Umat muslim membaca Alquran sambil menunggu waktu berbuka puasa saat mengikuti buka puasa bersama perdana di Masjid Istiqlal di Jakarta, Kamis (19/2/2026). Ibadah puasa pada bulan Ramadhan disebut bisa bermanfaat bagi kesehatan mental dan stabilitas emosi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ibadah puasa pada bulan Ramadhan disebut bisa bermanfaat bagi kesehatan mental dan stabilitas emosi. Di tengah padatnya kesibukan serta tekanan media sosial, momen Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk mengatur diri melalui mekanisme puasa.
Psikolog klinis Dian Kartika Amelia Arbil mengatakan puasa dan kesehatan mental memiliki keterkaitan. Secara ilmiah, puasa berhubungan dengan perubahan hormon dalam tubuh yang berdampak langsung pada kondisi psikis seseorang.
Dian menjelaskan beberapa penelitian menunjukkan ibadah puasa berpengaruh pada peningkatan hormon endorfin. Hormon ini berperan penting dalam memberikan rasa tenang serta membantu menurunkan tingkat stres secara alami.
"Meski beberapa studi menunjukkan hasil yang berbeda-beda, secara umum proses menahan diri saat berpuasa memicu tubuh untuk memproduksi hormon positif yang mendukung suasana hati yang baik," kata dia dalam keterangan tertulis dikutip pada Selasa (24/2/2026).
Dia menekankan bahwa inti utama dari ibadah puasa terletak pada latihan kontrol diri (self-control). Kemampuan ini menjadi dasar bagi kesehatan mental karena individu diajak untuk mengenali dan mengelola dorongan emosinya.
Menurut Dian, latihan kontrol dito juga menjadi modal utama dalam menjaga stabilitas emosi di tengah tekanan pekerjaan maupun tugas akademik yang sering memicu kecemasan. "Pada dasarnya puasa merupakan sebuah latihan untuk meningkatkan kontrol diri. Puasa melatih individu untuk menahan diri dalam melakukan sesuatu secara berlebih. Jika rutin dilakukan, hal ini akan berdampak signifikan pada penguatan kontrol diri seseorang," kata Dian.
.png)
3 hours ago
1
















































