Wani Maler
Edukasi | 2026-04-26 22:24:59
Oleh S. Wani Maler
Dosen Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Sejarah Universitas Andalas
(Opini)
Sumber foto oleh Maxime Aubert, Griffith University
Selama bertahun-tahun, banyak orang percaya bahwa seni tertua di dunia berasal dari Eropa. Nama-nama seperti Lascaux atau Chauvet di Prancis sering disebut sebagai bukti awal kreativitas manusia. Dari sanalah muncul asumsi yang jarang dipertanyakan yaitu pusat seni prasejarah ada di Barat.
Namun temuan dari Sulawesi mengubah cara pandang itu. Di kawasan karst Maros-Pangkep, para peneliti menemukan lukisan gua yang bukan hanya tua, tetapi termasuk yang tertua di dunia. Salah satu yang paling terkenal adalah lukisan babi hutan di Leang Tedongnge, yang diperkirakan berusia setidaknya 45.500 tahun. Angka ini bukan spekulasi. Ia didasarkan pada penanggalan uranium-series pada lapisan kalsit yang menutupi gambar tersebut (Aubert, 2014).
Artinya sederhana, seni figuratif sudah ada di Indonesia puluhan ribu tahun lalu. Temuan ini penting karena ia menantang narasi lama. Selama ini, seni gua sering dianggap berkembang pertama kali di Eropa, lalu menyebar ke wilayah lain. Namun data dari Sulawesi menunjukkan bahwa manusia di Asia Tenggara juga menghasilkan ekspresi visual kompleks dalam periode yang sama, bahkan mungkin lebih awal. Dengan kata lain, kreativitas manusia tidak lahir di satu tempat saja.
Lukisan-lukisan di Sulawesi tidak hanya berupa hewan. Ada juga cap tangan manusia yang dibuat dengan teknik semprot pigmen. Tangan ditempelkan ke dinding gua, lalu pigmen ditiup di sekelilingnya, meninggalkan siluet. Teknik ini sederhana, tetapi maknanya dalam. Ia adalah jejak langsung kehadiran manusia (Aubert, 2021).
Tidak ada yang tahu pasti apa yang mereka pikirkan saat membuatnya. Apakah itu ritual? Penanda identitas? Atau sekadar ekspresi visual? Arkeologi tidak selalu memberi jawaban pasti. Tetapi ia memberi batas; apa yang bisa dibuktikan, dan apa yang masih menjadi kemungkinan.
Keberadaan lukisan ini jelas menunjukkan bahwa manusia prasejarah di Sulawesi sudah memiliki kemampuan simbolik yang tinggi. Mereka tidak hanya bertahan hidup. Mereka juga berpikir, mengingat, dan mungkin berimajinasi.
Lalu kenapa temuan ini tidak sepopuler lukisan gua di Eropa? Sebagian karena sejarah ilmu pengetahuan yang lama berpusat di Barat, publikasi dan eksposur yang tidak merata, dan sebagian lagi karena kita sendiri sering lebih akrab dengan cerita dari luar daripada dari wilayah kita.
Padahal secara ilmiah, Sulawesi kini diakui sebagai salah satu lokasi kunci dalam studi seni prasejarah global. Ini bukan soal kebanggaan semata. Ini soal posisi pengetahuan.
Ketika lukisan gua di Sulawesi diakui sebagai salah satu yang tertua di dunia, maka peta perkembangan budaya manusia ikut berubah. Asia Tenggara tidak lagi dilihat sebagai wilayah pinggiran, tetapi sebagai bagian penting dari proses lahirnya simbol dan seni (Brumm, 2021).
Mungkin kita tidak akan pernah tahu siapa yang membuat cap tangan itu. Tetapi satu hal pasti, mereka adalah manusia yang puluhan ribu tahun lalu sudah meninggalkan jejak yang masih bisa kita lihat hari ini.
Dan jejak itu ada di Sulawesi, Indonesia.
Referensi
Aubert, M., et al. (2014). Pleistocene cave art from Sulawesi, Indonesia. Nature, 514, 223–227.
Aubert, M., Brumm, A., et al. (2021). Earliest known figurative cave art from Sulawesi. Science Advances, 7(3), eabd4648.
Brumm, A., et al. (2021). Oldest cave art found in Sulawesi. Science Advances.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
2 hours ago
2















































