Karena Semua Burger Milik Allah

11 hours ago 3

Oleh : Sampor Ali, Dosen Prodi Manajemen FEB UMJ

REPUBLIKA.CO.ID, Viral produk Aldi’s Burger belakangan ini. Artis, influencer dan masyarakat berbondong-bondong antri untuk membeli dan merasakan burger yang sedang hype di media sosial tersebut. Banyak postingan dan review dari berbagai kalangan terkait kualitas Aldi’s Burger.

Viralitas yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari jargon yang disampaikan oleh Aldi Taher sebagai pemilik, yaitu “Aldi’s burger cempaka putih rotinya lembut, dagingnya juicy lucy mahalini rizky febian bisa pesen online” serta kalimat “Karena semua burger milik Allah.”

Kita bedah jargon pertama yang sering diulang-ulang oleh Aldi taher di platform media sosial. Struktur jargon diatas dimulai dari elemen produk dan lokasi yaitu “Aldi’s Burger Cempaka Putih” yang berfungsi sebagai jangkar identitas sekaligus membangun kedekatan dengan audiens. Penyebutan lokasi membuat produk terasa nyata, spesifik, dan mudah dikenali, terutama dalam konteks pemasaran lokal.

Selanjutnya, bagian kalimat “rotinya lembut, dagingnya juicy lucy” berperan sebagai penguat ekspektasi kualitas. Frasa ini mungkin terdengar umum, tetapi justru itulah kekuatannya yang memberikan gambaran rasa produknya yang familiar sehingga audiens langsung membayangkan kenikmatan produk.

Bagian yang menjadi kunci viralitas adalah penggunaan nama publik figur Mahalini Raharja dan Rizky Febian dalam konteks yang tidak terduga. Unsur ini menciptakan kejutan kognitif yang membuat audiens berhenti sejenak, memproses ulang informasi, lalu merasa terhibur. Efeknya, konten menjadi lebih mudah diingat dan cenderung dibagikan karena dianggap unik dan lucu.

Jargon ditutup dengan elemen call to action dengan kalimat “bisa pesen online” berfungsi mengarahkan perhatian yang sudah terbangun menjadi tindakan nyata. Setelah audiens tertarik dan terhibur, mereka diberi jalur yang jelas untuk melakukan pembelian. Dengan demikian, keseluruhan struktur jargon ini tidak hanya menciptakan daya tarik, tetapi juga efektif dalam mendorong konversi melalui alur yang sistematis: mengenalkan, meyakinkan, mengejutkan, dan akhirnya menggerakkan audiens untuk bertindak.

Spiritual Framing

Kalimat “karena semua burger milik Allah” yang disampaikan oleh Aldi Taher dapat dipahami sebagai bentuk spiritual framing dalam komunikasi pemasaran. Secara makna, pernyataan ini merefleksikan nilai ketauhidan bahwa seluruh rezeki dan kepemilikan pada hakikatnya berasal dari Allah, sehingga pelaku usaha tidak menempatkan dirinya sebagai pemilik absolut, melainkan sebagai perantara.

Dalam konteks bisnis, narasi ini menciptakan diferensiasi emosional yang kuat karena mengaitkan aktivitas jual beli dengan nilai religius, keikhlasan, dan sikap tidak kompetitif secara agresif. Pendekatan ini secara tidak langsung membangun citra brand yang rendah hati, tulus, dan tidak memaksa, sehingga berpotensi meningkatkan simpati dan kepercayaan konsumen.

Di sisi lain, kalimat tersebut juga berfungsi sebagai strategi komunikasi yang unik dan kontras dengan praktik bisnis pada umumnya. Alih-alih mendorong konsumen untuk membeli produknya secara eksklusif, justru terdapat pesan implisit yang mempersilakan konsumen memilih alternatif lain. Paradoks ini menciptakan efek kejut yang memancing perhatian publik sekaligus memperkuat daya ingat terhadap brand Aldi’s Burger.

Jargon Nyeleneh Namun Sarat Promosi

Terdapat beberapa alasan mengapa fenomena Aldi’s Burger ini meledak dan menjadi bahan pembicaraan masyarakat adalah, Pertama, Adanya pola jargon yang absurd tapi konsisten yang secara psikologis sangat kuat. Kalimat yang digunakan cenderung panjang, tidak sepenuhnya nyambung, dan terasa acak, namun diulang dengan format yang sama secara terus-menerus.

Kombinasi antara keanehan dan repetisi ini membuat otak audiens lebih mudah mengingatnya, karena manusia cenderung tertarik pada sesuatu yang tidak biasa tetapi tetap memiliki pola yang dikenali. Kedua, strategi distribusi yang digunakan juga sangat agresif dan tidak konvensional, yaitu melalui spam komentar.

Aldi Taher secara konsisten menyebarkan jargon yang sama di berbagai kolom komentar di platform media sosial seperti Instagram, Threads dan X. Teknik ini membuat pesan muncul di banyak titik sekaligus, sehingga menciptakan efek eksposur masif tanpa harus mengeluarkan biaya iklan.

Ketiga, Variabel yang sangat menentukan adalah penggunaan nama artis. Konten tersebut secara otomatis terhubung dengan ekosistem percakapan para penggemar mereka. Hal ini meningkatkan kemungkinan konten muncul di pencarian, rekomendasi, atau bahkan mendapatkan respons langsung dari artis terkait. Tanpa perlu endorsement resmi, strategi ini mampu mendongkrak visibilitas secara signifikan.

Keempat, Yang tak kalah penting adalah kekuatan utama dari fenomena ini terletak pada tingginya meme-ability. Struktur jargon yang unik membuatnya mudah diingat, ditiru dan dimodifikasi oleh netizen, misalnya dengan menyatakan bahwa semua burger milik Allah.

Akibatnya, audiens tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut berperan sebagai co-creator marketing yang secara sukarela menyebarkan dan mengembangkan konten tersebut. Inilah yang membuat penyebarannya semakin cepat dan organik di berbagai platform digital.

Fenomena Aldi’s Burger menegaskan bahwa perilaku konsumen telah bergeser dari sekadar rasional menuju pengalaman yang lebih emosional. Konsumen saat ini tidak hanya membeli produk untuk memenuhi kebutuhan fungsional, tetapi juga untuk ikut serta dalam narasi, hiburan, dan tren yang sedang berlangsung. Strategi yang dilakukan oleh Aldi Taher menunjukkan bahwa viralitas dapat dibangun melalui kombinasi keunikan pesan, repetisi, dan keterlibatan publik, sehingga brand menjadi bagian dari percakapan kolektif di media sosial.

Pada akhirnya, perlu diingat bahwa viral saja tidak cukup untuk memeliharan brand dan produk. Perlu transformasi dari sekadar “brand viral” menjadi “brand yang berkelanjutan”, di mana perhatian publik yang telah berhasil diraih harus segera dikapitalisasi menjadi nilai bisnis jangka panjang.

Popularitas yang dibangun oleh figur Aldi Taher melalui jargon unik perlu diimbangi dengan standarisasi kualitas produk, konsistensi rasa, serta pelayanan yang memuaskan agar konsumen tidak hanya datang karena rasa penasaran, tetapi juga kembali karena kepuasan dan loyalitas tentunya.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |