BAJU YANG KITA PAKAI SETIAP HARI, ANCAMAN YANG TIDAK KITA SADARI

2 days ago 13

Image Tsaqif Andreas

Agama | 2026-06-18 15:03:01

Baju yang Kita Pakai Setiap Hari, Ancaman yang Tidak Kita Sadari: Membaca Pesan dari Film Menolak Punah
Setiap hari manusia mengenakan pakaian. Ada yang memilih berdasarkan model terbaru, warna yang sedang tren, atau harga yang dianggap lebih terjangkau. Namun, di balik pakaian yang melekat di tubuh manusia setiap hari, terdapat perjalanan panjang yang sering kali tidak pernah dipertanyakan.
Dari mana pakaian itu berasal? Bagaimana proses pembuatannya? Dan apa yang terjadi ketika pakaian tersebut sudah tidak lagi digunakan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi salah satu keresahan yang coba diangkat dalam film dokumenter Menolak Punah karya Aji Yahuti bersama Dandhy Laksono. Film ini tidak hanya berbicara tentang pakaian sebagai kebutuhan sehari-hari, tetapi mencoba membuka sisi lain dari industri fesyen modern yang selama ini jarang terlihat.
Melalui pendekatan dokumenter investigatif, Menolak Punah mengajak penonton melihat bahwa persoalan lingkungan tidak selalu hadir dalam bentuk besar yang mudah dikenali. Terkadang, ancaman justru berasal dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, termasuk pakaian yang digunakan setiap hari.
Selain persoalan lingkungan, Menolak Punah juga memperlihatkan dampak lain dari perkembangan industri fesyen modern, yaitu semakin jauhnya hubungan manusia dengan bahan alami dan tradisi dalam pembuatan pakaian.


Ketika Pakaian Berubah Menjadi Bagian dari Masalah Plastik
Salah satu isu utama yang menjadi sorotan dalam film ini adalah penggunaan bahan sintetis dalam industri tekstil modern. Banyak pakaian saat ini menggunakan serat seperti poliester yang berasal dari turunan plastik.
Selama ini plastik sering dipahami hanya sebagai botol, kantong belanja, atau berbagai kemasan sekali pakai. Namun, Menolak Punah menghadirkan sudut pandang berbeda bahwa plastik juga dapat hadir dalam bentuk pakaian yang bersentuhan langsung dengan tubuh manusia.
Permasalahan muncul ketika pakaian berbahan sintetis mengalami proses pencucian dan penggunaan dalam jangka panjang. Serat-serat kecil dapat terlepas dan berubah menjadi mikroplastik yang sulit terurai di lingkungan.
Hal yang membuat isu ini semakin penting adalah karena mikroplastik tidak hanya berhenti sebagai persoalan pencemaran alam. Keberadaannya menunjukkan bahwa dampak dari aktivitas manusia dapat kembali masuk ke dalam rantai kehidupan melalui berbagai jalur yang sebelumnya tidak banyak disadari.
Film ini memperlihatkan bahwa krisis lingkungan modern tidak selalu terlihat dalam bentuk sungai penuh sampah atau laut yang tercemar. Ada ancaman yang jauh lebih kecil dan tidak terlihat, tetapi memiliki dampak panjang bagi kehidupan manusia.
Bukan Sekadar Pakaian, Tetapi Cara Manusia Mengonsumsi
Namun, Menolak Punah tidak hanya membahas persoalan bahan pakaian. Film ini membawa penonton melihat masalah yang lebih besar, yaitu bagaimana manusia modern membangun hubungan dengan barang yang mereka konsumsi.
Industri fesyen saat ini berkembang dengan sangat cepat. Tren terus berubah dalam waktu singkat, membuat masyarakat terdorong untuk membeli pakaian baru agar tetap mengikuti perkembangan zaman.
Pakaian yang sebelumnya dianggap sebagai barang yang digunakan dalam jangka panjang perlahan berubah menjadi produk konsumsi cepat. Ketika tren berganti, pakaian yang sebenarnya masih layak digunakan sering kehilangan nilai dan akhirnya menjadi limbah.
Di sinilah film ini memberikan kritik yang lebih mendalam. Persoalannya bukan hanya tentang jumlah pakaian yang diproduksi, tetapi bagaimana sebuah sistem industri membentuk kebiasaan manusia untuk terus membeli dan membuang.
Sebuah pertanyaan kemudian muncul: apakah manusia membeli pakaian karena benar-benar membutuhkan, atau karena industri berhasil menciptakan rasa bahwa manusia selalu membutuhkan sesuatu yang baru?
Ketika Tradisi Pakaian Perlahan Tergeser

Selain persoalan lingkungan, Menolak Punah juga memperlihatkan dampak lain dari perkembangan industri fesyen modern, yaitu semakin jauhnya hubungan manusia dengan bahan alami dan tradisi dalam pembuatan pakaian.

Sebelum industri tekstil berkembang seperti sekarang, banyak masyarakat memiliki cara tersendiri dalam menghasilkan pakaian dengan memanfaatkan sumber daya alam. Mulai dari penggunaan serat alami hingga pewarna yang berasal dari tumbuhan.
Namun, perubahan sistem produksi yang mengejar kecepatan, jumlah, dan harga murah membuat praktik-praktik tersebut perlahan mulai tersisihkan.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian Nathan, mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN), setelah menyaksikan film Menolak Punah. Ia berpendapat bahwa film tersebut tidak hanya memperlihatkan persoalan lingkungan, tetapi juga menunjukkan bagaimana perkembangan industri fesyen modern dapat berdampak pada hilangnya budaya dan tradisi dalam pembuatan pakaian. Menurutnya, sebelum adanya tren fast fashion, manusia masih memiliki hubungan yang lebih dekat dengan alam melalui penggunaan bahan alami, termasuk dalam proses pewarnaan pakaian. Namun, perubahan pola konsumsi membuat praktik tersebut perlahan mulai tergeser. Ia juga menyoroti persoalan mikroplastik yang menurutnya menjadi ancaman serius karena penyebarannya tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi berpotensi masuk ke rantai makanan dan memengaruhi kesehatan manusia hingga generasi mendatang.

Mikroplastik dan Ancaman Masa Depan
Persoalan mikroplastik menjadi salah satu pesan yang paling kuat dalam film ini. Hal yang sebelumnya terlihat sederhana seperti mencuci pakaian atau membeli pakaian baru ternyata memiliki hubungan dengan persoalan lingkungan yang lebih luas.
Mikroplastik menunjukkan bahwa dampak dari industri modern tidak selalu berhenti ketika sebuah produk selesai digunakan. Ada jejak yang tetap tertinggal dan dapat menyebar melalui lingkungan.
Kekhawatiran terhadap mikroplastik bukan hanya tentang kondisi alam saat ini, tetapi juga tentang bagaimana dampaknya terhadap kehidupan manusia di masa depan. Jika partikel kecil tersebut terus menyebar dan masuk ke berbagai rantai kehidupan, generasi berikutnya dapat menghadapi risiko yang lebih besar.
Film ini kemudian mengajak penonton untuk memahami bahwa pilihan konsumsi hari ini tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga memiliki konsekuensi bagi orang-orang yang akan hidup setelah kita.

Melihat Kembali Hubungan Manusia dengan Alam


Pada akhirnya, Menolak Punah mengajak masyarakat melihat pakaian dari sudut pandang yang berbeda. Pakaian bukan hanya sekadar kain yang digunakan untuk menutup tubuh, tetapi bagian dari perjalanan panjang yang melibatkan alam, industri, manusia, dan budaya.

Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang dalam penggunaan bahan alami dan berbagai sumber daya lokal dalam pembuatan pakaian. Namun, perkembangan industri modern membuat manusia semakin bergantung pada bahan sintetis yang memiliki dampak lebih besar terhadap lingkungan.

Film ini memberikan sebuah pengingat bahwa kemajuan tidak hanya dapat diukur dari jumlah produksi dan konsumsi. Ada pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana manusia dapat berkembang tanpa kehilangan hubungan dengan alam.
Pada akhirnya, Menolak Punah menghadirkan sebuah pertanyaan sederhana: apakah sesuatu yang kita gunakan setiap hari benar-benar hanya sebuah benda biasa, atau sebenarnya menyimpan persoalan besar yang selama ini tidak kita sadari?
Sebab, setiap pakaian memiliki cerita. Ada sumber daya yang digunakan, proses panjang yang dilalui, serta dampak yang mungkin tertinggal setelahnya. Menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi juga dari kesadaran terhadap pilihan kecil yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |