Rahasia Asyhurun Ma'lumat, Rafats, Fusuq, dan Jidal, Apa Artinya?

2 days ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA Di antara seluruh ibadah dalam Islam, haji berdiri sebagai pengalaman yang paling utuh, sekaligus paling menuntut. Ia bukan sekadar rangkaian ritual yang dijalankan dalam hitungan hari, tetapi perjalanan panjang yang menguji manusia secara menyeluruh. Dalam haji, seseorang tidak hanya diminta hadir dengan niat, tetapi juga dengan kesiapan yang lengkap, harta yang cukup, tubuh yang kuat, dan jiwa yang lapang.

Berbeda dengan ibadah lain yang bisa dilakukan dalam ruang privat, haji adalah perjumpaan besar umat manusia. Ia mempertemukan beragam latar belakang, bahasa, dan budaya dalam satu titik yang sama. Di sanalah ibadah ini menemukan maknanya sebagai latihan totalitas, sebuah pengosongan diri dari ego, sekaligus pengisian kembali dengan kesadaran yang lebih dalam.

Pertama, haji menuntut modal harta. Perjalanan menuju Tanah Suci bukan perjalanan ringan. Ia membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, dalam perspektif spiritual, harta yang dikeluarkan bukan sekadar pengeluaran, melainkan bentuk pelepasan keterikatan. Seorang calon jamaah belajar bahwa tidak semua yang dimiliki harus digenggam, sebagian harus dilepas demi mendekat kepada Yang Maha Memiliki.

Kedua, haji membutuhkan modal jasmani yang sehat. Rangkaian ibadah, dari thawaf hingga sa’i, dari wukuf hingga melontar jumrah, adalah aktivitas fisik yang menuntut daya tahan. Dalam keramaian jutaan manusia, tubuh menjadi alat utama untuk bertahan sekaligus beribadah. Di sinilah manusia menyadari keterbatasannya, bahwa ibadah tidak hanya soal hati, tetapi juga kesiapan raga untuk tunduk dan patuh.

Namun, di atas semua itu, haji sejatinya bertumpu pada modal batin yang tenang. Tanpa ketenangan jiwa, seluruh rangkaian ibadah dapat berubah menjadi beban. Dalam suasana padat, panas, dan penuh dinamika, hanya hati yang lapang yang mampu menjaga makna ibadah tetap hidup. Di titik ini, haji menjadi cermin paling jernih tentang siapa diri manusia sebenarnya.

Gambaran tentang totalitas ini menemukan landasannya dalam firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 197:

ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

Al-ḥajju asyhurum ma’lūmāt, fa man faraḍa fīhinnal-ḥajja fa lā rafatsa wa lā fusūqa wa lā jidāla fil-ḥajj, wa mā taf‘alū min khairin ya‘lamhullāh, wa tazawwadu fa inna khairaz-zādit-taqwā, wattaqūni yā ulil-albāb.

Artinya, “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk berhaji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam haji. Apa pun kebaikan yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.”

Dalam tafsir Mafātīḥ al-Ghayb, Fakhruddin ar-Razi melihat ayat ini bukan sekadar aturan teknis, melainkan kerangka besar pendidikan spiritual. Penetapan waktu haji, menurutnya, bukan hanya batasan, tetapi bentuk disiplin ilahi yang mengajarkan keteraturan dalam beribadah.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |