REPUBLIKA.CO.ID, MAMUJU — Sebuah foto memperlihatkan tugu roboh. Video lain menampilkan bangunan retak dan warga berlarian panik. Sekilas semuanya tampak nyata. Namun di era kecerdasan buatan (AI) saat ini, apa yang terlihat di layar belum tentu benar-benar terjadi.
Fenomena tersebut kembali menjadi perhatian setelah gempa berkekuatan 6,7 magnitudo yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa siang dan getarannya dirasakan hingga sejumlah wilayah di Sulawesi Barat.
Di tengah kepanikan warga pascagempa, berbagai foto dan video kerusakan bangunan beredar luas di media sosial. Sebagian konten bahkan menampilkan visual yang tampak meyakinkan dan sulit dibedakan dari rekaman asli.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo SP) Provinsi Sulawesi Barat Muhammad Ridwan Djafar mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan konten visual yang belum terverifikasi.
"Kami minta masyarakat agar tidak langsung mempercayai ataupun menyebarkan foto dan video pascagempa yang sumbernya tidak jelas," kata Ridwan di Mamuju, Selasa (16/6/2026).
Menurut dia, perkembangan teknologi kecerdasan buatan telah memasuki fase baru yang membuat foto maupun video hasil rekayasa semakin sulit dikenali oleh masyarakat awam.
Era Baru Penipuan Dimulai
Jika dahulu hoaks mudah dikenali melalui foto yang buram atau informasi yang tidak masuk akal, kini tantangannya jauh lebih besar. Teknologi AI mampu menghasilkan gambar, suara, bahkan video yang menyerupai kondisi nyata dengan tingkat detail yang sangat tinggi.
Dalam situasi darurat seperti gempa bumi, banjir, atau kebakaran, konten visual palsu dapat menyebar lebih cepat dibandingkan informasi resmi. Akibatnya, masyarakat berisiko mengambil keputusan berdasarkan informasi yang salah.
Ridwan menilai kondisi tersebut menuntut peningkatan kewaspadaan publik dalam menerima informasi digital.
"Pastikan terlebih dahulu kebenarannya melalui informasi resmi dari BMKG, pemerintah daerah, maupun media yang kredibel. Jangan sampai informasi yang belum terverifikasi justru menimbulkan keresahan di masyarakat," ujarnya.
Ketika Mata Tidak Lagi Bisa Dipercaya
Menurut Ridwan, masyarakat kini memasuki masa ketika foto dan video tidak lagi dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk memastikan kebenaran suatu peristiwa.
Media sosial memungkinkan siapa saja membuat, memodifikasi, dan menyebarkan konten hanya dalam hitungan menit. Dalam kondisi tertentu, gambar hasil rekayasa AI bahkan mampu menipu banyak pengguna internet karena terlihat sangat realistis.
"Selektif baca informasi sebelum dibagikan. Pastikan dari sumber informasi resmi dan terpercaya," katanya.
Ia menegaskan teknologi AI pada dasarnya merupakan inovasi yang membawa banyak manfaat, mulai dari peningkatan produktivitas, pelayanan publik, pendidikan, hingga pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Namun di sisi lain, teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk menciptakan foto maupun video palsu yang berpotensi menyesatkan masyarakat.
sumber : Antara
.png)
7 hours ago
4

















































