
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kemarin, 5 Mei 2026, Universitas Amikom Yogyakarta menorehkan lagi tonggak akademik membanggakan. Prof Arief Setyanto, S.Si, MT, Ph.D resmi dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Kecerdasan Buatan dan Computer Vision.
Dalam orasi ilmiahnya berjudul ‘’Kecerdasan Artifisial Dalam Transformasi Digital Bidang Pendidikan dan Pertanian Presisi'’, Prof Arief menyoroti bagaimana teknologi penglihatan berbasis AI kini mampu mengubah cara bertani.
Di dalam orasinya, ia juga menekankan pentingnya kedaulatan digital bahwa teknologi tidak hanya soal menguasai dan memanfaatkan, juga soal menjaga kemandirian bangsa dari ketergantungan terhadap platform dan infrastruktur yang disediakan negara lain.
Pengukuhan ini menambah kekuatan kapasitas akademik Universitas Amikom Yogyakarta sekaligus menjadi pengingat, perjalanan seorang akademisi tidak pernah benar-benar berhenti.
Prof Arief meraih gelar doktor dari University of Essex, Inggris pada 2016, dengan keahlian di bidang Machine Learning, Computer Vision, dan Natural Language Processing. Ia kini juga menjabat Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Universitas Amikom Yogyakarta.
Salah satu hal yang menarik, bidang yang dia tekuni selama satu dekade ini tengah mengalami percepatan luar biasa. AI tidak lagi hanya mengenali gambar atau menerjemahkan teks.
Kini dalam hitungan bulan, kemampuan AI melompat ke wilayah yang dulu hanya bisa dilakukan para ahli dengan jam kerja panjang. Di bidang Informatika, kemajuan ini menjadi tantangan tersendiri dan menuntut respons yang cepat, cermat, dan kreatif dari seluruh komunitas akademik.
Salah satu peristiwa yang paling mengejutkan komunitas teknologi pekan ini adalah ditemukannya celah keamanan serius pada kernel Linux yang telah bersembunyi selama sembilan tahun.
Celah yang dijuluki 'Copy Fail' dan diberi kode CVE-2026-31431 ini ditemukan oleh peneliti keamanan di firma Theori dengan bantuan alat pemindai berbasis AI bernama Xint Code.
Hal yang cukup mengejutkan adalah cepatnya proses penemuan celah keamanan tersebut. Hanya dibutuhkan waktu sekitar satu jam pemindaian oleh AI untuk mengidentifikasi celah yang selama hampir satu dekade lolos dari perhatian ribuan pengembang dan alat pengujian konvensional.
Celah ini bermula dari sebuah optimasi kode yang ditambahkan ke kernel Linux pada 2017 untuk mempercepat enkripsi data. Tanpa disadari, optimasi itu meninggalkan celah logika yang memungkinkan pengguna biasa tanpa hak istimewa mendapatkan akses penuh sebagai administrator sistem.
Kerentanan keamanan ini ada pada hampir seluruh distribusi Linux dengan kernel yang diperbarui sejak 2017 tersebut. Badan keamanan siber Amerika Serikat, CISA, bahkan telah memasukkan celah ini ke dalam daftar kerentanan yang sudah aktif dieksploitasi.
Penemuan 'Copy Fail' memberikan pesan penting yang tidak bisa diabaikan khususnya bagi bidang Informatika. AI kini mampu melakukan pekerjaan analisis kode yang sangat mendalam dengan kecepatan jauh melampaui kemampuan manusia.
Ini tentu bisa dipandang sebagai sebuah pergeseran mendasar dalam cara kerja di bidang yang cepat berubah ini.
Sebuah pekerjaan yang dulu membutuhkan berbulan-bulan untuk proses audit manual kini bisa diselesaikan dalam hitungan jam. Artinya, hambatan terbesar dalam penelitian Informatika kini bukan lagi kemampuan implementasi teknis.
AI sudah bisa mengimplementasikan, memindai, dan men-debug suatu kode program. Satu hal yang tidak bisa dilakukan AI saat ini adalah memiliki rasa ingin tahu yang otentik, merumuskan pertanyaan penelitian yang benar-benar baru, dan melihat celah yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya.
Persis seperti yang dilakukan peneliti Theori bahwa ia yang memiliki intuisi tentang di mana kemungkinan celah keamanan itu berada, dan AI yang mengerjakan proses penyisirannya. Inilah yang dapat menjadi konteks yang paling relevan bagi mahasiswa S2 dan S3 Informatika Universitas Amikom Yogyakarta yang saat ini tengah menyusun tesis maupun disertasi.
Di era ketika AI dapat digunakan untuk membantu mengimplementasikan algoritma, mensintesis literatur, bahkan menghasilkan kode yang berfungsi, maka pertanyaan terpenting yang harus dijawab seorang peneliti bukan lagi 'bagaimana caranya?' melainkan 'apa yang belum pernah ditanyakan sebelumnya?'
Kebaruan ide, novelty yang sesungguhnya, itulah yang menjadi semakin berharga justru karena AI semakin mahir mengeksekusi ide yang sudah ada.
Mahasiswa yang mampu menghadirkan ide segar, yang mampu melihat persoalan dari sudut tersembunyi, dan yang kemudian dapat memanfaatkan AI untuk mewujudkan ide itu dengan cepat dan efisien adalah peneliti yang akan benar-benar relevan di dekade mendatang.
Selamat kepada Prof Arief Setyanto atas pengukuhan guru besarnya. Semoga amanah akademik yang kini tersandang semakin mendorong lahirnya ide-ide segar yang bermanfaat bagi masyarakat luas, dan bagi seluruh mahasiswa yang sedang berjuang di tengah penelitiannya bahwa di era ketika mesin sudah bisa berpikir, nilai tertinggi justru ada pada keberanian untuk bertanya hal yang belum pernah ditanyakan sebelumnya.
Di era ketika ilmu dan teknologi bergerak sangat cepat, memilih yang terbaik di antara yang tersedia, memperbarui keilmuan secara berkelanjutan, dan tidak berhenti pada apa yang sudah diketahui, adalah wujud nyata dari akal yang terus hidup.
Allah SWT berfirman: "Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal." (QS. Az-Zumar: 18). Wallāhu a'lam.
.png)
8 hours ago
5















































