
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: N.D. Santoso (Analis Media dan Komunikasi Publik)
Di dalam hidup, tidak semua orang diberi kesempatan untuk mengalami dua hal sekaligus: mencapai puncak, lalu jatuh ke titik paling bawah. Lebih sedikit lagi yang mampu kembali berdiri tanpa menyimpan dendam kepada keadaan.
Kebanyakan orang berhenti ketika reputasinya terluka. Sebagian memilih mengasingkan diri. Sebagian lain menghabiskan sisa hidup untuk membela masa lalu. Sangat sedikit yang tetap memilih bekerja, berpikir, dan mengabdi, seolah hidup belum selesai.
Di situlah saya menemukan satu pelajaran menarik ketika berbincang panjang dengan Burhanuddin Abdullah. Ia tidak banyak berbicara tentang pencapaiannya. Justru yang paling sering ia ulang adalah kata optimisme, integritas, masa depan, dan stay on course.
Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana. Namun diucapkan oleh seseorang yang pernah merasakan penghormatan tertinggi sekaligus ujian terbesar dalam kehidupan publik, maknanya menjadi jauh lebih dalam.
Puluhan tahun lalu, ketika masih bekerja di IMF, Burhanuddin Abdullah pernah membaca hasil penelitian internal mengenai karier para direktur lembaga tersebut. Temuannya justru bertolak belakang dengan anggapan umum. Mereka yang paling cepat mencapai posisi puncak ternyata bukan orang-orang yang sejak awal ditempatkan di lingkungan yang nyaman. Sebaliknya, mereka justru ditempatkan pada unit-unit paling sulit, penuh tekanan, dan minim popularitas.
Kesulitan melahirkan daya tahan. Kesulitan memaksa seseorang berpikir berbeda. Kesulitan membentuk karakter yang tidak bisa diajarkan di ruang kelas.
Mungkin karena itulah, ketika berbicara tentang perjalanan hidupnya sendiri, ia tidak pernah menyebut masa-masa sulit sebagai musibah. Baginya, masa sulit mengajarkan kesabaran, ketulusan, keikhlasan, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk tetap melihat masa depan ketika orang lain hanya melihat kegagalan hari ini.
Pandangan semacam itu terasa semakin langka di tengah budaya yang serba instan. Hari ini kita hidup dalam masyarakat yang ingin segala sesuatu selesai seketika. Kesuksesan harus datang cepat. Pengakuan harus hadir sekarang. Hasil harus terlihat besok pagi. Burhanuddin Abdullah menyebut kecenderungan itu sebagai lack of deferred gratification, ketidakmampuan menunda kenikmatan demi hasil yang lebih besar di masa depan. Barangkali inilah salah satu penyakit terbesar bangsa modern.
Kita terlalu sering mengukur pengabdian dengan imbalan yang langsung terlihat. Padahal sejarah hampir selalu bekerja dengan cara yang berbeda. Pengabdian, bagi Burhanuddin Abdullah, bukanlah pekerjaan. Pengabdian adalah kemampuan berpikir melampaui diri sendiri, masyarakat, bangsa, negara, nilai dan kejujuran. Apa pun yang lebih besar daripada kepentingan pribadi. Cara pandang seperti itu mungkin terdengar idealistis. Namun menariknya, perjalanan hidupnya justru menunjukkan bahwa ruang pengabdian tidak pernah benar-benar tertutup.
Setelah meninggalkan Bank Indonesia dan menjalani masa yang tidak mudah, ia mendirikan organisasi masyarakat koperasi. Tidak lama kemudian dipercaya memimpin Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN) sebagai rektor selama bertahun-tahun.
Sesudah itu, ruang pengabdian lain kembali terbuka. Ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Pakar Partai Gerindra, terlibat dalam berbagai diskusi strategis kebangsaan, tetap aktif memimpin Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), menulis, mengajar, berbicara di berbagai forum, dan terus menyumbangkan gagasan. Seolah kehidupan sedang mengirimkan pesan sederhana. Jabatan bisa selesai dan pengabdian tidak pernah pensiun.
Dalam sejarah ekonomi Indonesia, kontribusi Burhanuddin Abdullah bukanlah catatan kecil. Saat memimpin Bank Indonesia, ia ikut membawa Indonesia melunasi pinjaman IMF sekitar satu dekade lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan. Melunasi utang IMF satu dekade lebih cepat bukan sekadar soal angka. Ia adalah penanda bahwa Indonesia mulai berdiri dengan kaki sendiri setelah krisis.
Pada masa yang sama, Bank Indonesia mulai menerapkan Inflation Targeting Framework sebagai fondasi baru kebijakan moneter modern. Ia juga mendorong lahirnya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), sebuah mekanisme koordinasi yang hingga hari ini masih menjadi instrumen penting pengendalian inflasi di berbagai daerah. Hari ini masyarakat mungkin hanya mengenal inflasi dari angka yang diumumkan setiap bulan. Padahal di balik stabilitas harga itu ada fondasi kebijakan yang dibangun bertahun-tahun sebelumnya.
Di sektor perbankan, restrukturisasi pascakrisis diwujudkan melalui Arsitektur Perbankan Indonesia yang memperkuat fondasi industri keuangan nasional. Di bidang stabilitas nilai tukar, keberanian mengambil keputusan strategis dalam pengelolaan devisa juga menjadi salah satu penanda kepemimpinannya.
Ketika dipercaya sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ia ikut menyederhanakan Letter of Intent dengan IMF dari 128 butir menjadi hanya 32 butir, memperluas ruang kedaulatan dalam pengambilan kebijakan ekonomi nasional. Pada periode yang sama, proyek Jalan Tol Cipularang yang lama tertunda akhirnya memperoleh keputusan strategis untuk dilanjutkan.
Kontribusi-kontribusi tersebut kemudian diikuti berbagai pengakuan: dua kali menerima Bintang Mahaputera, dinobatkan sebagai salah satu dari lima gubernur bank sentral terbaik dunia pada 2007, menjadi alumni terbaik University of Michigan, serta dua periode memimpin ISEI.
Prestasi-prestasi itu tercatat dalam sejarah. Namun bagi sebagian orang, satu episode dalam hidupnya tetap dianggap lebih penting daripada seluruh pengabdian tersebut. Memang begitulah cara ruang publik bekerja. Ia sering kali mengingat luka lebih lama daripada jasa.
Ketika saya bertanya apakah ia pernah berpikir mengubah keputusan masa lalunya jika diberi kesempatan kembali, jawabannya singkat, "Tidak ada." Alasannya juga sederhana, "Saya melakukan hal yang sama karena itulah yang terbaik pada waktu itu."
Jawaban itu tentu akan memunculkan beragam penilaian. Sebagian akan sepakat. Sebagian lain mungkin tidak. Namun justru di situlah letak pelajaran pentingnya. Integritas tidak selalu berarti semua orang harus menyetujui kita. Integritas adalah keberanian mempertanggungjawabkan keputusan yang diyakini benar, sembari menerima bahwa sejarah akan menilainya dengan waktunya sendiri.
Dalam percakapan itu, saya juga bertanya bagaimana ia menghadapi kritik yang terus muncul di media sosial. Karena di era media sosial, kita semakin sering mengadili seseorang berdasarkan satu peristiwa, bukan keseluruhan pengabdiannya. Padahal sejarah bekerja dengan ukuran yang berbeda.
Jawabannya bahkan lebih sederhana. Ia mengaku hampir tidak pernah membaca media sosial. Bukan karena antikritik melainkan karena ia memilih menjaga arah hidupnya agar tidak dikendalikan oleh kebisingan yang belum tentu menghasilkan kebijaksanaan. Hari ini, ketika begitu banyak orang kehilangan fokus hanya karena komentar anonim, sikap seperti itu terasa semakin relevan. Ia juga sangat prihatin terhadap sebagian aktivis media sosial karena mereka tidak bisa memikirkan hal yang lebih konstruktif dengan bekerja keras dan terus berpikir positif.
Di ujung perbincangan, saya bertanya satu hal yang mungkin paling personal. "Kalau suatu hari nanti orang mendengar nama Burhanuddin Abdullah, apa yang ingin mereka ingat?"
Ia tidak menyebut jabatan. Tidak menyebut penghargaan. Tidak pula menyebut pencapaiannya. Ia hanya berharap dikenang sebagai manusia yang tangguh dan pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan.
Jawaban itu mengingatkan saya pada satu hal. Kita sering mengira warisan terbesar seorang pemimpin adalah gedung yang dibangun, kebijakan yang ditandatangani, atau angka-angka yang tercatat dalam laporan tahunan. Padahal warisan terbesar selalu berupa cara berpikir. Cara memandang masa depan. Cara menghadapi kegagalan. Cara menyikapi fitnah. Cara bertahan ketika hidup tidak lagi berpihak.
Tulisan ini tidak lahir untuk mengadili masa lalu ataupun membelanya. Tetapi lahir dari satu pertanyaan yang saya ajukan sebagai penutup percakapan: bagaimana jika suatu hari negara kembali memanggil Burhanuddin Abdullah untuk memikul amanah yang pernah berada di pundaknya?
Jawabannya tegas, "Dulu ketika diminta menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada masa Presiden Abdurrahman Wahid, saya juga tahu situasinya sangat berat. Tapi kalau saat ini negara memanggil untuk melakukan sesuatu, kita lakukan."
Lalu ia menutupnya dengan sebuah hadis yang sangat melekat dalam ingatannya: "Jika esok hari kiamat datang, sementara di tanganmu ada sebutir biji kurma, maka tetaplah tanamkan."
Kalimat itu mungkin menjelaskan seluruh cara pandangnya tentang pengabdian. Bahwa bekerja untuk bangsa bukan semata-mata soal jabatan, peluang, atau kepastian hasil. Pengabdian adalah kesediaan menanam, bahkan ketika kita mungkin tidak sempat menikmati buahnya.
Belakangan, nama Burhanuddin Abdullah kembali disebut sebagai salah satu figur yang layak dipertimbangkan dalam berbagai pembicaraan mengenai kepemimpinan Bank Indonesia. Benar atau tidaknya, cepat atau lambatnya, itu sepenuhnya merupakan kewenangan konstitusional negara.
Namun di luar semua dinamika tersebut, percakapan ini mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih penting: Bangsa ini selalu membutuhkan orang-orang yang tetap bersedia mengabdi ketika dipanggil, dan tetap bekerja meski tidak sedang memegang jabatan.
Pada akhirnya, jabatan selalu memiliki masa berlaku. Hukuman pun memiliki akhirnya. Tetapi pengabdian tidak hanya hidup di dalam kalender kekuasaan. Ia hidup selama manfaatnya masih dirasakan orang lain.
Mungkin itulah makna menanam sebutir kurma ketika kiamat terasa dekat. Bukan karena kita yakin akan memetik buahnya, melainkan karena kita percaya bahwa sejarah tidak pernah mengukur seseorang dari berapa lamanya berkuasa, melainkan dari apa yang tetap tinggal setelah kepergiannya.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
12 hours ago
7
















































