REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan duka mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan. Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir mengatakan, Persyarikatan juga mengutuk serangan yang dilakukan Israel yang menyebabkan kejadian tersebut.
Duka kian terasa bagi Muhammadiyah. Sebab, salah satu prajurit TNI yang gugur itu, yakni Praka Farizal Romadhon, adalah seorang kader Muhammadiyah asal Kulon Progo, DIY.
“Kami menyatakan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas gugurnya prajurit kita yang sedang menjalankan misi perdamaian dunia di bawah mandat PBB di Lebanon. Hari ini kita dapatkan kabar, jumlah yang gugur bertambah jumlahnya menjadi tiga orang," kata Haedar Nashir saat membuka kegiatan Silaturahim Idulfitri 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah di kampus UMJ, Tangerang Selatan, Banten, pada hari ini.
"Dan satu orang yang (terkonfirmasi) pertama gugur yakni Saudara Praka Farizal Romadhon, itu kader dan anggota dari Muhammadiyah di Kulon Progo,” sambungnya.
Ia menambahkan, almarhum dikenal memiliki kedekatan dengan nilai-nilai Muhammadiyah. Bahkan, Praka Farizal melalui akun media sosial pribadinya diketahui aktif memopulerkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
“Dalam beberapa postingan Instagram-nya bahkan mempopulerkan KHGT. Ini pertanda bahwa yang bersangkutan selain bertugas sebagai pasukan perdamaian, juga lekat dengan spirit Muhammadiyah,” katanya.
Haedar menegaskan, Muhammadiyah sangat prihatin sekaligus mengutuk berbagai bentuk kekerasan yang terjadi, termasuk serangan Israel yang berdampak pada pasukan penjaga perdamaian.
“Tentu juga kita sangat-sangat prihatin dan sangat mengutuk segala tindakan kekerasan, pengeboman, dan invasi yang terus-menerus dilakukan oleh zionis Israel,” ujarnya.
Sebelumnya, jumlah korban yakni Pasukan Penjaga Perdamain di Lebanon (Unifil) dari Indonesia pada Senin (30/3/2026), bertambah tidak hanya satu orang. Setelah korban Praka Farizal Rhomadhon, kali ini dua prajurit TNI Satuan Tugas Batalyon Mekanis (Satgas Yonmek) XXIII-S/Unifil juga gugur saat sedang bertugas.
Informasi yang didapatkan Republika, kedua korban serangan brutal militer Israel itu adalah Mayor Inf ZA dan Sertu I. Keduanya saat itu sedang berusaha mengevakuasi prajurit TNI lain yang terluka. Namun, dalam perjalanan konvoi itu diserang Zionis Israel. Berarti sudah tiga prajurit TNI yang gugur di Lebanon.
Dikutip dari The New York Times, dua pasukan penjaga perdamaian PBB yang sedang dalam konvoi gugur "terkena ledakan yang tidak diketahui asalnya" di Lebanon selatan. Hal itu masih ditambah beberapa prajurit TNI terluka.
Ledakan itu terjadi sehari setelah Sekjen PBB Antonio Guterres, mengutuk pembunuhan seorang Pasukan Penjaga Perdamaian asal Indonesia di Lebanon selatan. Wilayah yang dijaga Unifil selama ini menjdi lokasi pertempuran antara militer Israel dan pasukan Hizbullah. Intensitas bentrokan meningkat seiring dengan perluasan invasi darat pasukan Israel ke Lebanon.
Sekitar 10 ribu pasukan Unifil ditempatkan di wilayah tersebut. Pasukan Penjaga Perdamaian di Lebanon didirikan pada 1978, seiring terjadi perang saudara di sana. Laporan The New York Times menunjukkan, dalam ledakan terbaru, konvoi yang menjadi korban sedang menuju antara dua pos yang dihantam senjata berat.
Hal itu menghancurkan kendaraan terdepan dan menewaskan Pasukan Penjaga Perdamaian dari Indonesia. Beberapa lainnya terluka, salah satunya serius, menurut laporan tersebut. "Ledakan itu, yang sekali lagi mengenai batalyon Unifil Indonesia, terjadi di dekat kota Bani Haiyyan di Lebanon selatan," kata laporan itu.
.png)
3 hours ago
1
















































