REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak masyarakat masih menganggap biaya kesehatan sebagai pengeluaran yang hanya muncul ketika sakit. Padahal, tanpa perencanaan yang baik, kebutuhan kesehatan dapat menjadi salah satu faktor yang mengganggu kondisi keuangan keluarga maupun individu.
Financial Expert Aliyah Natasya mengatakan biaya kesehatan perlu dipandang sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Menurut dia, risiko kesehatan dapat terjadi kapan saja dan sering kali datang tanpa dapat diprediksi.
“Banyak orang fokus menyiapkan dana untuk kebutuhan konsumsi, pendidikan, atau investasi, tetapi belum menjadikan kesehatan sebagai prioritas dalam perencanaan keuangan. Padahal ketika kondisi kesehatan terganggu, dampaknya tidak hanya pada fisik tetapi juga kondisi finansial,” ujar Aliyah dalam peluncuran fitur U-aang di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Aliyah menjelaskan biaya pemeriksaan kesehatan, pengobatan, hingga perawatan medis cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, masyarakat perlu mulai membangun kebiasaan mengalokasikan dana kesehatan sejak usia produktif.
Menurut dia, generasi muda sering merasa masih sehat sehingga menunda persiapan dana kesehatan. Padahal, semakin dini seseorang mempersiapkan kebutuhan tersebut, semakin ringan beban finansial yang harus ditanggung di kemudian hari.
“Menyiapkan dana kesehatan bukan berarti menunggu sakit. Justru persiapan dilakukan ketika kondisi masih sehat agar ketika risiko muncul, kita tidak perlu mengorbankan kebutuhan finansial lainnya,” katanya.
Aliyah menilai pengelolaan kesehatan dan keuangan kini semakin saling berkaitan. Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, menjaga pola hidup sehat, serta memiliki perencanaan keuangan yang baik dapat membantu masyarakat mengurangi risiko pengeluaran besar yang tidak terduga.
Ia menambahkan biaya kesehatan yang tidak dipersiapkan berpotensi mengganggu stabilitas keuangan keluarga, mulai dari penggunaan dana darurat secara berlebihan hingga penundaan berbagai tujuan keuangan lainnya.
Karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan mencatat kebutuhan kesehatan dalam anggaran bulanan, memiliki perlindungan kesehatan yang memadai, serta menyisihkan dana khusus untuk kebutuhan medis di masa mendatang.
“Perencanaan keuangan yang sehat tidak hanya berbicara tentang menambah aset, tetapi juga bagaimana kita mengantisipasi risiko yang dapat mengganggu kondisi finansial. Salah satunya adalah risiko kesehatan,” ujar Aliyah.
Dalam kesempatan yang sama, PT Prodia Digital Indonesia bersama blu by BCA Digital meluncurkan fitur pembayaran digital U-aang yang terintegrasi dalam aplikasi U by Prodia. Fitur ini memungkinkan pengguna melakukan pembayaran berbagai layanan kesehatan, mulai dari pemeriksaan laboratorium, vaksinasi, konsultasi kesehatan, hingga pembelian produk kesehatan secara lebih praktis dalam satu aplikasi.
AVP Product PT Prodia Digital Indonesia Christian Christopher mengatakan kehadiran U-aang merupakan bagian dari upaya mempermudah masyarakat mengakses layanan kesehatan digital tanpa proses yang rumit. Menurut dia, kemudahan transaksi diharapkan dapat mendorong masyarakat lebih rutin memantau dan menjaga kondisi kesehatannya.
Sementara itu, Head of Digital Business PT Bank Digital BCA Edwin Tirta mengatakan kolaborasi melalui layanan Bank-as-a-Service (BaaS) memungkinkan integrasi antara layanan kesehatan dan keuangan digital dalam satu ekosistem. Melalui fitur tersebut, pengguna tidak hanya dapat melakukan pembayaran layanan kesehatan, tetapi juga memanfaatkan berbagai layanan perbankan digital secara lebih mudah dan terintegrasi.
.png)
1 hour ago
2

















































