Emotional eating (ilustrasi). Banyak orang tanpa sadar menjadikan makanan sebagai pelarian saat menghadapi stres, kecemasan, atau tekanan hidup.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang tanpa sadar menjadikan makanan sebagai pelarian saat menghadapi stres, kecemasan, atau tekanan hidup. Kebiasaan ini dikenal sebagai emotional eating yaitu perilaku makan yang dipicu oleh emosi, bukan rasa lapar.
Pakar gizi dari IPB University Reisi Nurdiani mengatakan aktivitas makan memiliki hubungan erat dengan kondisi psikologis seseorang. Menurutnya, emotional eating merupakan salah satu bentuk perilaku makan yang merujuk pada kecenderungan seseorang mengonsumsi makanan karena kendali emosi, bukan karena lapar.
"Pemicunya tidak selalu emosi negatif. Perasaan bahagia pun dapat mendorong seseorang makan sebagai bentuk perayaan. Namun, masalah muncul ketika kebiasaan ini terjadi terlalu sering dan menjadi mekanisme utama untuk meredakan stres," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (4/3/2026).
Tanda peringatan emotional eating antara lain makan tanpa rasa lapar, sulit mengontrol porsi, hanya menginginkan jenis makanan tertentu, serta muncul rasa bersalah setelah makan. Jika kondisi ini sering terjadi, Reisi menyarankan konsultasi dengan psikolog terlebih dahulu sebelum pendampingan ahli gizi.
Reisi menjelaskan, terdapat tiga jenis perilaku makan, yaitu emotional eating, external eating, dan restrained eating. Pada emotional eating, keputusan makan dipengaruhi emosi; sedangkan external eating dipicu rangsangan visual makanan, dan restrained eating berkaitan dengan pembatasan makan secara sadar.
Menurut dia, emotional eating paling banyak terjadi pada remaja hingga dewasa awal. "Pada masa remaja dan dewasa awal, performa tubuh sedang baik, tetapi tekanan juga tinggi, sehingga peluang terjadinya emotional eating menjadi lebih besar," kata dia.
.png)
2 hours ago
2
















































