REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ingatan adalah sebuah meja makan yang selalu siap dengan empat kursi, meski salah satu penghuninya tak pernah lagi pulang. Fragmen emosional dari novel bestseller karya Leila S Chudori, Laut Bercerita, bersiap menyapa publik dalam bentuk film panjang. Setelah penantian panjang, rumah produksi Pal8 Pictures akhirnya melengkapi teka-teki pemeran yang akan menghidupkan kelompok diskusi mahasiswa Winatra dalam film Laut Bercerita.
Jajaran aktor muda berbakat dipastikan akan mendampingi nama-nama besar yang telah diumumkan sebelumnya. Jika Reza Rahadian (Biru Laut), Yunita Siregar (Asmara Jati), Christine Hakim (Ibu), Arswendi Bening Swara (Ayah), Dian Sastrowardoyo (Kasih Kinanti), dan Eva Celia (Ratih Anjani) sudah lebih dulu diperkenalkan, kini daftar itu semakin solid. Kevin Julio resmi didapuk sebagai Daniel Tumbuan, disusul Ben Nugraha sebagai Alex Perazon, Dewa Dayana sebagai Sunu Dyantoro, Yoga Pratama sebagai Arifin Bramantyo, Nagra Kautsar sebagai Naratama, Natalius Chendana sebagai Julius, dan Afrian Arisandy sebagai Gala Pranaya.
Bagi sang sutradara, Yosep Anggi Noen, proses pemilihan pemain ini bukanlah perkara mudah. Baginya, film ini adalah proyek paling kompleks karena melibatkan jumlah karakter yang sangat banyak dengan latar belakang emosi yang berlapis.
Anggi harus memastikan bahwa setiap aktor mampu memikul beban sejarah sekaligus tetap terlihat manusiawi di depan kamera. “Prosesnya sangat menantang, ini film paling rumit karena casting-nya banyak banget," ujarnya saat peluncuran teaser Laut Bercerita di Plaza Indonesia, Jakarta, pada Selasa (25/2/2026).
Dia mengakui film Laut Bercerita tidak akan sama persis dengan novelnya. "Tidak memungkinkan semua difilmkan, jadi kami mengambil konteksnya seperti kekuatan persahabatan, keputusan untuk membuat gerakan bersama atas dasar kemanusiaan,” kata dia.
Film ini berlatar tahun 1991. Proses syuting yang berlangsung selama 37 hari di Semarang, Salatiga, Jakarta, dan Sukabumi merupakan tantangan teknis tersendiri. Anggi sangat teliti dalam urusan visual. Baginya, lokasi syuting adalah aktor itu sendiri yang harus mampu meyakinkan penonton bahwa mereka benar-benar berada pada tahun 90-an.
“Berat di riset. Salah sedikit bakal ‘bolong’ adegannya. Kalau salah, akting sebagus apapun orang nggak percaya,” kata Anggi.
.png)
2 hours ago
1
















































