Wamensos Tekankan Tiga Aspek Penting untuk Pemberian Gelar Pahlawan Nasional Sultan HB II

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Upaya mendorong Sri Sultan Hamengku Buwono II (HB II) sebagai Pahlawan Nasional terus bergulir. Dalam Seminar Nasional bertajuk "Jejak Kepahlawanan Sultan Hamengku Buwono II: Menyongsong Gelar Pahlawan Nasional" yang digelar pada 30 Maret 2026, sosok Sultan kedua Yogyakarta ini dikupas tuntas bukan hanya sebagai pejuang militer, tetapi juga sebagai "Arsitek Peradaban" yang warisannya masih relevan bagi industri kreatif masa kini.

Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono memberikan catatan penting terkait usulan gelar Pahlawan Nasional bagi Sultan Hamengku Buwono (HB) II. Wamensos menekankan bahwa proses pengusulan ini harus memenuhi tiga aspek krusial agar dapat disetujui oleh pemerintah pusat.

Wamensos Agus Jabo Priyono menjelaskan bahwa gelar Pahlawan Nasional bukan sekadar bentuk penghormatan, melainkan pengakuan negara atas dedikasi luar biasa.

Tiga aspek yang ditekankan adalah aspek Historis dan Data Otentik: Perjuangan calon pahlawan harus didukung oleh dokumen sejarah yang valid dan tidak terbantahkan; Dampak Luas bagi Bangsa: Sosok yang diusulkan harus terbukti memiliki kontribusi nyata dalam skala nasional, bukan hanya lokal atau kedaerahan; Kesinambungan Nilai Perjuangan: Nilai-nilai yang dibawa oleh tokoh tersebut harus tetap relevan dan menjadi inspirasi bagi generasi masa kini.

​"Kami mengapresiasi semangat masyarakat dan keluarga. Nantinya, semua usulan akan melalui mekanisme Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan dengan landasan riset yang kuat," ujar Wamensos Agus Jabo Priyono saat menghadiri Seminar Nasional Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Sri Sultan Hamengkubuwono II yang digelar oleh Yayasan Vasatii Socaning Lokika secara hybrid di Jakarta Selatan, Senin (30/3/2026). 

Saat ini, tim peneliti dan pengkaji gelar pusat akan melakukan verifikasi lapangan untuk mencocokkan data yang diajukan dengan fakta sejarah di lapangan. Jika seluruh syarat terpenuhi, usulan ini akan diajukan kepada Presiden untuk diputuskan melalui Keputusan Presiden (Keppres)

Sultan Hamengkubuwono II yang memerintah pada 1792–1828 ini dikenal dengan julukan "Raja Pembangun Pesanggrahan". Di bawah kepemimpinannya, karya-karya monumental seperti Taman Sari, Pesanggrahan Rejawinangun (Warungboto), hingga benteng Baluwarti dibangun dengan kecerdasan arsitektur defensif.

Diskusi ini menghadirkan jajaran narasumber kompeten yang membedah sosok Sultan HB II dari berbagai sudut pandang, mulai dari catatan sejarah hingga peninggalan budaya.

Para ahli yang hadir antara lain Prof Djoko Marihandono (Guru Besar Ilmu Sejarah FIB UI) Beliau memaparkan konteks politik masa kepemimpinan Sultan HB II, terutama perlawanannya terhadap kebijakan Daendels dan Raffles yang merugikan kedaulatan keraton, Dr Harto Juwono, (Dosen Ilmu Sejarah FIB UNS) Menyoroti dokumentasi sejarah dan fakta-fakta lapangan mengenai strategi pertahanan Sultan HB II dalam menghadapi agresi militer Inggris (Geger Sepehi), Dr Ananta Hari Noorsasetya (Pengamat Seni Budaya & Trah Sultan HB II) Memberikan perspektif dari sisi pelestarian budaya dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh sang Sultan kepada para keturunannya serta masyarakat luas.

​Dr Ananta menekankan bahwa Sultan HB II adalah sosok yang meletakkan dasar identitas visual dan konstitusi melalui seni dan sastra. " Sultan HB II bukan sekadar raja, beliau adalah fashion designer pertama Indonesia dan penulis Serat Suryaraja yang menjadi konstitusi keraton. Warisan desainnya, mulai dari ornamen Paduraksa hingga motif Manuk Beri, adalah DNA kreativitas yang kini diadaptasi oleh hotel mewah dan industri fashion modern. Mendukung HB II sebagai Pahlawan Nasional berarti kita mendukung kebudayaan sebagai kekuatan utama bangsa," jelas Dr Ananta.

​Mewakili suara anak muda, salah satu narasumber menyoroti relevansi nilai-kali kepahlawanan HB II yang melampaui angkat senjata. "Bagi kami, pahlawan tidak selalu tentang pertempuran fisik. Sultab HB II adalah 'The OG Creative Rebel'. Beliau meninggalkan legacy yang tetap 'hidup' dan relatable hingga 200 tahun kemudian. Dari manuskripnya yang kini ada di British Library hingga konsep arsitektur yang berkelanjutan, beliau memberikan kurikulum hidup bagi kreator, desainer, dan seniman muda masa kini," jelasnya

​Sementara Ketua Yayasan Vasatii Socaning Lokika, Fajar Bagoes Poetranto mengatakan dari sisi keteguhan politik dan visi spasial. Ia mempertegas alasan kelayakan gelar Pahlawan Nasional.

​"Sultan HB II adalah pejuang anti-kolonial yang konsisten menolak VOC, Daendels, hingga Raffles, meski harus diasingkan tiga kali. Namun di sela perjuangan itu, beliau membangun sistem pertahanan cerdik lewat lorong bawah tanah dan menara pengintai seperti Panggung Krapyak. Visi 'Kedaulatan Kebudayaan' beliau adalah pilihan terbaik untuk membangun karakter bangsa yang kuat di era global," ujarnya.

"Seminar ini menyimpulkan bahwa jejak Sultan HB II yang tertanam dalam "batu, pena, dan estetika" membuktikan bahwa kepahlawanan beliau bersifat menyeluruh—melindungi wilayah sekaligus merawat jiwa dan identitas bangsa," kata Fajar.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |