Mahasiswa Diuji Pertahankan Gagasan, Debat Jadi Bekal Pengabdian di Desa Wisata

6 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemampuan menyampaikan gagasan secara kritis dan mempertahankan solusi berbasis kebutuhan masyarakat menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebelum terjun menjalankan program pengabdian. Tidak cukup memiliki ide yang baik, mahasiswa juga dituntut mampu mengomunikasikan gagasannya secara runtut agar dapat diimplementasikan di lapangan.

Hal itu terlihat dalam babak final Genera-Z Berbakti 2026, program call for proposal Bakti BCA yang mempertemukan delapan tim mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Pada tahap Head-to-Head, para finalis saling menguji proposal melalui adu argumentasi untuk memperebutkan kesempatan mengimplementasikan program di empat desa wisata binaan Bakti BCA.

Salah satu panelis, ilmuwan sekaligus wirausahawan sosial Tri Mumpuni, mengatakan kemampuan menyampaikan ide secara sistematis merupakan aspek penting dalam merancang program pemberdayaan masyarakat.

"Mahasiswa harus mampu menyampaikan ide secara runut, jelas, dan terstruktur agar gagasannya mudah dipahami. Setelah berhasil memahami akar masalah yang ingin diselesaikan, mereka harus bisa merumuskan solusi secara kritis hingga menjadi program kerja nyata yang dapat diimplementasikan di desa," ujar Tri.

Ghifari, perwakilan Universitas Padjadjaran, mengaku atmosfer kompetisi dalam babak tersebut memacu dirinya untuk menampilkan argumentasi terbaik.

"Jiwa kompetitif saya akhirnya tersentil juga, jadi saya ingin memberikan yang terbaik. Saya percaya diri dan senang bisa melakukan head-to-head untuk saling menguji kekuatan proposal dengan tim lawan," katanya.

Perwakilan IPB University, Miki, menilai fokus utama bukanlah siapa lawan yang dihadapi, melainkan keyakinan terhadap solusi yang telah disusun tim.

"Saya tidak mau terlalu memikirkan lawan siapa. Terkait isi argumen, saya sangat yakin pilihan solusi yang tim kami rumuskan adalah pilihan terbaik dan siap untuk diterapkan," ujarnya.

Pengalaman serupa dirasakan Rifki dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang berusaha mengendalikan rasa gugup saat tampil di hadapan panelis.

"Sebelum maju saya sudah bilang ke diri sendiri untuk kuat dan menunjukkan yang terbaik, menampilkan apa yang memang ingin saya tampilkan dengan perasaan tenang, dan tentunya melawan rasa takut yang saya miliki," katanya.

Sementara itu, Uzi dari Universitas Gadjah Mada mengakui suasana debat berbeda dibanding diskusi yang biasa ia jalani.

"Saya dipilih untuk babak ini karena saya punya kebiasaan untuk berdebat dan beropini pada diskusi kecil-kecilan. Namun, untuk sekarang suasananya sangat berbeda," ujarnya.

Melalui proses seleksi tersebut, empat tim terbaik akan memperoleh kesempatan menjalankan program pengabdian di Desa Wisata Kreatif Terong, Kabupaten Belitung; Desa Wisata Situs Gunung Padang, Kabupaten Cianjur; Desa Wisata Patakbanteng, Kabupaten Wonosobo; serta Desa Wisata Kakaskasen Dua, Kota Tomohon.

Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn berharap semangat yang ditunjukkan para finalis dapat berlanjut ketika mereka berkolaborasi bersama masyarakat.

"Kami berharap semangat ini dapat terus mereka jaga, khususnya saat nanti mengimplementasikan program dan berkolaborasi dengan masyarakat di desa wisata binaan Bakti BCA," kata Hera.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |