Reaktualisasi Nilai-Nilai Pancasila: Membangun Karakter Generasi Z di Era Digital

5 hours ago 4

Image Bintang Kesowo Wulan

Iptek | 2026-06-19 10:53:30

SiGenerasi Z, sebagai generasi digital native, memiliki karakteristik unik yang berbeda dari generasi sebelumnya, seperti adaptabilitas terhadap teknologi,keterbukaan terhadap informasi, dan kecenderungan untuk mengekspresikan diri secara bebas. Namun, kemudahan dalam mengakses informasi yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembentukan karakter dan identitas nasional. Generasi muda, yang terpapar secara intensif oleh konten digital, rentan terpengaruh oleh tren dan gaya hidup yang tidak selaras dengan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme

Kita sering melihat fenomena yang cukup mengkhawatirkan: penyebaran hoaks yang masif, komentar kasar di media sosial, hingga rendahnya rasa toleransi terhadap perbedaan. Ironisnya, hal ini justru banyak terjadi di kalangan generasi muda yang seharusnya menjadi agen perubahan.Lalu, dimana posisi nilai-nilai Pancasila dalam kondisi seperti ini? Pancasila sebagai dasar negara sekaligus sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia memiliki peran yang sangat penting. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilansosial, menjadi landasan moral dalam membentuk generasi muda yang cerdas,tangguh, dan bertanggung jawab. Namun selama ini Pancasila sering dianggap hanya sebagai hafalan. Lima sila yang diingat saat ujian, tapi jarang benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Reaktualisasi nilai Pancasila berarti menghidupkan kembali makna dan penerapannya dalam konteks zaman sekarang. Bukan mengubah isinya, tapi menyesuaikan cara kita memahaminya agar tetap relevan.Sila pertama mengajarkan kita tentang nilai keimanan dan moralitas. Dalam dunia digital, ini bisa berarti menjaga etika saat berinteraksi, tidak menyebarkan kebencian, dan tetap menjunjung nilai kebaikan meskipun berada di ruang virtual.Sila kedua tentang kemanusiaan mengingatkan kita untuk saling menghargai.Generasi Z, sebagai generasi digital native, memiliki karakteristik unik yang berbeda dari generasi sebelumnya, seperti adaptabilitas terhadap teknologi,keterbukaan terhadap informasi, dan kecenderungan untuk mengekspresikan diri secara bebas. Namun, kemudahan dalam mengakses informasi yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembentukan karakter dan identitas nasional. Generasi muda, yang terpapar secara intensif oleh konten digital, rentan terpengaruh oleh tren dan gaya hidup yang tidak selaras dengan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme

Kita sering melihat fenomena yang cukup mengkhawatirkan: penyebaran hoaks yang masif, komentar kasar di media sosial, hingga rendahnya rasa toleransi terhadap perbedaan. Ironisnya, hal ini justru banyak terjadi di kalangan generasi muda yang seharusnya menjadi agen perubahan.Lalu, dimana posisi nilai-nilai Pancasila dalam kondisi seperti ini? Pancasila sebagai dasar negara sekaligus sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia memiliki peran yang sangat penting. Nilai-nilai yang terkandung di , dalamnya seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilansosial, menjadi landasan moral dalam membentuk generasi muda yang cerdas,tangguh, dan bertanggung jawab. Namun selama ini Pancasila sering dianggap hanya sebagai hafalan. Lima sila yang diingat saat ujian, tapi jarang benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.Reaktualisasi nilai Pancasila berarti menghidupkan kembali makna dan penerapannya dalam konteks zaman sekarang. Bukan mengubah isinya, tapi menyesuaikan cara kita memahaminya agar tetap relevan.Sila pertama mengajarkan kita tentang nilai keimanan dan moralitas. Dalam dunia digital, ini bisa berarti menjaga etika saat berinteraksi, tidak menyebarkan kebencian, dan tetap menjunjung nilai kebaikan meskipun berada di ruang virtual.

Sila kedua tentang kemanusiaan mengingatkan kita untuk saling menghargai.Di media sosial, ini bisa diwujudkan dengan tidak melakukan cyberbullying, tidak merendahkan orang lain, dan tetap menjaga empati meskipun hanya lewat layar.Sila ketiga tentang persatuan juga sangat penting di era sekarang. Di tengah banyaknya perbedaan opini di internet, kita sering melihat perpecahan yang tajam.Padahal, perbedaan seharusnya tidak memecah, tapi justru memperkaya cara pandang.Begitu juga dengan sila keempat dan kelima yang mengajarkan tentang demokrasi dan keadilan.

Dalam kehidupan digital, ini bisa berarti menyampaikan pendapat secara bijak dan tidak menyalahgunakan kebebasan yang dimiliki.Di sinilah pentingnya nilai Pancasila sebagai “pegangan”. Bukan untuk membatasi, tapi untuk mengarahkan. Bukan untuk mengatur secara kaku, tapi untuk menjadi dasar dalam bersikap.Reaktualisasi ini memerlukan kerja sama dari berbagai pihak. Pemerintah bisa memperkuat integrasi teknologi dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan,sementara para pengembang teknologi dan pembuat konten perlu menciptakan materi yang mendukung nilai-nilai kebangsaan. Di sisi lain, keluarga dan lingkungan sosial memiliki tanggung jawab dalam memberikan contoh nyata penggunaan teknologi secara santun dan bertanggung jawab

Di media sosial, ini bisa diwujudkan dengan tidak melakukan cyberbullying, tidak merendahkan orang lain, dan tetap menjaga empati meskipun hanya lewat layar.Sila ketiga tentang persatuan juga sangat penting di era sekarang. Di tengah banyaknya perbedaan opini di internet, kita sering melihat perpecahan yang tajam.Padahal, perbedaan seharusnya tidak memecah, tapi justru memperkaya cara pandang.Begitu juga dengan sila keempat dan kelima yang mengajarkan tentang demokrasi dan keadilan. Dalam kehidupan digital, ini bisa berarti menyampaikan pendapat secara bijak dan tidak menyalahgunakan kebebasan yang dimiliki.Di sinilah pentingnya nilai Pancasila sebagai “pegangan”.

Bukan untuk membatasi, tapi untuk mengarahkan. Bukan untuk mengatur secara kaku, tapi untuk menjadi dasar dalam bersikap.Reaktualisasi ini memerlukan kerja sama dari berbagai pihak. Pemerintah bisa memperkuat integrasi teknologi dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan,sementara para pengembang teknologi dan pembuat konten perlu menciptakan materi yang mendukung nilai-nilai kebangsaan. Di sisi lain, keluarga dan lingkungan sosial memiliki tanggung jawab dalam memberikan contoh nyata penggunaan teknologi secara santun dan bertanggung jawab

DAFTAR PUSTAKA

Rahmawati, A. D. (2025). *Pancasila dalam pandangan Generasi Z: Esensi dan implementasi nilai-nilai dasar negara di era digital*. Jurnal Pusat Studi Pancasila dan Kebijakan, 1(2), 74–83. [https://doi.org/10.62734/jurnalpuspaka.v1i2.367](https://doi.org/10.62734/jurnalpuspaka.v1i2.367) ([jurnal.untag-banyuwangi.ac.id][1])

Salma, L. R., Apriliani, R. D., Syaida, R. N., Tyas, U. P., & Puspita, A. M. I. (2023). *Reaktualisasi Pancasila di era Gen-Z*. Civilia: Jurnal Kajian Hukum dan Pendidikan Kewarganegaraan, 2(6). [https://doi.org/10.572349/civilia.v2i6.1499](https://doi.org/10.572349/civilia.v2i6.1499) ([Jurnal ANFA][2])

Srihardianti, T., Lestari, D., Nurida, D. A. N., & Jamaica, B. (2026). *Revitalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai upaya membangun karakter Generasi Z di era digital*. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 12(1.C), 187–195. ([Jurnal Peneliti][3])

oleh :

Bintang Kesowo Wulan (J520220099)

Rengganis Gelistianti Rejeki (J520220063)

Prodi Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Dosen Pengampu: Drs. Priyono, M. Si

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |