REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengalokasikan anggaran sebesar Rp 9,7 triliun pada 2027 khusus untuk pembangunan infrastruktur listrik desa di berbagai wilayah Indonesia.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara sekaligus Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno menyampaikan bahwa proyek pemenuhan rasio elektrifikasi desa tersebut akan dijalankan dengan skema kontrak tahun jamak (Multiyears Contract/MYC).
“Untuk skema MYC 2026–2027 dengan target 3.054 lokasi dianggarkan sebesar Rp 8,77 triliun. Kedua, untuk skema MYC 2027–2028 dengan target 101 lokasi dialokasikan sebesar Rp 977,57 miliar,” kata Tri dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII terkait pembahasan RKA-KL/RKP Tahun 2027 di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Kendati demikian, Tri tidak merinci lebih lanjut mengenai target jumlah kepala keluarga (KK) yang akan menerima manfaat aliran listrik desa tersebut maupun sebaran wilayah yang menjadi fokus prioritas pembangunan.
Anggaran untuk listrik desa ini menjadi bagian dari total pagu indikatif Kementerian ESDM Tahun Anggaran 2027 yang ditetapkan sebesar Rp 27,33 triliun berdasarkan Surat Bersama Menteri Keuangan dan Menteri PPN/Kepala Bappenas.
Tri memaparkan, sebesar 82 persen dari total pagu atau senilai Rp 22,48 triliun diprioritaskan untuk belanja program strategis dan infrastruktur fisik yang berdampak langsung pada masyarakat luas, termasuk proyek kelistrikan desa.
Selain listrik desa, porsi belanja infrastruktur strategis TA 2027 juga dialokasikan untuk program ketenagalistrikan rakyat lainnya, termasuk program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) sebesar Rp 520 miliar untuk target 250 ribu sambungan rumah.
Pemerintah juga menganggarkan dana pembiayaan program transisi energi, yakni konversi kompor listrik sebesar Rp 815 miliar serta konversi motor listrik dengan alokasi sebesar Rp 635 miliar.
Kementerian ESDM mencatat saat ini masih terdapat sekitar 8.000 lokasi, baik desa maupun wilayah administratif di bawah desa, yang belum sepenuhnya teraliri listrik. Wilayah yang belum terjangkau tersebut umumnya berada di daerah terpencil hingga pelosok.
Pemerintah menargetkan seluruh wilayah tersebut dapat teraliri listrik paling lambat pada 2029. “Masih ada sekitar 8.000 lokasi yang belum mendapatkan akses listrik dan ini harus kita selesaikan. Tahun lalu sekitar 1.500 lokasi berhasil dialiri listrik, dan tahun ini pelaksanaannya ditargetkan lebih masif,” ujar Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis Jisman P Hutajulu.
sumber : Antara
.png)
2 hours ago
1

















































