REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Anggota Komisi V DPRD yang membidangi kesejahteraan rakyat (kesra), Farabi El Fouz menyoroti meningkatnya persoalan kesehatan mental di kalangan generasi muda. Ia menilai fenomena ini kian mengkhawatirkan, terutama dengan maraknya respons negatif di media sosial terhadap isu-isu sensitif seperti bunuh diri.
“Saya melihat di media sosial, ketika ada pemberitaan terkait bunuh diri, justru banyak komentar yang tidak menunjukkan empati. Bahkan tidak sedikit yang terkesan mencari perhatian dengan menulis hal-hal provokatif, seolah menormalisasi atau menantang orang lain untuk melakukan hal serupa. Ini sangat berbahaya,” ujar Farabi kepada Republika.co.id, Sabtu (25/4/26) siang.
Menurutnya, pola interaksi semacam itu mencerminkan rendahnya literasi kesehatan mental sekaligus lemahnya kesadaran bermedia sosial secara bijak. Generasi muda, yang sangat dekat dengan ruang digital, kerap terpapar komentar-komentar negatif yang dapat memperburuk kondisi psikologis, terutama bagi mereka yang sedang rentan.
Farabi menegaskan persoalan kesehatan mental tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia mendorong peran aktif pemerintah, lembaga pendidikan, hingga keluarga dalam membangun ekosistem yang lebih sehat dan suportif.
“Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ini harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Sebagai solusi, Farabi mengusulkan penguatan edukasi kesehatan mental sejak dini melalui kurikulum pendidikan dan kampanye publik yang berkelanjutan. Selain itu, ia juga mendorong penyediaan layanan konseling yang mudah diakses, termasuk layanan daring yang ramah bagi generasi muda.
Tak kalah penting, Farabi meminta platform media sosial untuk lebih tegas dalam melakukan moderasi terhadap konten-konten yang berpotensi memicu perilaku berisiko. Ia juga mengajak masyarakat untuk membangun budaya empati di ruang digital.
“Jangan jadikan komentar sebagai ajang mencari perhatian dengan cara yang salah. Terutama beberapa netizen memiliki fake account (akun kedua yg dipakai memakai identitas palsu)," ucap Farabi.
Menurutnya Fake account membuat para netizen berani berkomentar karena merasa anonim. Farabi menilai netizen harus paham bahwa kata-kata dapat berdampak besar bagi orang lain.
Ia berharap, dengan kolaborasi berbagai pihak, ruang digital dapat menjadi tempat yang lebih aman, sekaligus mendukung generasi muda tumbuh dengan kesehatan mental yang kuat.
.png)
5 hours ago
3
















































