R@hman _Al Hikmah
Agama | 2026-06-19 19:08:30
Ku tatap langit yang tak bertiang, membiru diiringi awan putih yang berlarian. Merenungi tentang ke-AKU-an diri yang tanpa sadar bisa menyakiti banyak orang. Ia tak pernah berkata sombong, namun *AKU* selalu hadir di setiap kalimatnya.Ia tak pernah berkata, "Akulah yang paling benar.” Namun semua kalimatnya bermuara ke sana.
Setiap diskusi berubah menjadi panggung pengalaman. Setiap ide orang lain sekadar pengantar menuju kisah tentang dirinya.Tak ada nada merendahkan, katanya, namun setiap kata membuat yang lain merasa lebih kecil dibandingkan dirinya.Ke-AKU-an itu rapi, dibungkus dengan untaian kata yang indah, dihiasi oleh banyaknya prestasi, diselipkan niat bahwa ini adalah "demi kebaikan.” Ia tidak membentak, tidak juga memaki, namun caranya menjelaskan membuat yang lain merasa belum layak berbicara.
Sebab hati yang sudah penuh gelar, pengalaman, dan pengakuan, tak lagi menyediakan kursi bagi kebenaran yang datang dari arah lain.Ia tak bermaksud menutup telinga, hanya saja suaranya sendiri terlalu nyaring, hingga bisikan nasihat tak sempat singgah dihatinya.Ke-AKU-an itu halus, ia menyamar sebagai pengalaman, menjelma menjadi prestasi, bersembunyi di balik niat baik dan rasa ingin membantu.Namun diam-diam, ia mengerdilkan ruang belajar, mematikan keberanian bertanya, dan mengajarkan bahwa yang lain cukup menjadi penonton.
Nasihat datang dengan lembut, tapi terpental oleh dinding yang bernama "merasa sudah cukup".Padahal kebijaksanaan tidak lahir dari berdiri paling depan, melainkan dari kesediaan untuk sesekali berdiri di belakang dan belajar.Maka jika engkau merasa semua orang salah arah,barangkali bukan karena mereka yang salah, melainkan karena *AKU* terlalu ingin memimpin tanpa mau mendengar.Padahal hati yang penuh dengan “AKU”, tak lagi memiliki ruang untuk “KITA”.Ia lupa, bahwa ilmu tumbuh di tanah yang rendah, dan hikmah hanya singgah pada hati yang bersedia menunduk.Tak ada yang salah dengan pengalaman, yang salah adalah saat ia menjadikan mahkota untuk meninggikan diri dan merendahkan yang lain.
Maka jika suatu hari nasihat terasa tak menyentuh, barangkali bukan karena pesannya, Melainkan Karena hati terlalu sibuk membenarkan diri.Dan mungkin, yang paling sulit dalam hidup bukan mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan *AKU* yang diam-diam ingin selalu menang.Sesungguhnya ke-AKU-an yang pantas besar dan hebat adalah ke-AKU-an yang dimiliki Allah, sebagaimana firman-Nya :إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ"Sesungguhnya *AKU* ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain *AKU*, maka sembahlah *AKU* dan dirikanlah shalat untuk mengingat *AKU*.
(Ta Ha 20 : 14)
Barakhallahu fhiikum
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
1 hour ago
1














































