Jejak Peradaban Palestina Dimulai Sejak Zaman Batu

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Wilayah Palestina memiliki sejarah permukiman manusia yang sangat panjang, bahkan sejak zaman batu sebelum Masehi. Dalam buku Palestina: Sejarah, Perkembangan dan Konspirasi, Dr. Muhsin Muhammad Shaleh mengungkapkan bahwa perkembangan peradaban di kawasan itu semakin nyata setelah kedatangan bangsa Kan'an dari Jazirah Arab sekitar 2500 SM.

Ada peninggalan purbakala yang mengindikasikan bahwa manusia sudah mendiami wilayah Palestina sejak zaman batu sekitar 500-14.000 tahun SM. Sebagaimana diketahui, pada zaman batu pertengahan sekitar 14.000-8000 tahun SM bahwa ada sesuatu yang dikategorikan sebagai bentuk kehidupan berperadaban. Yakni kehidupan ketika bangsa Kan’an datang dari Jazirah Arab sekitar tahun 2500 SM dalam jumlah besar sehingga membuat mereka menjadi penduduk utama di sana.

Kemudian mereka mulai membangun kota yang jumlahnya tidak kurang dari 200 kota dan desa di Palestina, seperti kota Pisan, Alqolan, Aka, Haifa, al-Khalil, Usdud, Bi’ru Alsaba, dan Betlehem. Menurut pendapat para ahli sejarah yang dapat dipercaya, mayoritas penduduk Palestina sekarang, dan khususnya di pedesaan, merupakan keturunan kabilah-kabilah bangsa Kan’an, Umuriyah, dan Palestina.

Kabilah-kabilah Arab mendiami Palestina sebelum dan sesudah ekspansi pasukan Islam (al-fath al-Islami). Mereka dapat berasimilasi dan menyatu dengan penduduk local karena kesatuan agama dan bahasa. Mereka semua memeluk Islam dan menjadi bangsa Arab di bawah payung pemerintahan Islam selama rentang waktu 13 abad.

Kedatangan Nabi Ibrahim Alahissalam ke Palestina sekitar tahun 1900 SM menjadi tonggak bersejarah bagi terbitnya cahaya tauhid di bumi penuh berkah ini. Nabi Muhammad SAW juga hidup di zaman penguasa al-Quds, Malki Shadiq, yang kelihatannya akrab dan bersahabat dengannya.

Nabi Ibrahim bapak para nabi, memainkan peran besar dalam penyebaran risalah tauhid, dan tampaknya tidak menghadapi banyak rintangan atau halangan berat dari penduduk Palestina. Ia tidak pernah terpaksa harus meninggalkan negeri ini karena faktor agama atau ajakan dakwahnya. Ia tetap tinggal di sana dengan tenang dan meninggalkannya dengan segala kebebasan.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |