Harta Karun di Tempat Sampah: Italia Bangun 'Tambang Baru' dari Limbah Elektronik

4 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ponsel rusak, laptop bekas, hard disk usang, dan motor listrik yang berakhir di tempat sampah kini dipandang Eropa sebagai "tambang" baru bernilai strategis. Italia bersiap mengoperasikan pabrik pertama di Uni Eropa yang mampu mengekstraksi logam tanah jarang dari limbah elektronik dalam skala industri.

Langkah ini bukan sekadar proyek daur ulang. Di tengah persaingan global memperebutkan logam tanah jarang, Uni Eropa sedang mencoba mengurangi ketergantungannya pada pasokan dari Asia, terutama China. Pertanyaannya, bisakah sampah elektronik menggantikan tambang konvensional yang selama ini mendominasi pasokan dunia?

Jawaban itu mulai dibangun di Ceccano, sebuah kota kecil di antara Roma dan Napoli. Kementerian Lingkungan Hidup dan Keamanan Energi Italia telah memberikan lampu hijau bagi proyek INSPIREE, fasilitas yang akan menjadi pabrik industri pertama di Eropa untuk memulihkan unsur tanah jarang dari limbah peralatan listrik dan elektronik (waste electrical and electronic equipment/WEEE).

Mengapa proyek ini begitu penting? Karena logam tanah jarang kini menjadi salah satu bahan baku paling diburu di dunia. Unsur seperti neodymium, praseodymium, dan dysprosium digunakan dalam motor kendaraan listrik, turbin angin, hard disk komputer, pusat data, hingga berbagai teknologi pertahanan modern.

Tanpa logam tersebut, banyak teknologi masa depan tidak akan berjalan. Komisi Eropa bahkan memasukkan proyek INSPIREE ke dalam daftar 47 proyek strategis di bawah regulasi Critical Raw Materials Act. Status itu menunjukkan bahwa proyek ini tidak hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga keamanan industri dan daya saing ekonomi Eropa.

Yang membuat proyek ini menarik adalah sumber bahan bakunya. Bukan dari perut bumi. Bukan dari tambang terbuka. Melainkan dari tumpukan perangkat elektronik bekas yang selama ini dianggap limbah, sebagaimana diberitakan Euronews pada Kamis (18/6/2026).

Pada tahap awal, fasilitas percontohan di Ceccano hanya mampu mengolah sekitar 20 ton magnet permanen per tahun. Namun ketika pabrik industri beroperasi penuh, kapasitasnya diproyeksikan melonjak hingga 2.000 ton magnet setiap tahun dan menghasilkan sekitar 500 hingga 700 ton senyawa logam tanah jarang.

Lonjakan seratus kali lipat itu menunjukkan satu hal: Eropa sedang serius membangun tambang baru di atas permukaan tanah.

Prosesnya dimulai dengan memisahkan magnet dari perangkat elektronik bekas. Setelah itu material diproses menggunakan teknologi hidrometalurgi untuk mengekstraksi unsur tanah jarang dalam bentuk oksalat, oksida, dan karbonat yang siap digunakan kembali oleh industri.

Teknologi tersebut dikembangkan bersama Università degli Studi dell'Aquila. Menurut pengembangnya, metode ini menghasilkan dampak lingkungan yang jauh lebih rendah dibandingkan penambangan konvensional yang selama ini menjadi sumber utama logam tanah jarang dunia.

Di balik proyek ini juga berdiri sejumlah pemain besar industri Eropa. Erion, EIT RawMaterials, dan Itelyum terlibat dalam rantai pasok proyek, sementara Uni Eropa menggelontorkan pendanaan sekitar 3,2 juta euro atau setara Rp60 miliar melalui Program LIFE yang dikelola CINEA.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |