REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan depan diperkirakan menjadi salah satu momentum geopolitik paling menentukan tahun ini di tengah meningkatnya ketegangan ekonomi, perang tarif, dan perebutan dominasi teknologi global antara dua kekuatan terbesar dunia.
Meski kedua negara diperkirakan tetap membuka ruang dialog, berbagai sinyal menunjukkan rivalitas Washington-Beijing justru bergerak menuju fase baru yang jauh lebih luas dan agresif.
Asisten Direktur GeoEconomics Center Atlantic Council, Jessie Yin, menilai ketidakpastian perdagangan masih menjadi ancaman utama menjelang pertemuan Trump-Xi di Beijing.
“Yang benar, bagaimanapun juga, kita telah memasuki era di mana gesekan antara dua ekonomi terbesar dunia telah menjadi kondisi dasar, bukan lagi pengecualian,” tulis Yin dalam analisanya yang ditayangkan di atlanticcouncil.
Menurut dia, hubungan AS-China kini tidak lagi berada dalam pola kerja sama normal, melainkan memasuki era kompetisi permanen yang dapat menentukan arah ekonomi dan geopolitik dunia selama bertahun-tahun ke depan.
Ketegangan terbaru dipicu kombinasi perang tarif, sanksi ekonomi, kontrol ekspor teknologi, hingga konflik Timur Tengah yang ikut menyeret hubungan AS-China.
Pemerintahan Trump bulan lalu menjatuhkan sanksi terhadap lima kilang minyak China karena membeli minyak Iran. Namun Beijing membalas dengan menggunakan undang-undang domestik untuk melindungi perusahaan-perusahaan China yang tetap bertransaksi dengan fasilitas tersebut.
Langkah itu dipandang sebagai bentuk perlawanan terbuka China terhadap tekanan ekonomi Washington.
Di sisi lain, Gedung Putih juga bergerak cepat menyiapkan gelombang tarif baru terhadap produk China yang diperkirakan mulai diberlakukan pada paruh kedua tahun ini.
Langkah tersebut muncul setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif IEEPA pada Februari lalu, memaksa pemerintahan Trump mencari instrumen hukum baru untuk membangun kembali “tembok tarif” terhadap China.
Washington kini berencana menggunakan kombinasi tarif Section 301 dan Section 232 guna menekan impor China.
Saat ini dua investigasi besar terhadap Beijing tengah berjalan berdasarkan Section 301, masing-masing terkait dugaan kapasitas industri berlebih dan pelanggaran kerja paksa.
Menurut data perdagangan 2025, tingkat tarif efektif terhadap barang China saat ini diperkirakan mencapai 23,69 persen, termasuk tarif lama peninggalan perang dagang pertama AS-China.
.png)
3 hours ago
1
















































