REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Review Kurikulum yang berlangsung hybrid, Jumat (12/06/2026).
Dekan FAI UMJ, Prof. Dr Sopa menegaskan peninjauan kurikulum tidak hanya dilakukan untuk memenuhi ketentuan perguruan tinggi, tetapi juga sebagai upaya menjawab kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang. “Kurikulum yang disusun harus mampu mengintegrasikan literasi keislaman dengan kebutuhan industri serta tetap menjadikan nilai-nilai Islam Berkemajuan sebagai landasan utama dalam proses pembelajaran,” kata dia.
Ketua Program Studi KPI FAI UMJ, Muhammad Choirin mengungkapkan rasa bangganya atas terselenggaranya FGD yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi, praktisi, hingga mitra industri. Menurutnya, kehadiran para narasumber tersebut menunjukkan adanya perhatian dan dukungan terhadap pengembangan Prodi KPI FAI UMJ.
“Kegiatan ini bukan sekadar formalitas akademik. Ini adalah komitmen kami untuk terus berbenah, agar Prodi KPI FAI UMJ benar-benar mampu melahirkan insan komunikasi Islam yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga cakap secara profesional dan siap menghadapi tantangan era digital,” kata Choirin.
Sesi utama diawali dengan pemaparan dari Ketua Umum Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Askopis), Mohammad Zamroni. Ia menjelaskan body of knowledge dan identitas keilmuan Prodi KPI dalam lanskap disiplin ilmu komunikasi yang menjadi dasar dalam menentukan arah pengembangan kurikulum.
Wakil Dekan Fakultas Studi Islam dan Peradaban UMY, Twediana Budi Hapsari memaparkan tahapan dan proses review kurikulum secara sistematis. Ia menilai bahwa tracer study memiliki peran penting dalam setiap proses pembaruan kurikulum karena mampu memberikan gambaran mengenai kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah sekaligus Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi menyampaikan perubahan besar yang terjadi pada industri media akibat transformasi teknologi digital. Ia menyoroti pentingnya kemampuan mahasiswa KPI dalam mengintegrasikan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai perangkat dakwah yang adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Perspektif industri turut disampaikan oleh Kepala Biro Komunikasi Publik (BKPU) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI, Ndari Rumi Widyawati. Ia menjelaskan Prodi KPI FAI UMJ telah menjadi mitra strategis BAZNAS dalam mendakwahkan syariat zakat kepada masyarakat luas.
“Sejumlah alumni KPI FAI UMJ telah bergabung sebagai amil di BAZNAS. Hal ini membuktikan bahwa kompetensi lulusan program studi ini relevan dan dibutuhkan,” ujarnya.
Masukan lain datang dari praktisi media sekaligus Direktur TV Muhammadiyah, Makroen Sanjaya. Ia menilai kemampuan teknis, keterampilan komunikasi, dan teamwork merupakan aspek penting yang harus dimiliki mahasiswa untuk dapat bersaing di dunia media.
FGD ini juga menghadirkan dua alumni Prodi KPI FAI UMJ, yakni Fathi Ihsan dan Sintia Nur Cahyani. Keduanya memberikan testimoni serta masukan berdasarkan pengalaman mereka di dunia kerja sehingga dapat menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan kurikulum yang lebih sesuai dengan kebutuhan profesi.
.png)
6 hours ago
5















































