REPUBLIKA.CO.ID, WONOSARI -- Semangat kolaborasi untuk ketahanan pangan nasional terpancar dari pelosok Gunungkidul. Komunitas Petani Punk Gunungkidul menyatakan kesiapan penuh untuk bersinergi dengan program Lumbung Mataraman guna mendukung keberlangsungan unit Dapur Makan Bergizi (MBG) yang tengah dikembangkan pemerintah.
Lurah Ngleri, Playen Gunungkidul, Supardal mengungkapkan bahwa wilayahnya memiliki potensi pertanian yang besar untuk menyokong kebutuhan pangan dapur MBG. Berbagai langkah strategis telah dilakukan pemerintah kalurahan dalam beberapa tahun terakhir, di antaranya mengenai pembuatan 12 sumur tegalan (ladang) dan akses jalan usaha tani untuk memudahkan distribusi hasil panen.
"Selain itu penguatan kelompok tani di setiap dusun, termasuk kelompok tani milenial dan kelompok tani wanita. Juga kita mendorong petani untuk berinovasi melalui penanaman berbagai jenis tanaman hortikultura (sayur-mayur) sesuai musim agar pasokan bahan baku tetap stabil," jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendampingan dari pemerintah pusat maupun daerah, terutama terkait penyediaan bibit, pupuk, dan lahan.
Hal senada diungkapkan Petani Punk Gunungkidul, Mas SiBagz yang menyambut baik hadirnya Dapur MBG. Menurutnya, program ini menjadi angin segar bagi para petani muda yang selama ini sering mengalami kendala dalam pemasaran hasil panen.
"Selama ini hasil petanian sayur di Gunungkidul luar biasa, namun terkadang bingung untuk pemasaran dan harus bergantung pada pengepul. Dengan adanya Dapur MBG, kami berharap petani lokal temasuk potensi petani milenial atau Gen Z, bisa langsung menyuplai kebutuhan bahan pangan tanpa melalui rantai distribusi yang panjang," ujar SiBagz.
Ia berharap program ini menjadi momentum regenerasi petani, mengingat pentingnya peran petani muda dalam menjaga ketahanan pangan hingga 20 tahun ke depan.
Sementara itu, langkah nyata menuju kedaulatan pangan lokal semakin diperkuat di Kabupaten Gunungkidul. Melalui koordinasi intensif antara RM Wahyono Bimarso dari Yayasan Biijana Paksi Sitengsu (Sampeyan Dalem Trah Sultan Hamengkubuwono I) dengan Badan Gizi Nasional (BGN), integrasi pasokan pangan lokal kini memasuki tahap pematangan untuk mendukung penuh program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Dalam upaya menyelaraskan hasil panen petani lokal dengan kebutuhan nasional, Yayasan Biijana bersama BGN menetapkan standar nutrisi dan higienitas yang ketat. Produk pertanian dari komunitas, termasuk Petani Punk Gunungkidul, harus memenuhi kriteria tinggi untuk menu harian siswa," jelas RM Wahyono Bimarso
Selain itu, guna memastikan distribusi bahan baku segar tidak terhambat, diperkenalkan Sistem Informasi Monitoring dan Evaluasi Ketahanan Pangan Strategis (SIMETRIS) untuk mengintegrasikan data pangan termasuk dari Lumbung Mataraman. Sistem ini menghubungkan pencatatan stok di Lumbung Mataram secara langsung dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur-dapur sehat di wilayah setempat.
Salah satu kolaborasi ini adalah keterlibatan aktif komunitas Petani Punk Gunungkidul. Petani Punk Gunungkidul terus bersinergi termasuk dengan pelatihan supaya memberikan kemampuan teknis, sekaligus juga motivasi bagi generasi milenial dan Gen Z untuk melihat sektor pertanian sebagai profesi produktif yang membanggakan.
Saat ini Program Lumbung Mataram rencananya akan dilaksanakan di 10 kecamatan (kapanewon) Gunungkidul, Yogyakarta dan lima Kecamatan di Kabupaten Tangerang sebagai bagian prototipe Integrasi Lumbung Mataraman dan Badan Gizi Nasional (BGN)
"Sinergi ini memastikan bahwa petani muda dan petani Punk di Gunungkidul tidak lagi kesulitan dalam pemasaran, karena hasil panen mereka langsung diserap oleh program MBG sebagai off-taker resmi," kata RM Wahyono Bimarso.
.png)
2 hours ago
2
















































