Studi Ungkap PLTS 100 GW Bisa Hemat Rp 21 Triliun dan Serap 118 Ribu Tenaga Kerja

3 hours ago 2

Asisten Deputi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Geologi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Sunandar dan Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa dalam peluncuran kajian dan rekomendasi pembangunan PLTS 100 GW yang berjudul The Solar Archipelago: Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kajian terbaru Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia mengungkapkan program pembangunan 100 gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berpotensi menghemat subsidi bahan bakar minyak hingga Rp 21 triliun dan menarik investasi 50–70 miliar dolar AS. Program ini juga akan memastikan penyediaan aliran listrik yang andal bagi puluhan juta warga.

Kajian yang berjudul The Solar Archipelago: Indonesia's 100 GW Leap to Energy Sovereignty disusun sebagai rancangan implementasi atas arahan Presiden Prabowo untuk membangun 100 GW PLTS yang disampaikan pada pertengahan 2025. Kajian tersebut memetakan strategi komprehensif pembangunan PLTS berikut sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS).

Salah satu fokus utamanya adalah percepatan penghentian bertahap pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang berbiaya tinggi dan beremisi besar, selaras dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN. Langkah ini dinilai krusial untuk menekan biaya pokok penyediaan listrik di wilayah terpencil sekaligus mengurangi beban subsidi energi.

Selain itu, pengembangan sistem energi surya skala desa diproyeksikan menjadi tulang punggung penguatan ekonomi lokal. PLTS desa diarahkan untuk mendukung usaha Koperasi Desa Merah Putih, industri kecil, rantai penyimpanan berpendingin atau cold storage, serta kegiatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan pasokan listrik yang stabil, aktivitas ekonomi produktif di desa diharapkan meningkat dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Jawa.

Asisten Deputi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Geologi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Sunandar, mengatakan transisi energi sejalan dengan agenda pertumbuhan ekonomi nasional. Energi bersih, menurut dia, dapat menjadi fondasi pertumbuhan baru yang lebih berkualitas tanpa meningkatkan intensitas karbon secara signifikan.

“Inisiatif PLTS 100 GW membuka peluang besar bagi industri dalam negeri karena menciptakan kepastian pasar untuk menarik investasi manufaktur panel surya dan pengembangan rantai pasok domestik sehingga dapat memperkuat industri nasional dan menciptakan lapangan kerja,” kata Sunandar dalam peluncuran The Solar Archipelago, Senin (23/2/2026).

Sunandar mengatakan inisiatif PLTS 100 GW juga akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penyediaan energi yang mendukung kegiatan ekonomi desa. Dengan penyediaan aliran listrik, produktivitas dan kesejahteraan masyarakat meningkat.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |