begitu seru ditonton. Ada satu hal lain yang terasa familiar bagi para penggemar MotoGP, yakni cara Veda balapan. Ia agresif, berani, dan sedikit nekat.

Gaya seperti ini bukan hal baru di MotoGP. Dulu, Valentino Rossi dijuluki The Doctor karena kepiawannya dalam hal-hal teknis terkait mekanis motor yang diterjemahkan sempurna saat balapan. Sementara Marc Marquez datang dengan gaya yang lebih ekstrem, yaitu late braking, menusuk ke celah sempit yang hampir tidak ada jalur untuk menyalip, dan agresif.

Veda, dalam skalanya di Moto3, memperlihatkan pola yang mirip dengan Marquez. Laiknya semua pembalap dengan gaya seperti itu, risikonya juga serupa. Di Austin, saat berada di grup depan, Veda mengalami high side keras. Sama seperti kebanyakan jenis kecelakaan yang dialami idolanya, Marc Marquez. Veda tanpa poin di balapan ketiganya di Moto3.

High side itu kembali terulang di Jerez, Spanyol, saat kualifikasi kedua yang membuat Veda harus memulai balapan dari posisi 17. Namun, ceritanya berbeda. Start dari posisi ke-17 secara realistis membuat banyak pembalap hanya berharap masuk sepuluh besar. Namun Veda berbeda. Ia menyalip satu per satu lawannya. Total 11 pembalap dilewati, dan finis keenam.

Bukan podium, memang. Tapi sebuah pesan kuat bahwa kegagalan seri sebelumnya tidak sedikit pun menggerus nyalinya. Kini, dengan koleksi 37 poin dan bertengger di peringkat keenam klasemen sementara, Veda menjadi kandidat terkuat untuk gelar Rookie of the Year 2026.

Pada usia yang baru 17 tahun, ruang kembangnya masih sangat luas. Veda bukan lagi partisipan yang meramaikan grid, tapi pembalap yang mulai diperhitungkan oleh tim-tim elite Eropa. Seri balapan baru empat kali digelar. Musim masih panjang. Dengan jadwal balapan yang akan segera memasuki sirkuit-sirkuit klasik Eropa seperti Le Mans dan Mugello, konsistensi Veda dalam meraih poin akan menjadi penentu posisinya nanti. Dan, itulah alasan mengapa saat ini menunggu balapan MotoGP kembali menyenangkan lagi.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |