Ambiguitas Kekuasaan Iran dan Dampaknya bagi Indonesia

1 hour ago 2

Oleh: Mohammad Ayub Mirdad, Dosen Hubungan Internasional, FISIP, Unair; Koordinator Lab Centre for Strategic and Global Studies (CSGS)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika konflik di Timur Tengah memanas, Indonesia sering merasa berada cukup jauh dari pusat krisis. Namun dalam kasus Iran pasca-Khamenei, jarak geografis justru menipu. Setiap ketidakpastian di Teheran hari ini berpotensi langsung berdampak pada harga energi, stabilitas fiskal, hingga daya beli masyarakat di dalam negeri. Apa yang tampak sebagai krisis elit di Iran, sesungguhnya bisa menjadi persoalan dapur bagi banyak keluarga Indonesia.

Sejak ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Maret 2026, Mojtaba Khamenei belum pernah tampil di depan publik. Tidak ada pidato langsung, tidak ada rekaman video, bahkan tidak ada konfirmasi visual mengenai kondisinya. Pesan-pesan resmi hanya disampaikan dalam bentuk teks yang dibacakan oleh media negara. Dalam sistem politik yang sangat bergantung pada simbol otoritas personal, ketidakhadiran ini bukan sekadar anomali; ia adalah teka-teki kekuasaan.

Situasi ini menjadi semakin mencolok karena terjadi di tengah transisi yang dramatis. Mojtaba naik ke puncak kekuasaan setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara di tengah perang yang sedang berlangsung. Proses suksesi berlangsung cepat, di bawah tekanan konflik dan ketidakstabilan internal. Namun sejak saat itu, sang pemimpin baru justru menghilang dari ruang publik. Bahkan pesan pertamanya pun hanya hadir dalam bentuk teks, tanpa suara, tanpa wajah.

Penjelasan resmi dari Teheran beragam, mulai dari alasan keamanan hingga laporan bahwa Mojtaba mengalami luka akibat serangan sebelumnya. Namun, ketidakkonsistenan ini justru memperkuat spekulasi: apakah Iran sedang dipimpin oleh seorang figur yang benar-benar aktif, atau oleh jaringan kekuasaan yang bekerja di balik namanya?

Di sinilah ambiguitas menjadi kunci membaca situasi. Dalam politik, ketidakjelasan tidak selalu berarti kelemahan. Ia bisa menjadi strategi. Dengan tidak menampilkan pemimpin secara langsung, rezim menciptakan ruang interpretasi sekaligus menghindari tekanan terhadap satu figur tunggal. Dalam kondisi krisis, ini bisa menjadi mekanisme bertahan.

Namun, ambiguitas ini juga bertepatan dengan menguatnya peran Garda Revolusi Islam (IRGC). Sejumlah laporan menunjukkan bahwa pusat pengambilan keputusan di Iran semakin bergeser ke tangan aktor-aktor militer dan keamanan. Kepemimpinan tampak tidak lagi bertumpu pada satu figur, melainkan tersebar dalam jaringan elit yang lebih tertutup.

Perubahan ini penting, bukan hanya bagi Iran, tetapi bagi stabilitas kawasan. Ketika kekuasaan menjadi tidak transparan, risiko salah kalkulasi meningkat. Dalam situasi konflik yang sudah tegang, satu keputusan yang tidak terkoordinasi dapat memicu eskalasi yang lebih luas.

Bagi Indonesia, implikasinya sangat nyata. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur sempit yang sangat bergantung pada stabilitas Iran. Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini akan langsung mendorong kenaikan harga minyak global. Sebagai negara yang masih mengimpor lebih dari separuh kebutuhan energi, Indonesia berada dalam posisi rentan. Lonjakan harga minyak bukan hanya soal angka di pasar internasional; ia akan terasa dalam bentuk tekanan terhadap APBN, kenaikan harga BBM, hingga inflasi yang menyentuh kebutuhan pokok.

Di titik ini, krisis kepemimpinan di Iran tidak lagi bisa dilihat sebagai isu yang jauh. Ia menjadi variabel yang ikut menentukan stabilitas ekonomi domestik Indonesia.

Selain aspek energi, ambiguitas kepemimpinan Iran juga menyulitkan jalur diplomasi. Indonesia selama ini memainkan peran sebagai negara dengan kebijakan luar negeri bebas aktif dan memiliki posisi penting dalam dunia Islam. Namun diplomasi membutuhkan mitra yang jelas, aktor yang memiliki mandat dan dapat mengambil keputusan. Ketika struktur kekuasaan di Teheran menjadi kabur, ruang diplomasi pun ikut menyempit.

Lebih jauh lagi, ketidakjelasan ini tercermin dalam kebijakan luar negeri Iran yang tampak tidak konsisten. Di satu sisi, ada sinyal kesiapan untuk bernegosiasi. Di sisi lain, tindakan militer dan retorika konfrontatif terus berlanjut. Kontradiksi ini menunjukkan adanya fragmentasi internal, di mana berbagai faksi bergerak tanpa koordinasi yang sepenuhnya terpusat.

Dalam jangka pendek, ambiguitas mungkin membantu menjaga stabilitas internal Iran. Namun dalam jangka panjang, ia berisiko mengikis legitimasi. Sistem politik yang tidak mampu menjelaskan siapa yang benar-benar memimpin pada akhirnya akan menghadapi krisis kepercayaan, baik dari masyarakatnya sendiri maupun dari komunitas internasional.

Bagi Indonesia, situasi ini menuntut respons yang lebih aktif dan terukur. Ada tiga langkah yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, pemerintah perlu memperkuat ketahanan energi dengan langkah-langkah yang lebih konkret: mempercepat kontrak pasokan dengan produsen di luar kawasan Teluk seperti Australia dan Afrika Barat, sekaligus membangun cadangan strategis minyak nasional yang hingga kini masih sangat terbatas. Krisis ini seharusnya menjadi pengingat bahwa transisi energi bukan sekadar agenda iklim, melainkan kebutuhan keamanan nasional.

Kedua, Indonesia perlu mengoptimalkan perannya sebagai honest broker dalam diplomasi kawasan. Melalui OKI maupun forum internasional lainnya, Indonesia berada dalam posisi unik: tidak memiliki kepentingan langsung dalam konflik Iran-Israel-AS, dan justru karena itulah suaranya dapat dipercaya. Dalam situasi di mana mitra dialog di Teheran tidak jelas, pendekatan multilateral yang melibatkan banyak pihak menjadi satu-satunya jalan yang masuk akal.

Ketiga, pemerintah perlu menyiapkan respons ekonomi yang lebih dari sekadar penyesuaian fiskal. Indonesia perlu mendorong koordinasi ASEAN untuk bersama-sama merespons volatilitas energi akibat krisis ini, baik melalui mekanisme berbagi cadangan regional maupun penguatan posisi tawar kolektif di pasar energi global.

Pada akhirnya, ketidakhadiran Mojtaba Khamenei bukan sekadar misteri personal di Iran. Ia adalah cermin dari perubahan yang lebih dalam dalam struktur kekuasaan, dari kepemimpinan yang berpusat pada figur menuju konfigurasi yang lebih tersembunyi dan terfragmentasi.

Namun bagi Indonesia, yang lebih penting bukanlah siapa yang tampil di Teheran, melainkan bagaimana ketidakpastian itu akan dirasakan di Jakarta. Dalam dunia yang semakin saling terhubung, krisis di satu titik dapat dengan cepat menjadi beban di tempat lain. Dan dalam konteks ini, ambiguitas di Iran adalah risiko nyata yang tidak bisa diabaikan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |