Mau Anak Cerdas? Pastikan Asupan Zat Besi Si Kecil Terpenuhi Sejak Dini

6 hours ago 3

Para siswa makan siang di sekolah (ilustrasi). Zat besi memiliki peran yang tak tergantikan dalam pembentukan sel darah merah serta mendukung fungsi kognitif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di balik tawa ceria anak-anak yang sedang belajar atau produktivitas tinggi seorang pekerja di kantor, ada mesin biologis rumit yang terus bekerja tanpa henti. Kita sering berbicara tentang pentingnya asupan karbohidrat untuk energi atau protein untuk otot, namun ada satu mikronutrisi yang kerap terabaikan padahal perannya sangat krusial dalam menentukan seberapa cerdas dan fokus kita menjalani hari. Nutrisi itu adalah zat besi.

Zat besi bukan sekadar angka dalam tabel periodik atau elemen yang identik dengan pencegahan anemia semata. Zat besi merupakan "kurir" oksigen yang memastikan setiap sel di tubuh, terutama otak, mendapatkan asupan napas yang cukup untuk berpikir jernih. Sayangnya, tantangan kekurangan zat besi masih membayangi sebagian besar masyarakat Indonesia, dari bayi hingga ibu hamil.

Dokter spesialis anak dan konselor laktasi, dr Lucky Yogasatria Sp.A,  mengatakan zat besi memiliki peran yang tak tergantikan dalam pembentukan sel darah merah serta mendukung fungsi kognitif. Hal ini mencakup kemampuan konsentrasi dan daya serap saat belajar.

Menurut dr Lucky, kebutuhan zat besi bukanlah urusan jangka pendek, melainkan perjalanan panjang yang dimulai bahkan sebelum seseorang lahir ke dunia. "Kebutuhan zat besi perlu diperhatikan sejak dini, mulai dari bayi hingga usia dewasa, terutama pada periode pertumbuhan, masa remaja, sebelum kehamilan, hingga selama kehamilan," ujar dr Lucky dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Senin (20/4/2026).

Bagi para calon ibu, kecukupan zat besi menjadi krusial. Hal ini dinilainya sangat penting untuk mendukung kesehatan ibu sendiri, membantu pertumbuhan janin, serta menurunkan risiko bayi lahir dengan cadangan zat besi yang rendah. Jika cadangan ini rendah sejak lahir, maka potensi kekurangan zat besi pada bayi di awal kehidupan akan meningkat, yang secara tidak langsung dapat memengaruhi tumbuh kembang kognitifnya di masa depan.

Dokter Lucky mengatakan meski pola makan bergizi seimbang adalah utama, dalam kondisi tertentu suplementasi menjadi hal yang perlu dipertimbangkan. Saat ini, dunia medis mengenal inovasi seperti Iron Polymaltose Complex (IPC). Karakteristiknya unik karena memiliki mekanisme pelepasan zat besi yang lebih terkendali. "Hal ini membantu penyerapan sesuai kebutuhan tubuh, cenderung lebih nyaman di saluran pencernaan, serta dapat dikonsumsi bersama makanan," tambahnya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |