Menhan AS Sebut Nabi Islam Delusional, Jadi Alasan Serang Iran

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Menteri pertahanan alias Menteri Perang AS Pete Hegseth menyebut alasan Iran harus diserang karena menganut “delusi kenabian Islam”. Pernyataan tersebut dikecam karena dinilai memicu tendensi perang agama.

Hegseth mengatakan hal itu dalam pidatonya pada Senin waktu AS. “Rezim gila seperti Iran, yang sangat bergantung pada delusi Islam yang bersifat kenabian, tidak dapat memiliki senjata nuklir,” kata dia. Hal itu ia sampaikan saat membenarkan operasi militer besar AS melawan Teheran yang diperintahkan oleh Presiden Donald Trump.

Pernyataan Hegseth agaknya menyindir umat Islam di Iran yang kebanyakan menganut aliran Syiah yang memercayai bakal datangnya Imam Mahdi. Kepercayaan itu, seperti juga diyakini Ahlussunnah, berasal dari hadits Nabi Muhammad.

Berbicara pada konferensi pers, Hegseth mengatakan operasi tersebut, yang diluncurkan dua hari lalu di bawah perintah langsung Trump, adalah “operasi udara paling mematikan, paling kompleks dan paling tepat dalam sejarah.” 

Dia menuduh kepemimpinan Iran melancarkan apa yang disebutnya perang selama puluhan tahun melawan Amerika Serikat melalui kekuatan proksi dan serangan terhadap sasaran-sasaran Amerika di Timur Tengah. “Kami tidak memulai perang ini, namun di bawah kepemimpinan Presiden Trump, kami menyelesaikannya,” kata Hegseth. 

Pesan Menteri Perang AS kepada militer AS yang dilansir pada Senin (2/4/2026).

“Jika Anda membunuh orang Amerika, jika Anda mengancam orang Amerika di mana pun di dunia, kami akan memburu Anda tanpa permintaan maaf dan tanpa ragu-ragu, dan kami akan membunuh Anda,” tambahnya. 

Hegseth mengatakan Trump telah menarik garis yang jelas setelah bertahun-tahun melakukan apa yang disebutnya sebagai sikap agresif Iran dan menegaskan kembali bahwa Washington tidak akan mengizinkan Teheran memperoleh senjata nuklir.

Hegseth lama dikenal sebagai komentator televisi yang sangat anti-Islam. Selain menulis buku yang mendorong Perang Salib baru terhadap umat Islam, ia juga punya tato bertuliskan “kafir” dalam tulisan Arab di lengannya. Ia tetap ditunjuk Trump meski sebagian anggota parlemen keberatan dengan rekam jejaknya tersebut. Sejak ia menjabat, nama resmi menteri pertahanan (secretary of defense) diubah menjadi menteri perang (secretary of war).

Lembaga advokasi Islam di Amerika, CAIR mengecam retorika Hegseth tersebut. “Setiap orang Amerika harus sangat terganggu dengan retorika 'perang suci' yang dilaporkan digunakan oleh Menteri Hegseth, Benjamin Netanyahu dan bahkan beberapa komandan militer AS untuk membenarkan perang terhadap Iran,” tulis mereka.

Lembaga itu menyinggung Netanyahu yang sekali lagi menggunakan kisah Alkitab tentang Amalek – yang menyatakan bahwa Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk membunuh setiap pria, wanita, anak-anak dan hewan di negara kafir yang menyerang mereka – untuk membenarkan pembunuhan massal Israel terhadap warga sipil di Iran, seperti yang terjadi di Gaza. 

“Sangat tidak bisa diterima jika para pejabat dan komandan militer AS menganut retorika berbahaya serupa, yang berisiko mengubah perang ilegal dan mematikan ini menjadi perang agama,” tulis lembaga itu dalam pernyataannya.

Komentar Hegseth yang mengejek tentang ‘khayalan kenabian Islam’, yang jelas-jelas mengacu pada kepercayaan Syiah tentang kemunculan tokoh menjelang akhir zaman, menurut CAIR tidak dapat diterima. “Begitu pula dengan para komandan militer AS yang memberi tahu pasukannya bahwa perang dengan Iran adalah langkah alkitabiah menuju Armageddon. Perang ilegal ini harus diakhiri, begitu pula retorika agama berbahaya yang digunakan oleh semua orang mulai dari Pete Hegseth hingga Benjamin Netanyahu untuk membenarkannya.”

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |