REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta (FAI UMJ), Dr Ismail, S.Sos, M.Pem.I membahas extraordinary crime di Indonesia pada International Conference On Islamic Civilisational Studies. Kegiatan tersebut diselenggarakan Univeristas Islam Selangor (UIS) di Hotel Nilai Springs Resort, Malaysia, Rabu (10/6/2026).
Baca juga: Sesuaikan dengan Perkembangan Industri, FAI UMJ Adakan FGD Peninjauan Kurikulum Manajemen Zakat dan Wakaf
Konferensi ke-12 tahun ini mengusung tema “Transformation of Islamic Studies in The Digital Era Tradition of Knowledge Integrity and Innovation”. Ini merupakan salah satu ajang akademik unggul di Asia Tenggara, yang diikuti delegasi dan pembicara dari beberapa negara Asia Tenggara.
Dalam paparannya, Ismail mengangkat topik berjudul “Community Based Extremism Prevention Strategies Through Social Media and Religious Moderation Education in Support of Asta Cita.”
Ia menjelaskan mengenai tantangan serta ancaman terbesar di Indonesia dan negara-negara lain pada umumnya yaitu extraordinary crime. Ini mencakup kejahatan korupsi, narkoba, dan virus ideologi kekerasan lainnya seperti intoleransi, radikalisme, dan terorisme.
“Virus ektremisme ini masih menjadi tantangan serius bagi ketahanan nasional, persatuan masyarakat, serta keberlangsungan kehidupan berbangsa yang damai,’’katanya.
Maka, diharapkan ada kewaspadaan dan kepedulian di tengah perkembangan teknologi digital telah memperluas ruang penyebaran ideologi ekstrem melalui media sosial, terutama kepada generasi muda yang menjadi pengguna aktif platform digital.
Ismail menjelaskan penelitiannya yang mendorong dan mendukung program asta cita dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Asta cita antara lain memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi, memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya, serta peningkatan toleransi antarumat beragama untuk mencapai masyarakat adil dan makmur.
Lebih lanjut ia menjelaskan, untuk mengaktulasikan program pada asta cita Presiden tersebut dibutuhkan sinergi dan kolaborasi dari elemen bangsa secara pentahelix untuk menjaga keutuhan NKRI dan menuju Indonesia maju.
Indonesia hari ini mengalami fase bonus demografi, di mana jumlah penduduk Indonesia terdiri atas sekitar 68 persen dari total penduduknya berada dalam usia produktif (15-64 tahun).
Ia mengatakan total pengguna internet di Indonesia mencapai 235,26 juta jiwa. Estimasi jumlah pengguna internet untuk masing-masing kelompok demografi tersebut adalah generasi Z sekitar 80,9 juta pengguna dan milenial sekitar 72,0 juta pengguna.
Sehingga dibutuhkan literasi media sosial yang arif, bijaksana dan kontrol penggunaan media sosial dalam kontra ideologi, kontra narasi, dan kontra propaganda.
“Pendekatan moderasi beragama dipandang memiliki dampak positif dalam mitigasi virus ekstremisme berbasis kekerasan mengarah pada terorisme menjadikan agama sebagai tunggangan (alat legitimasi) untuk menyebarkan virus tersebut,” Jelasnya.
Ismail memaparkan, pendidikan moderasi beragama yang dimaksud memiliki empat pilar, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan keserasian nilai-nilai budaya lokal.
Dalam konteks toleransi umat beragama, dibutuhkan semangat inovasi dan transformasi dalam perspektif ukhuwah basyariyah, wathaniyah, dan Islamiyah.
Kemudian dalam pandangan ijtihad Muhammadiyah dicetuskan gagasan Darul Ahdi Wa Syahadah, konsep pemahaman kebangsaan dengan menjadikan Pancasila dan NKRI sebagai hasil konsensus atau perjanjian luhur (kesepakatan) antara para pendiri bangsa dan seluruh elemen masyarakat Indonesia.
Sedangkan Darus Syahadah dipahami dengan pemikiran setelah bersepakat, umat Islam memiliki kewajiban moral dan tanggung jawab teologis untuk membuktikan komitmennya dengan cara mengisi, membangun, dan memajukan bangsa melalui karya-karya nyata dan berkemajuan di tengah-tengah perbedaan suku, agama, ras, dan antarkelompok.
.png)
2 hours ago
1

















































