Salma Nurul Fadhilah
Agama | 2026-06-29 15:17:01
Oleh: Salma Nurul Fadhilah
Pernahkah kamu tanpa sadar membicarakan keburukan teman di belakangnya, lalu setelahnya muncul rasa tidak nyaman di dalam dada? Atau scrolling media sosial sambil mengomentari kesalahan orang lain bersama teman-teman? Itulah gibah salah satu penyakit hati yang paling sering kita lakukan, namun paling jarang kita sadari.
Dalam tradisi Islam, gibah bukan sekadar "ngomongin orang." Ia adalah penyakit jiwa yang menggerogoti dari dalam, pelan-pelan, tanpa terasa.
Apa Sebenarnya Gibah Itu?
Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat, "Tahukah kalian apa itu gibah?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Beliau pun bersabda: "Gibah adalah kamu menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci." Lalu ada yang bertanya, "Bagaimana jika yang aku katakan itu memang ada padanya?" Rasulullah menjawab: "Jika yang kamu katakan memang ada padanya, itulah gibah. Jika tidak ada, maka itu fitnah." (HR. Muslim)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menyebut gibah sebagai salah satu dari tujuh penyakit lidah yang paling berbahaya. Menurutnya, gibah lahir bukan dari lidah semata, melainkan dari penyakit hati yang lebih dalam yakni hasad (iri), kibr (sombong), dan riya' (pamer). Orang yang merendahkan orang lain, sejatinya sedang berusaha merasa lebih tinggi dari mereka.
Mengapa Gibah Terasa Nikmat?
Inilah paradoks gibah: ia terasa seperti kesenangan sosial, padahal ia adalah racun spiritual.
Di era media sosial, gibah bertransformasi menjadi komentar pedas di kolom Twitter, gosip dalam grup WhatsApp, atau "bedah kasus" seseorang yang sedang viral. Otak kita mendapatkan semacam dopamine rush saat bergabung dalam perbincangan semacam itu rasa "in", rasa diterima kelompok, rasa "kita lebih baik dari dia."
Para sufi menyebut kondisi ini sebagai dominasi nafs amarah jiwa yang condong pada hal-hal yang memuaskan ego sesaat. Nafs yang belum terlatih akan selalu mencari cara termudah untuk merasa superior, dan gibah adalah jalannya yang paling mudah.
Cara Tasawuf Mengatasi Gibah
Tradisi tasawuf tidak hanya mendiagnosis penyakit, ia juga menawarkan terapi jiwa yang sistematis. Berikut beberapa pendekatan yang bisa dipraktikkan:
1. Muraqabah Menghadirkan Kesadaran Ilahi
Muraqabah adalah latihan untuk selalu merasa diawasi oleh Allah dalam setiap tindakan, termasuk setiap kata yang keluar dari mulut. Imam Al-Qusyairi menjelaskan bahwa muraqabah bukan rasa takut semata, melainkan kesadaran mendalam bahwa Allah Maha Mendengar — bahkan bisikan hati sekalipun.
Praktis dalam kehidupan sehari-hari: sebelum membicarakan seseorang, tanyakan pada diri sendiri, "Apakah aku rela Allah mendengar ini?" Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi rem yang sangat kuat.
2. Muhasabah Audit Diri Sebelum Tidur
Ibn Ata'illah As-Sakandari berkata, "Barangsiapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak sempat mengurusi orang lain."
Muhasabah adalah praktik refleksi diri harian menghitung amal dan dosa sebelum tidur. Saat kita terbiasa melihat kelemahan diri sendiri, kita akan lebih mudah memaafkan kelemahan orang lain. Gibah biasanya tumbuh subur di hati yang tidak pernah bercermin.
3. Taubat dan Meminta Maaf
Dalam fiqh dan tasawuf, taubat dari gibah memiliki syarat khusus yang berat: selain bertobat kepada Allah, kita juga harus meminta maaf kepada orang yang kita gibahi atau setidaknya mendoakan kebaikan untuknya jika meminta maaf secara langsung berpotensi memperparah keadaan.Ini bukan hukuman, melainkan terapi. Saat kita benar-benar merasakan beratnya "mengembalikan" kehormatan seseorang yang kita ambil lewat kata-kata, kita akan jauh lebih berhati-hati sebelum berbicara.
4. Menjaga Lisan dengan Dzikir
Imam An-Nawawi menyarankan: "Obat lidah yang paling mujarab adalah menyibukkannya dengan dzikir." Lidah yang sibuk mengingat Allah tidak punya waktu untuk membicarakan aib orang lain. Ini bukan sekadar nasihat spiritual ini adalah penggantian kebiasaan (habit replacement) yang sangat relevan dengan psikologi modern.
Gibah di Era Digital: Tantangan Baru, Terapi yang Sama
Jika para ulama klasik berhadapan dengan gibah di majelis dan warung kopi, generasi kita berhadapan dengan gibah di Twitter, TikTok, dan grup chat. Mediumnya berbeda, tapi penyakitnya sama.
Yang membedakan adalah skala dan kecepatannya. Satu komentar gibah di media sosial bisa menjangkau ribuan orang dalam hitungan menit. Maka tanggung jawab spiritualnya pun berlipat ganda.
Tasawuf mengajarkan bahwa takhalli (mengosongkan diri dari sifat buruk) harus diikuti tahalli (menghiasi diri dengan sifat baik). Artinya, berhenti dari gibah saja tidak cukup perlu diisi dengan kebiasaan baru: lebih banyak diam, lebih banyak mendengar, lebih banyak berbaik sangka.
Penutup
Gibah adalah cermin ia menunjukkan kondisi batin kita lebih dari kondisi orang yang kita bicarakan. Saat kita merasa perlu membicarakan keburukan orang lain, itu tanda bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang belum selesai.
Tasawuf tidak mengajak kita untuk menjadi sempurna dalam semalam. Ia mengajak kita untuk jujur: bahwa jiwa ini perlu dirawat, dilatih, dan dibersihkan setiap hari satu kata pada satu waktu.Mulailah dari diam. Karena diam, dalam banyak keadaan, adalah awal dari kebijaksanaan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
1 hour ago
3














































