Ayah yang Hilang di Rumahnya Sendiri

1 hour ago 1

Image Abdul hadi tamba

Agama | 2026-08-06 05:43:58

Oleh Abdul Hadi Tamba

Ayah yang hilang dirumahnya sendiri.

Kenapa anak ayam tak pernah jalan dengan bapaknya ?

Pelajaran tasawuf tentang ayah yang hilang dirumahnya sendiri.

Pernahkah kau perhatikan ?

Di halaman rumah, di pasar, di pematang sawah.

Kita selalu melihat anak-anak ayam berjalan beriringan di belakang induknya.

Berbaris rapi.

Patuh.

Berlarian kecil mengejar ibunya.

Tapi kita tidak pernah melihat anak ayam berjalan dengan bapaknya.

Ke mana bapaknya ?

Ke mana ayam jantan itu ?

Ia ada.

Ia berdiri gagah di atas pagar, jenggernya merah menyala, kokoknya paling keras se-kampung.

Semua orang tahu ia jago.

Tapi tidak ada satu pun anak yang mau berjalan di sampingnya.

Fenomena kecil ini, jika direnungkan dengan hati tasawuf, adalah tamparan paling lembut sekaligus paling menyakitkan untuk kita, para ayah.

Ayam jantan itu hanya pendonor, bukan ayah.

Dalam ilmu biologi, tugas ayam jantan memang hanya satu, membuahi.

Setelah itu selesai.

Ia tidak mengerami telur.

Ia tidak menahan lapar 21 hari di atas telur-telurnya.

Ia tidak mengajarkan anaknya cara mematuk cacing.

Semua itu dilakukan oleh induk betina sendirian.

Ia yang mengerami dengan sabar.

Ia yang rela tidak makan demi menghangatkan telurnya.

Ia yang setelah menetas, memanggil anak-anaknya dengan suara lembut _"tok... tok... tok..."_ jika menemukan sebutir beras.

Ia yang mengembangkan sayapnya lebar-lebar saat hujan turun dan elang mengintai, membiarkan punggungnya basah asal anak-anaknya tetap hangat.

Sementara sang jantan ?

Ia sibuk berkelahi dengan jantan lain.

Sibuk mencari betina baru.

Sibuk berkokok menunjukkan siapa penguasa kandang.

Wajar jika anak ayam tidak mengenal bapaknya.

Karena bapaknya memang tidak pernah hadir untuk dikenal.

Inilah potret ayah yang hilang di Zaman ini.

Berapa banyak ayah di zaman ini yang nasibnya seperti ayam jantan itu ?

Ada di rumah, tapi tidak hadir.

Ada raganya, tapi tidak ada jiwanya.

Ia ada di ruang tamu, tapi matanya hanya untuk handphone.

Anaknya memanggil "Ayah...", dijawab tanpa menoleh, "Iya, sebentar.

Ia merasa sudah menjadi ayah yang hebat karena sudah memberi uang jajan, sudah membayar SPP, sudah membelikan motor.

Padahal anaknya tidak butuh uangnya saja.

Anaknya butuh suaranya, butuh pundaknya, butuh teladan shalatnya.

Imam Al-Ghazali pernah menangis ketika membahas ini di dalam Ihya Ulumuddin.

Beliau berkata :

"Anak adalah amanah telanjang di tangan orang tuanya.

Hatinya yang masih suci adalah permata yang berharga.

Jika dibiasakan dengan kebaikan, ia akan tumbuh menjadi baik dan bahagia di dunia dan akhirat.

Jika dibiarkan seperti hewan ternak, ia akan celaka.

Siapa yang membiasakannn ?

Ayah dan Ibu.

Bukan hanya Ibu.

Jangan salahkan anak ayam jika ia liar, jika induknya tidak pernah mengajarinya.

Dalilnya alqur'an ayah adalah pemimpin bukan penonton.

Allah tidak pernah menyebut ayah sebagai "pemberi nafkah" saja.

Allah menyebut ayah sebagai "penjaga".

Wahai orang-orang yang beriman !

Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.

(QS. At-Tahrim: 6).

Perhatikan, Ayat ini diawali dengan "Quu Anfusakum" - jagalah dirimu dulu.

Baru "Wa Ahlikum" - dan keluargamu.

Para ulama tafsir menjelaskan, yang pertama kali diperintahkan menjaga keluarga di sini adalah ayah sebagai kepala keluarga.

Tugas ayah bukan hanya menjaga perut keluarga dari lapar, tapi menjaga hati dan akidah keluarga dari api neraka.

Bagaimana mau menjaga dari api neraka, jika ayahnya sendiri tidak pernah mengajarkan wudhu yang benar ?

Bagaimana mau menjaga, jika ayahnya sendiri tidak pernah membangunkan anaknya untuk shalat Subuh karena takut mengganggu tidurnya ?

Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabar dalam mengerjakannya.

(QS. Thaha: 132)

Ayat ini turun bukan untuk ibu.

Perintah "Wamur Ahlaka" ini, secara bahasa ditujukan kepada pemimpin laki-laki.

Ayah lah yang wajib berdiri di depan pintu kamar anaknya jam 5 pagi dan berkata dengan cinta, "Nak, shalat dulu ya.

Jika tidak, maka ia adalah ayam jantan yang hanya bangga karena berkokok paling keras, tapi tidak pernah membangunkan keluarganya untuk berkokok memuji Allah.

Hadis pendukung dan fatwa ulama tentang ayah yang lalai.

Rasulullah SAW, manusia paling sibuk mengurus umat, masih sempat menjadi ayah terbaik di dunia.

Ini yang membuat kita malu.

1. Hadis Ancaman Bagi Ayah yang Lalai.

Tidaklah seorang hamba yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin rakyatnya (termasuk keluarganya), lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya (tidak mendidiknya), melainkan Allah haramkan surga atasnya.

(HR. Bukhari & Muslim).

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan hadis ini :

Menipu keluarga yang paling besar adalah membiarkan mereka bodoh tentang agama.

Memberi mereka makan enak adalah kebaikan, tapi membiarkan mereka tidak tahu cara shalat adalah pengkhianatan.

2. Fatwa Umar bin Khattab RA.

Suatu hari Umar memanggil seorang ayah yang anaknya durhaka.

Umar ingin memarahi anak itu.

Tapi anak itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, apakah anak punya hak atas ayahnya ?

Umar menjawab, "Ya, memilihkan ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarkannya Al-Qur'an.

Anak itu berkata, "Ayahku tidak melakukan satu pun darinya.

Ibuku adalah budak hitam, namaku adalah Ju'al (kumbang hitam), dan ia tidak pernah mengajarkanku satu huruf pun dari Al-Qur'an.

Maka Umar menoleh kepada sang ayah dan berkata, *"Engkau telah durhaka kepada anakmu sebelum ia durhaka kepadamu.

Kalimat Umar ini harus kita pahat di dinding rumah kita.

Penutup :

Jadilah induk ayam,jangan jadi ayam jantan.

Hari ini, pulanglah.

Jangan jadi ayam jantan yang hanya berdiri gagah di atas pagar sambil berkokok.

Jadilah seperti induk ayam betina itu.

Yang mungkin tidak gagah, tidak berisik, bulunya kusam karena debu tanah.

Tapi sayapnya selalu terbuka.

Kasihnya selalu ada.

Suaranya selalu memanggil anaknya kepada kebaikan.

Anak ayam itu tidak butuh ayah yang hebat di mata tetangga.

Ia hanya butuh ayah yang mau berjalan pelan bersamanya, mengajarkan mana cacing dan mana batu.

Sebelum anakmu lebih memilih berjalan dengan teman-temannya, dengan gadgetnya, dengan dunianya, daripada berjalan denganmu.

Peluklah mereka mulai saat ini.

Dan bisikkan, "Maaf ya Nak, Ayah kemarin sibuk jadi ayam jantan.

Mulai saat ini Ayah belajar jadi ayah beneran.

Semoga Allah mengampuni kita semua, para ayah yang masih belajar.

Wallahu A'lam Bisshawab.

Untuk para ayah yang membaca tulisan ini sampai akhir, tulis di kolom komentar: "Ya Allah, Jadikan Aku Ayah yang Hadir, Bukan Hanya Ada".

Biar kita saling menguatkan dan malaikat mencatat janji kita ini.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |