Fee Based Income Melonjak, Bisnis Emas BSI Makin Hasilkan Cuan

2 hours ago 2

Pekerja menunjukkan emas yang dijual Bank Syariah Indonesia (BSI) di ajang Bullion Connect 2025 di Jakarta, Rabu (12/11/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat pendapatan berbasis komisi atau fee based income tumbuh 22,3 persen secara tahunan. Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan bisnis emas kini menjadi salah satu kekuatan baru perseroan selain ekosistem haji dan umrah.

“Bisnis emas mulai menjadi sumber pertumbuhan baru yang semakin relevan bagi BSI,” kata Anggoro dalam paparan kinerja kuartal I 2026 BSI, Selasa (12/5/2026).

Menurut dia, posisi BSI sebagai bank syariah sekaligus bullion bank memberikan ruang pertumbuhan yang berbeda dibanding bank lain.

BSI resmi menjadi bullion bank pertama di Indonesia sejak diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2025. Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho mengatakan pertumbuhan bisnis emas terlihat dari lonjakan jumlah nasabah tabungan emas yang kini telah menembus satu juta pengguna. Padahal, layanan tersebut baru berjalan sekitar satu tahun.

“Yang kami dorong bukan orang membeli emas untuk spekulasi jangka pendek, tetapi membangun kebiasaan menabung jangka panjang,” ujar Ade.

Melalui aplikasi BYOND, masyarakat kini bisa membeli emas mulai Rp 50 ribu. Nasabah juga dapat menjual maupun mentransfer emas secara digital.

Menurut Ade, skema tersebut membuat investasi emas menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat luas, terutama generasi muda.

Selain jumlah nasabah yang meningkat, bisnis emas juga dinilai memiliki kualitas pembiayaan yang sangat sehat. Direktur Risk Management BSI Grandhis Helmi Harumansya mengatakan pembiayaan emas memiliki tingkat imbal hasil sekitar 10 persen dengan rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) hanya 0,01 persen.

“Pembiayaan emas menjadi salah satu segmen dengan kualitas terbaik,” kata Grandhis.

Hingga saat ini, total emas yang dikelola BSI melalui bisnis bullion mencapai sekitar 23 ton. Di sisi lain, pertumbuhan bisnis emas ikut menopang kinerja perseroan secara keseluruhan. Pada kuartal I 2026, BSI membukukan laba Rp 2,2 triliun atau tumbuh 17,1 persen secara tahunan dengan total aset mencapai Rp 460 triliun.

BSI menilai tren peningkatan investasi emas masih akan terus berlanjut seiring tingginya ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap instrumen investasi aman.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |