Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) menunjukkan ikan sapu-sapu yang berhasil di tangkap saat operasi pembersihan di Kali Cideng Plaza Indonesia, Jakarta, Jumat (17/4/2026). Pemprov DKI Jakarta membersihkan sejumlah sungai dan saluran air dari ikan sapu-sapu secara serentak di lima wilayah kota administrasi untuk menekan populasinya yang dinilai mengganggu ekosistem perairan Jakarta.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Triyanto menyebutkan ikan sapu-sapu yang hidup di ekosistem air tawar Indonesia memiliki logam berat yang berbahaya jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Ditemui di Kantor BRIN, Jakarta, Kamis (30/4/2026), Triyanto menyebutkan dampak negatif logam berat yang terkandung pada ikan sapu-sapu baru terasa pada tubuh manusia, jika manusia tersebut mengonsumsi hingga delapan kilogram daging ikan sapu-sapu per minggu, dalam jangka waktu yang panjang.
"Jadi masyarakat yang sudah terlanjur mengonsumsi atau tidak tahu (pernah) makan siomai yang mengandung daging ikan sapu-sapu, nggak usah khawatir, nggak usah cemas ya," katanya.
Meski demikian, Triyanto menggarisbawahi dirinya bukan menganggap sepele soal konsumsi daging ikan sapu-sapu. Adapun dirinya sebagai peneliti meminta kepada masyarakat untuk mewaspadai daging ikan sapu-sapu pada makanan olahan ikan yang kerap digunakan oleh oknum pedagang yang berbuat curang.
"Yang penting kita lebih peduli. Kita tanya sama penjualnya, 'mohon maaf bang ini dagingnya sehat atau nggak?', begitu ya," ujarnya.
Triyanto juga menyebutkan sejatinya ikan sapu-sapu sama dengan ikan lainnya yang mengandung protein, karbohidrat, dan lemak yang memang dibutuhkan oleh manusia. Namun demikian, ia menyebut hampir tidak ada ikan sapu-sapu yang dipastikan bersih, karena sifat alaminya yang memakan segala, termasuk menyerap logam berat.
Triyanto menjelaskan logam berat tersebut tidak akan keluar melalui proses ekskresi dalam bentuk feses, namun justru masuk ke dalam hati melalui saluran pencernaan, dan kemudian menjadi daging karena protein yang mengikat logam berat.
"Logam berat ini sifatnya bioakumulasi, dia tidak akan berkurang. Tapi karena sudah dipindah ke air yang bersih, (kandungannya) tidak akan nambah. Nah selama dia terkontrol di air bersih, (logam berat) yang sudah terserap itu tetap di situ," kata Triyanto menguraikan.
sumber : Antara
.png)
1 hour ago
2
















































