Permata Bank menilai peringatan dari MSCI serta lembaga pemeringkat internasional mulai menjadi alarm baru bagi kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia. (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Permata Bank menilai peringatan dari MSCI serta lembaga pemeringkat internasional mulai menjadi alarm baru bagi kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, keluarnya dana asing dari pasar saham dan obligasi Indonesia dalam beberapa bulan terakhir tidak semata dipengaruhi penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia.
Menurut dia, pasar juga mencermati isu transparansi pasar keuangan, kredibilitas kebijakan pemerintah, hingga ruang fiskal Indonesia. “Sebelumnya kita juga perlu mengingat adanya peringatan dari MSCI terkait transparansi kepemilikan asing, jumlah saham beredar, dan potensi perubahan status pasar,” kata Josua dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I Tahun 2026, Selasa (12/5/2026).
Ia mengatakan, kondisi tersebut mempengaruhi persepsi investor global terhadap aset keuangan Indonesia dan meningkatkan risk premium pasar domestik.
Permata mencatat sejak awal tahun hingga April 2026 telah terjadi capital outflow dari pasar saham domestik sekitar 2,2 miliar dolar AS. Sementara dari pasar obligasi, dana asing yang keluar mencapai hampir 0,7 miliar dolar AS.
Di tengah tekanan tersebut, nilai tukar rupiah juga terus melemah hingga bergerak di kisaran Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Meski demikian, Josua menegaskan kondisi rupiah saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis moneter 1998 karena fundamental ekonomi Indonesia masih jauh lebih kuat. “Fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh berbeda dibandingkan periode krisis 1998,” ujar Josua.
Menurut dia, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen global, terutama tingginya harga minyak dunia dan meningkatnya permintaan dolar AS.
.png)
4 hours ago
2
















































