REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta terus mengupayakan perubahan status menjadi Badan Layanan Umum (BLU) di tengah tantangan efisiensi anggaran tahun 2026. Status BLU ini dinilai strategis untuk memperkuat layanan pendidikan seni sekaligus meningkatkan peran kampus dalam ekosistem ekonomi kreatif.
Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi mengatakan, proses pengajuan BLU telah melalui sejumlah tahapan, meski target menjadi BLU pada 2025 belum tercapai. Pihaknya kembali mengirimkan dokumen ke kementerian terkait dan saat ini masih menunggu proses peninjauan.
"Proses terakhir sudah kami kirim kembali ke kementerian. Harapannya dalam waktu dekat, terutama dari Kementerian Keuangan, sudah ada review," ujar Irwandi dalam acara Konferensi Pers Capaian dan Target Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Rabu (7/1/2026).
Ia menegaskan, konsep BLU bagi ISI Yogyakarta tidak berorientasi pada peningkatan pendapatan semata, melainkan memberikan pelayanan pendidikan yang lebih optimal kepada masyarakat tanpa membebani mahasiswa.
Berbeda dengan universitas umum yang meningkatkan kuantitas mahasiswa, kampus seni, kata Irwandi, memiliki karakter tersendiri. Ia juga menyakini melalui BLU, kampus seni akan lebih leluasa berkolaborasi dengan dunia industri kreatif dan potensi alam sekitar melalui pendidikan berbasis seni.
"BLU adalah cara agar ISI lebih efektif dalam mengelola pendanaan dari masyarakat untuk kembali meningkatkan layanan pendidikan," katanya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta, Muhamad Sholahuddin menjelaskan, kebijakan BLU pada perguruan tinggi bertujuan memberikan fleksibilitas dalam tata kelola keuangan dan manajemen.
Ia mencontohkan banyaknya talenta seni unggul di ISI Yogyakarta yang selama ini berkiprah secara individual. Dengan status BLU, potensi tersebut dapat dikelola secara kelembagaan sehingga pendapatan yang dihasilkan masuk ke sistem kampus.
"Intinya adalah meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan. Ketika perguruan tinggi memiliki kebebasan mengelola keuangan, maka pengelolaan aset dan sumber daya manusia juga bisa lebih optimal," kata Sholahuddin
"Pendapatan BLU nantinya akan kembali ke mahasiswa, salah satunya melalui peningkatan beasiswa. Jadi bukan untuk menaikkan biaya pendidikan," ucapnya menambahkan.
Tantangan Efisiensi tak Surutkan Semangat Perkuat Program
Dalam kesempatan ini, Rektor ISI Yogyakarta menyampaikan kampusnya juga menghadapi kebijakan efisiensi anggaran pada tahun 2026. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri, namun tidak menyurutkan upaya kampus seni tersebut untuk tetap menjalankan berbagai program kerja.
Berbagai program kerja pada tahun 2026 akan digencarkan melalui berbagai unit yang ada. Pihaknya juga telah menetapkan rencana strategis (Renstra) untuk mematangkan arah kebijakan dan strategi pengembangan institusi.
"ISI Yogyakarta memiliki milestone bahwa pada tahun 2028 menjadi perguruan tinggi seni kelas atas di Asia Tenggara. Kemudian, dilanjutkan secara global untuk menyambut Indonesia Emas," katanya.
Target tersebut akan dilakukan akselerasi mengingat potensi ISI Yogyakarta cukup besar. Ia memaparkan sepanjang 2025, ISI Yogyakarta meraih sejumlah prestasi dan berhasil menjalankan berbagai program kerja, termasuk menempati peringkat 112 dunia dalam subjek Art & Design pada QS World University Rankings by Subject 2025.
Selain itu, ISI Yogyakarta juga terus meningkatkan inklusivitas pendidikan dengan membuka akses pembelajaran melalui program open class berbasis digital.
"Open class ini sudah kami buka pada tahun lalu, tahun 2025. Itu adalah platform online untuk membuka kesempatan bagi pemuda atau muda mudi, sehingga mereka bisa mengetahui prodi apa saja dan pelajaran apa saja yang dipelajari di ISI Yogyakarta," ucap dia.
Program tersebut dinilai sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs), khususnya dalam peningkatan kualitas hidup. ISI Yogyakarta juga tetap memperhatikan penguatan sarana dan prasarana, termasuk bagi mahasiswa berkebutuhan khusus.
Dalam rangka mewujudkan visi sebagai World Class Art University di kawasan Asia Tenggara pada 2028 dan di tingkat global pada 2045, ISI Yogyakarta juga menargetkan pengembangan laboratorium seni berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) di seluruh Program Studi (Prodi). Melalui perpaduan ide, rasa, intuisi, serta kepekaan artistik manusia, teknologi AI diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sarana penciptaan karya seni. Sejalan dengan hal tersebut, akan ada penataan ulang kurikulum guna membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan sehingga lulusannya siap bersaing di dunia kerja.
"Saat ini perkembangan AI sangat tidak bisa diabaikan. ISI Yogyakarta berkeinginan merespon serta mengadaptasi pemanfaatannya untuk mengembangkan seni," ujarnya.
Perkembangan AI yang sangat pesat, maka pemahaman yang mendalam mengenai AI oleh mahasiswa akan menjadi momentum menunjukkan perbedaan mendasar antara manusia dan mesin.
"Kalau kita tidak mau tergilas oleh kemajuan teknologi, kita harus mampu beradaptasi dan pada saat yang sama membangun kode etik bersama dalam penggunaan AI. Saat ini, AI sudah digunakan dalam iklan, desain, bahkan produksi konten kreatif. Maka, kita harus memikirkan kembali fokus dan konsentrasi kita sebagai seniman," katanya.
Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta, I Nyoman Cau Arsana menambahkan, pada tahun lalu berbagai program kerja telah dilakukan untuk meningkatkan kinerja dan aktivitas akademik.
"Beberapa kegiatan kolaboratif juga sudah kami lakukan. Dan pada akhir tahun lalu, kami sudah mengirim delegasi kesenian untuk mengikuti festival internasional di Malaysia," ungkapnya.
.png)
6 days ago
11













































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5356582/original/040605300_1758465597-20250921AA_Futsal_Four_Nation_Indonesia_Vs_Latvia-12.JPG)
