Terpukul Harga Solar, Ratusan Nelayan Muara Angke tak Berlayar

13 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Noor Alfian Choir, Jurnalis Republika

Di dermaga Muara Angke, deretan kapal nelayan tampak lebih banyak terikat daripada berlayar. Tak seperti biasa, suara mesin berbahan bakar solar tak bersaut-sautan nyaring terdengar dari kapal-kapal nelayan.

Tali-tali tambat yang biasanya hanya menjadi penahan sementara, kini seperti menjadi simbol jeda panjang aktivitas melaut para nelayan. Bukan karena cuaca buruk atau musim paceklik, melainkan karena satu hal yang kian membebani: harga solar non-subsidi yang melonjak tinggi —dan mulai terasa sejak sekitar satu hingga satu setengah bulan terakhir.

Salah satu kapten kapal, Hasanudin (51 tahun) seorang nelayan yang telah 15 tahun menggantungkan hidup dari laut, mengaku lonjakan harga itu mulai dirasakan setelah situasi global memanas akibat konflik di Timur Tengah. “Sejak perang itu deh, sekitar sebulan lebih lah. Mulai kerasa mahal dan susah,” katanya saat ditemui Republika, di Muara Angke, Selasa (5/5/2026).

Sejak saat itu, seperti dirinya dan banyak rekan memilih berhenti sementara karena tak lagi sanggup menutup biaya operasional. Untuk sekali melaut, kapal Hasanudin membutuhkan sekitar 20 ribu liter solar. Dengan harga non-subsidi yang menurutnya kini bisa menembus Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per liter di lapangan, membuat biaya operasional membengkak drastis.

“Habis buat bayar BBM saja. Belum gaji ABK, belum perbekalan,” katanya sembari membenahi kapalnya.

Menurutnya, kondisi ini membuat banyak kapal berukuran besar memilih tidak berangkat. Hasanudin menyebut jumlahnya bukan lagi hitungan jari. “Banyak, lebih dari belasan. Banyak yang kapalnya diikat, nggak jalan,” katanya.

Beberapa nelayan bahkan beralih menjadi anak buah kapal (ABK) di kapal yang lebih kecil agar tetap mendapat penghasilan. Dampaknya tidak hanya dirasakan di laut, tetapi juga di darat.

Ketika kapal tidak berlayar, roda ekonomi keluarga nelayan ikut tersendat. Hasanudin menggambarkan situasi pelik ini dengan sederhana namun dalam. “Kalau nggak berangkat, keluarga mau makan apa?” katanya sembari sesekali melihat laut di kejauhan.

Dalam kondisi normal, satu kali perjalanan melaut bisa memakan waktu dua hingga tiga bulan, dengan wilayah tangkapan hingga perairan Natuna. Namun kini, banyak kapal memilih menunggu harga solar turun sebelum mengambil risiko berlayar.

Fenomena serupa juga diungkapkan Sulaeman (49), yang menyebut pasokan solar kini tak hanya mahal, tetapi juga sulit didapat sejak periode yang sama. Menurutnya, dalam kondisi seperti ini, keputusan untuk melaut menjadi taruhan besar bagi nelayan.

“Kadang nunggu setengah bulan, kadang sampai 20 hari baru dapat. Kalau ada solarnya kadang sulit dapatnya juga,” katanya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |