REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Perekonomian Indonesia yang dinilai sedang morat-marit membuat Generasi Z (Gen Z) enggan menikah. Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, naiknya harga barang, ditambah tekanan hidup membuat menikah bukanlah pilihan utama bagi Gen Z. Mereka khawatir, dengan kondisi ekonomi seperti saat ini, keputusan menikah menjadi langkah yang tidak tepat.
I Made Dinda (25 tahun), perempuan asal Bali yang bekerja sebagai karyawan swasta di Semarang mengaku sudah lima tahun menjalin hubungan dengan pasangannya. Namun, Dinda mengaku belum siap jika harus menikah dalam waktu dekat. Kondisi ekonomi menjadi salah satu penyebabnya.
"Jujur saja, sejak 2024 saya merasa situasi ekonomi di Indonesia semakin enggak pasti, kayak harga-harga makin mahal, kebutuhan hidup makin mahal," ungkap Dinda ketika diwawancara Republika, Selasa (9/6/2026).
Menurut dia, dengan kenaikan harga barang-barang seperti sekarang, semakin sulit hidup hanya bermodalkan upah minimum. "Kalau dulu kan gaji UMR didesain buat hidup sendiri. Nah gaji UMR sekarang aja tuh kayak mepet loh buat hidup sendiri," ucapnya.
Tak hanya biaya makan per bulan, Dinda mengaku mengeluarkan uang ekstra untuk kebutuhan lainnya. "Misalnya kemarin, harga oli naik banget. Biasanya saya servis motor cuma Rp160-Rp170 ribu, kemarin nyaris Rp200 ribu," ucapnya.
Selain itu, untuk motor matiknya, Dinda pun beralih dari Pertamax Turbo ke Pertamax. "Awalnya saya yang pake Pertamax Turbo, yang mana itu lebih hemat bisa sampe dua minggu, saya terpaksa pake Pertamax biasa yang mana itu satu minggu abis gitu. Karena Pertamax Turbo naik banget harganya," katanya.
Dengan tekanan biaya hidup, Dinda merasa belum yakin menikah. "Kalau menikah kan sudah tidak hidup seorang diri lagi kan. Ketika misalnya ekonomi kita saja masih enggak pasti, pasti tuh bakal ngaruh ke situasi rumah tangga," ujarnya.
Dinda pun mengaku kerap melihat unggahan curhatan di media sosial yang menceritakan bagaimana kondisi ekonomi sangat mempengaruhi keharmonisan rumah tangga. Tak sedikit yang mengalami keretakan akibat ekonomi.
"Banyak juga cerita di medsos yang itu jadi pertimbangan," kata Dinda.
Dinda memproyeksikan bakal menikah pada usia di atas 30 tahun. Namun dia enggan jika harus menjadi ibu rumah tangga.
"Kepinginnya suami saya punya uang, saya juga punya uang. Enggak boleh bergantung sama cowok. Takutnya ketika cowok itu ninggalin kita, kita enggak punya apa-apa," ucapnya.
.png)
2 hours ago
1

















































