REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lonjakan harga plastik nasional dinilai menyingkap persoalan mendasar dalam struktur industri petrokimia Indonesia yang selama ini belum terselesaikan. Ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku membuat industri domestik rentan setiap kali terjadi gejolak global.
Peneliti dan pengajar Universitas Indonesia Mohamad Dian Revindo menilai krisis plastik yang terjadi saat ini bukan semata akibat kenaikan harga global atau ketegangan geopolitik internasional, melainkan konsekuensi dari kelemahan struktural industri petrokimia nasional. “Secara umum, krisis plastik ini bermuara pada satu masalah utama: krisis plastik saat ini bukan sekadar gejolak harga dan isu geopolitik, ini adalah konsekuensi dari kelemahan struktural yang sudah lama diabaikan,” kata Revindo, Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan, kapasitas petrokimia hulu Indonesia menjadi yang terendah di kawasan ASEAN jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk. Sementara negara pesaing seperti Vietnam dan Thailand terus memperluas kapasitas industri hingga 2035, Indonesia belum memiliki ekspansi yang benar-benar terkonfirmasi. Kondisi tersebut membuat industri nasional berulang kali menghadapi respons darurat yang mahal setiap terjadi gangguan global. “Pergeseran sumber impor hanya memindahkan ketergantungan, bukan menyelesaikan masalah strukturalnya,” ujar Revindo.
Revindo menyoroti peralihan sumber impor nafta dari Timur Tengah ke Amerika Serikat yang membawa konsekuensi biaya logistik lebih tinggi. Sekitar 70 persen kebutuhan nafta nasional sebelumnya berasal dari Timur Tengah, namun gangguan rantai pasok mendorong diversifikasi impor ke wilayah yang jaraknya jauh lebih panjang. Ia menilai peningkatan jarak pengiriman hingga tiga kali lipat otomatis menaikkan ongkos pengapalan di tengah harga nafta global yang sudah meningkat tajam. “Seluruh kebutuhan nafta Indonesia masih bergantung pada impor,” kata Revindo.
Tekanan tersebut dinilai tidak hanya memukul sektor industri, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas neraca perdagangan dan cadangan devisa nasional. Meski Indonesia masih mencatat surplus perdagangan selama 71 bulan berturut-turut, tekanan impor energi dan bahan baku dinilai dapat mengurangi ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian geoekonomi global.
.png)
1 hour ago
1
















































