009_ Imamul Dzakwan
Pendidikan | 2026-06-21 18:56:24
Imamul Dzakwan*)
Pembelajaran tidak lagi cukup dipahami sebagai proses memindahkan pengetahuan dari guru ke peserta didik. Di era ketika informasi dapat diakses dalam hitungan detik, yang dibutuhkan bukan sekadar penerima informasi, melainkan pemikir yang mampu bertanya, menyelidiki, dan menemukan makna sendiri. Inilah ruh dari inquiry learning, sebuah desain pembelajaran yang menempatkan rasa ingin tahu sebagai mesin penggerak utama proses belajar.
Konsep Inquiry
Inquiry learning adalah pendekatan pembelajaran yang menempatkan rasa ingin tahu sebagai titik tolak utama. Berbeda dari model konvensional, peserta didik tidak diposisikan sebagai penerima informasi pasif. Mereka justru didorong untuk bertanya, mengamati, dan mencari jawaban sendiri. Proses inilah yang membuat belajar terasa lebih hidup dan bermakna. Pengetahuan tidak diberikan begitu saja, melainkan dibangun melalui pengalaman berpikir.
Menurut saya, kekuatan utama konsep ini terletak pada pergeseran orientasi belajar. Fokusnya bukan lagi sekadar apa yang harus diketahui peserta didik. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka menemukan pengetahuan itu sendiri. Pergeseran semacam ini menuntut keberanian untuk keluar dari zona nyaman pembelajaran instan. Namun di sinilah letak nilai pedagogis yang sesungguhnya.
Inquiry juga mengajarkan bahwa belajar adalah proses, bukan sekadar tujuan akhir. Kesalahan dan kebingungan dianggap bagian alami dari penemuan. Hal ini membuat peserta didik lebih toleran terhadap ketidakpastian. Mereka juga belajar menghargai proses berpikir, bukan hanya hasil akhir. Bagi saya, inilah fondasi penting bagi pembelajar sepanjang hayat.
Tahapan Inquiry
Secara umum, inquiry learning bergerak melalui rangkaian tahapan yang sistematis. Dimulai dari orientasi terhadap masalah yang ingin diselidiki. Kemudian dilanjutkan dengan perumusan pertanyaan atau hipotesis awal. Tahap berikutnya adalah pengumpulan data melalui berbagai bentuk penyelidikan. Setelah itu, data dianalisis untuk menemukan pola atau makna tertentu.
Tahapan terakhir biasanya berupa penarikan kesimpulan yang dipertanggungjawabkan secara logis. Meski demikian, urutan ini tidak selalu bersifat kaku dan linear. Peserta didik dapat kembali ke tahap sebelumnya jika menemukan kejanggalan data. Pertanyaan baru juga sering muncul di tengah proses penyelidikan. Fleksibilitas semacam ini justru memperkaya pengalaman belajar mereka.
Menurut pandangan saya, sifat siklis inilah yang membuat inquiry terasa autentik. Prosesnya menyerupai cara kerja ilmuwan dalam menemukan kebenaran. Bukan prosedur baku yang harus dijalani tanpa fleksibilitas. Guru perlu memahami hal ini agar tidak memaksakan tahapan secara mekanis. Pemahaman ini penting demi menjaga esensi inquiry tetap hidup di kelas.
Peran Guru dan Peserta Didik
Dalam inquiry learning, peran guru mengalami transformasi yang cukup mendasar. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber kebenaran di kelas. Posisinya bergeser menjadi fasilitator yang merancang skenario keingintahuan. Guru melontarkan pertanyaan pemantik dan memberi umpan balik yang membangun. Ia juga menjaga arah penyelidikan agar tetap produktif dan terarah.
Di sisi lain, peserta didik dituntut mengambil peran yang lebih aktif. Mereka bertanggung jawab penuh atas proses belajar yang mereka jalani. Inisiatif untuk bertanya dan mencari jawaban datang dari diri mereka sendiri. Keterlibatan semacam ini menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap pengetahuan yang diperoleh. Hal ini berbeda jauh dari pola belajar yang serba diarahkan guru.
Pergeseran peran ini, menurut saya, menjadi tantangan tersendiri bagi banyak guru. Terutama bagi mereka yang telah lama nyaman dengan pola ceramah. Namun justru di titik inilah transformasi pembelajaran sesungguhnya bermula. Guru perlu melepaskan kontrol penuh dan mempercayai proses berpikir peserta didik. Kepercayaan inilah yang menjadi kunci suksesnya pembelajaran berbasis inquiry.
Aktivitas Penyelidikan
Jantung dari inquiry learning terletak pada aktivitas penyelidikan itu sendiri. Aktivitas ini dimulai dari mengamati fenomena yang ada di sekitar. Kemudian peserta didik mengajukan pertanyaan kritis terhadap fenomena tersebut. Mereka juga merancang cara untuk mencari jawaban yang relevan. Bukti-bukti kemudian dikumpulkan untuk mendukung argumen yang dibangun.
Bentuk penyelidikan ini bisa sangat beragam tergantung konteks pembelajaran. Bisa berupa eksperimen sederhana, studi kasus, atau eksplorasi teks. Investigasi terhadap permasalahan nyata di sekitar peserta didik juga sangat relevan. Keberagaman bentuk ini memberi keleluasaan bagi guru untuk berkreasi. Hal ini menjadikan inquiry dapat diterapkan di hampir semua mata pelajaran.
Saya berpandangan bahwa kualitas inquiry tidak diukur dari kerumitan aktivitasnya. Yang lebih penting adalah sejauh mana aktivitas itu memicu pertanyaan lanjutan. Penyelidikan yang baik selalu meninggalkan jejak rasa ingin tahu baru. Ia tidak menutup proses berpikir dengan satu jawaban final saja. Justru keterbukaan inilah yang menjadi tanda keberhasilan sebuah aktivitas penyelidikan.
Implementasi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, inquiry learning dapat diwujudkan dengan beragam cara. Peserta didik dapat diajak menyelidiki struktur dan kaidah kebahasaan dalam suatu teks. Mereka juga bisa menelusuri makna tersirat dalam sebuah karya sastra. Investigasi terhadap penggunaan bahasa dalam konteks sosial tertentu juga sangat menarik. Semua bentuk kegiatan ini mendorong peserta didik berpikir lebih kritis dan reflektif.
Sebagai contoh, peserta didik dapat menyelidiki alasan penggunaan sudut pandang tertentu dalam cerpen. Mereka juga dapat menelaah perbedaan gaya bahasa pada beberapa teks berita sejenis. Proses penyelidikan semacam ini melatih kepekaan terhadap nuansa bahasa. Peserta didik tidak hanya membaca, tetapi juga mempertanyakan pilihan kata penulis. Kepekaan inilah yang sulit dicapai melalui metode pembelajaran konvensional semata.
Pendekatan ini jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar menghafal definisi unsur intrinsik. Peserta didik "menemukan" pola kebahasaan melalui pengalaman bernalar mereka sendiri. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara ini cenderung lebih melekat dan tahan lama. Mereka juga belajar mengaitkan teori bahasa dengan konteks penggunaannya yang nyata. Menurut saya, inilah arah pembelajaran Bahasa Indonesia yang seharusnya terus dikembangkan.
Penilaian Hasil Inquiry
Konsekuensi logis dari pendekatan inquiry adalah perubahan paradigma dalam penilaian. Penilaian tidak boleh berhenti hanya pada hasil akhir semata. Proses berpikir peserta didik juga harus menjadi bagian penting yang dinilai. Kualitas pertanyaan yang diajukan mencerminkan kedalaman pemahaman mereka. Ketepatan metode penyelidikan yang digunakan juga patut diperhatikan secara saksama.
Kemampuan peserta didik mempertanggungjawabkan kesimpulan yang mereka ambil juga tidak kalah penting. Instrumen seperti rubrik proses dapat digunakan untuk menangkap aspek ini. Portofolio dan jurnal refleksi juga sangat relevan untuk penilaian inquiry. Presentasi argumentatif memberi ruang bagi peserta didik menjelaskan alur berpikir mereka. Semua instrumen ini lebih kaya dibandingkan sekadar tes pilihan ganda.
Tes pilihan ganda hanya menangkap potongan akhir dari perjalanan berpikir yang panjang. Hal ini tentu tidak adil bagi proses penyelidikan yang telah dilalui. Menurut saya, inilah ujian sesungguhnya bagi guru dalam menerapkan inquiry. Guru harus berani menilai proses yang tidak selalu rapi dan terstruktur. Keberanian ini penting demi menghargai keaslian cara berpikir setiap peserta didik.
Inquiry learning, pada akhirnya, bukan sekadar strategi pembelajaran alternatif, melainkan undangan untuk mengembalikan kelas pada fitrahnya: tempat bertanya, bukan sekadar tempat menjawab. Tantangannya memang nyata. Mulai dari kesiapan guru, alokasi waktu, hingga budaya belajar yang masih sering berorientasi pada hasil instan. Namun, ketika diterapkan dengan konsisten, terutama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, inquiry learning berpotensi melahirkan generasi pembelajar yang tidak hanya pandai berbahasa, tetapi juga piawai bernalar dan berani mempertanyakan dunia di sekitarnya.
Penulis: Imamul Dzakwan
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Modern, Universitas Muhammadiyah Malang
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
8 hours ago
6

















































