REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada jenis ketakutan yang tidak lahir dari gelapnya malam, bukan pula dari suara-suara asing di lorong sunyi. Ia lahir dari kesadaran paling mengerikan: bahwa suatu hari manusia mungkin berdiri di hadapan Allah tanpa lagi memiliki tempat untuk pulang.
Surah Az-Zukhruf ayat 74–80 seperti membuka tirai dari sebuah dunia yang jauh lebih menyeramkan daripada segala kisah horor yang pernah dibayangkan manusia. Sebab horor terbesar bukanlah kematian, melainkan ketika kematian telah selesai… tetapi azab justru baru dimulai. Allah berfirman:
إِنَّ ٱلْمُجْرِمِينَ فِى عَذَابِ جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ
innal-mujrimīna fī ‘ażābi jahannama khālidụn
“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab neraka Jahannam.”
Ayat ini dimulai tanpa kelembutan. Tidak ada jeda. Tidak ada penghiburan. Menurut tafsir Ibnu Katsir, yang dimaksud al-mujrimīn bukan sekadar manusia yang pernah berbuat salah, tetapi mereka yang menolak Allah dengan kesombongan, mendustakan kebenaran, dan mematikan cahaya hati mereka sendiri.
Kata yang paling menakutkan dalam ayat itu mungkin adalah: khālidūn. Kekal. Bukan sehari. Bukan seribu tahun. Bukan jutaan abad. Tetapi tanpa akhir.
Bayangkan seseorang terjatuh ke dalam lubang yang tidak memiliki dasar, lalu menyadari bahwa ia akan terus jatuh selamanya. Begitulah kira-kira rasa ngeri dari kata itu.
Lalu Allah melanjutkan:
لَا يُفَتَّرُ عَنْهُمْ وَهُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ
lā yufattaru ‘an-hum wa hum fīhi mublisụn
“Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa.”
Dalam dunia, manusia masih memiliki jeda dari penderitaan. Orang sakit terkadang tertidur. Orang sedih masih bisa lupa sejenak. Bahkan malam pun datang membawa sedikit istirahat.
Tetapi neraka tidak memiliki jeda. Api tidak pernah redup. Jerit tidak pernah selesai. Waktu tidak pernah bergerak menuju akhir.
Kata mublisūn dalam tafsir para ulama menggambarkan keputusasaan total, sunyi yang lahir setelah harapan mati sepenuhnya. Seperti seseorang yang mengetuk pintu berkali-kali di tengah kebakaran, lalu perlahan sadar bahwa tak seorang pun akan membukakan pintu itu.
Kemudian Allah menegaskan:
وَمَا ظَلَمْنَٰهُمْ وَلَٰكِن كَانُوا۟ هُمُ ٱلظَّٰلِمِينَ
wa mā ẓalamnāhum wa lāking kānụ humuẓ-ẓālimīn
“Tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”
Ayat ini seperti pisau yang membelah alasan-alasan manusia. Allah tidak pernah menutup jalan pulang. Rasul diutus. Kitab diturunkan. Peringatan diberikan berkali-kali.
Tetapi sebagian manusia justru memadamkan lentera mereka sendiri, lalu berjalan menuju jurang sambil merasa aman.
.png)
2 hours ago
1
















































