Ketika Knalpot Berbicara Tentang Nurani

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Subuh belum sepenuhnya pergi. Kabut tipis masih menggantung di atas jalan-jalan Bungbulang, Garut, ketika satu per satu pemuda datang membawa sesuatu di tangan mereka. Bukan senjata. Bukan tuntutan. Mereka datang membawa knalpot: 60 buah knalpot brong yang selama ini mereka sendiri pasang di motor kesayangan mereka.

Mereka menyerahkannya dengan sukarela.

Tidak ada operasi. Tidak ada razia. Tidak ada petugas yang berdiri dengan borgol dan surat tilang. Yang ada hanyalah pemuda-pemuda dari berbagai organisasi kepemudaan yang memilih berjalan ke kantor polisi dengan kesadaran sendiri, sebuah pemandangan yang terasa asing, tapi justru karena itulah ia begitu membekas.

Knalpot brong bukan sekadar soal teknis. Ia adalah pernyataan. Suaranya yang memekak di tengah dini hari adalah cara sebagian anak muda berkata: aku ada, aku bebas, aku tidak mau diabaikan. Tapi di balik gemuruh itu, ada ibu yang terbangun dari tidurnya. Ada bayi yang menangis kaget. Ada orang tua yang meringis menahan sakit, tersengat bising di udara yang seharusnya sunyi.

Kebebasan yang mengganggu ketenangan orang lain bukanlah kebebasan yang utuh. Ia hanya kebisingan yang mencari perhatian.

Maka ketika para pemuda Bungbulang itu melangkah masuk ke Polsek dan meletakkan knalpot mereka satu per satu, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar logam yang berpindah tangan. Ada pengakuan. Ada kedewasaan yang sedang tumbuh. Ada nurani yang, pelan-pelan, memilih untuk bicara lebih keras dari suara knalpot itu sendiri.

Kepala Polsek Bungbulang, AKP Priyo Sumbodo, menerima penyerahan itu dengan khidmat. Ia menyebutnya sebagai bukti sinergi: antara kepolisian dan elemen pemuda, dalam menjaga ketertiban, terlebih di bulan suci Ramadan yang menuntut keheningan dan penghormatan.

"Langkah ini patut diapresiasi," katanya. Dan memang demikian adanya.

Jauh dari Bungbulang, di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, penertiban serupa berlangsung dengan wajah yang berbeda. Satuan Lalu Lintas Polres Singkawang turun ke ruas-ruas jalan kota, menindak 33 pengendara yang kedapatan menggunakan knalpot tidak sesuai spesifikasi teknis. Di sana, tidak ada penyerahan sukarela, ada tilang, ada penggantian knalpot di tempat, dan ada orang tua yang dipanggil untuk mendampingi anak-anak mereka yang masih di bawah umur.

Kepala Satlantas Polres Singkawang, AKP Raden Bagus Aryo, memilih pendekatan yang ia sebut profesional, humanis, dan edukatif. Para pelanggar bahkan diminta menghancurkan sendiri knalpot brong mereka di hadapan petugas, bukan sebagai hukuman semata, melainkan sebagai ritus kesadaran. Agar tangan yang memasang juga merasakan apa artinya melepaskan.

Di ujung barat Pulau Sumatra, Aceh Barat menyimpan cerita yang lebih kelam. Di ruas Jalan Iskandar Muda, Kecamatan Johan Pahlawan, aksi balap liar dan knalpot brong kerap memecah kesunyian subuh. Warga mengeluh. Tidur mereka terusik. Rasa aman mereka terkikis.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |