Tiga Analis Dunia Bedah Perang Adu Kuat Drone Jadi Mimpi Buruk Baru NATO

5 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tidak ada lagi perang modern yang benar-benar “murah”. Namun ironisnya, senjata yang kini paling mengubah wajah peperangan justru bukan jet tempur miliaran dolar atau kapal induk raksasa, melainkan drone-drone kecil yang diproduksi massal dalam jumlah ribuan unit.

Film Angel Has Fallen yang dibintangi Gerard Butler yang berperan sebagai agen Secret Services dan Morgan Freeman yang menjadi wakil presiden menunjukkan bagaimana drone-drone kecil menjadi senjata pembunuh yang sangat efektif.

Kenyataannya kini, dari langit Ukraina hingga kawasan Teluk Persia, medan perang mulai dipenuhi mesin tanpa pilot yang bisa menyerang secara otonom, memburu target dengan bantuan AI, bahkan melumpuhkan infrastruktur penting hanya dengan biaya sepersekian rudal konvensional. Dunia militer kini memasuki fase baru: perang industri drone.

Perubahan itu berlangsung jauh lebih cepat daripada kemampuan banyak negara untuk beradaptasi. Ukraina menunjukkan bagaimana drone murah dapat menghancurkan tank dan memaksa perubahan taktik perang. Iran memperlihatkan bagaimana gelombang drone bisa menekan ekonomi dan pertahanan negara-negara Teluk secara terus-menerus.

Sementara Turki bergerak lebih jauh lagi dengan membangun ekosistem produksi drone nasional berskala raksasa. Tiga perkembangan itu mengirim satu pesan yang sama: masa depan peperangan tidak lagi hanya ditentukan oleh negara yang memiliki senjata paling mahal, tetapi oleh siapa yang mampu memproduksi sistem nirawak paling banyak, paling cepat, dan paling cerdas.

Tiga analisis berbeda yang diterbitkan media dan lembaga internasional dalam beberapa pekan terakhir memperlihatkan arah perubahan itu. Barin Kayaoglu di Turkiye Today menyoroti ambisi Turki membangun ekosistem drone nasional berskala penuh. Vitaliy Goncharuk dalam War on the Rocks justru memperingatkan bahwa dominasi drone baling-baling mungkin segera mencapai batasnya dan akan digantikan rudal murah berkecepatan tinggi. Sementara Kateryna Bondar dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) memotret bagaimana Iran menggunakan drone sebagai tulang punggung kampanye udara modern di Teluk.

Meski lahir dari sudut pandang berbeda, ketiga tulisan itu bertemu pada satu kesimpulan besar: perang masa depan tidak lagi ditentukan semata oleh kecanggihan platform tunggal, melainkan oleh kemampuan memproduksi, mengintegrasikan, dan mengoperasikan sistem nirawak dalam skala industri.

Ekosistem Teknologi Nasional

Barin Kayaoglu melihat transformasi itu melalui langkah agresif Turki. Baykar, perusahaan drone terbesar Turki, berencana membangun pusat produksi dan pelatihan drone di 81 provinsi negara tersebut. Menurut Kayaoglu, proyek itu bukan sekadar program pertahanan, melainkan upaya membangun “ekosistem teknologi nasional” yang menyatukan industri, pendidikan, keamanan, dan inovasi sipil dalam satu arsitektur besar.

CEO Baykar Haluk Bayraktar bahkan secara terbuka mengatakan, “Kami akan menggunakan pendapatan dari SAHA Expo untuk membangun pusat-pusat ini, yang akan membantu kami mencapai kapasitas produksi jutaan drone di seluruh negeri secara instan setiap saat.”

Bagi Turki, drone bukan lagi alat tempur tambahan. Drone telah berubah menjadi instrumen negara. Kayaoglu menunjukkan bagaimana UAV Turki mulai digunakan untuk operasi militer, patroli perbatasan, pengawasan kebakaran hutan, distribusi logistik bencana, hingga inspeksi infrastruktur dan riset maritim. Dalam logika Ankara, kemampuan memproduksi drone secara massal berarti kemampuan mempertahankan negara sekaligus menjaga stabilitas sipil.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |