Warga memilih aneka takjil untuk berbuka puasa yang dijajakan di Bazar Takjil Ramadhan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta, Kamis (19/2/2026). Menurut perencana keuangan, pembelian takjil harus disesuaikan dengan batas anggaran yang sudah ditetapkan, bukan mengikuti keinginan sesaat.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aneka takjil yang dijajakan pedagang menjelang jam buka puasa kerap menggoda selera puasa. Namun, kebiasaan "lapar mata" saat berburu menu berbuka tak jarang membuat pengeluaran membengkak dan makanan terbuang sia-sia.
Perencana keuangan sekaligus pendiri Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Soetikno mengingatkan pentingnya pengelolaan anggaran selama Ramadhan agar pengeluaran tidak membengkak. Dalam mengelola anggaran bulanan, secara umum bisa menerapkan skema 40/30/20/10 dengan rincian 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen kewajiban seperti cicilan, 20 persen investasi atau tabungan, serta 10 persen untuk alokasi sosial seperti zakat dan donasi.
Dalam skema tersebut, membeli takjil termasuk dalam pos kebutuhan pokok. Artinya, pembelian takjil harus disesuaikan dengan batas anggaran yang sudah ditetapkan, bukan mengikuti keinginan sesaat.
"Memang ya, takjil itu apalagi kalau kita pergi ke bazar Ramadhan bikin ngiler. Tapi kita harus mengontrol jangan sampai malah lapar mata, dan pada akhirnya makanan itu mubazir dan uang terkuras," kata Mike saat dihubungi Republika, Senin (23/2/2026).
Mike menilai fenomena "lapar mata" saat berburu takjil sering kali membuat orang membeli berbagai jenis jajanan dalam jumlah besar. Padahal, kapasitas perut setelah seharian berpuasa terbatas. Akibatnya, saat berbuka puasa, seseorang sudah kenyang oleh makanan manis dan gorengan.
"Kalau terlalu banyak makan takjil nantinya keburu kenyang yang manis-manis. Makanan utama yang lebih bergizi malah tidak termakan dan jadi wasting," kata Mike.
.png)
4 hours ago
1
















































