WHO Soal Hantavirus: Risiko Bagi Masyarakat Rendah, tak Ada Alasan Panik

5 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengimbau masyarakat tidak panik dental adanya penyebaran Hantavirus. WHO menegaskan tidak ada risiko penularan luas Hantavirus dan tidak diperlukan tindakan perjalanan.

“Infeksi Hantavirus umumnya terkait paparan lingkungan, seperti kontak dengan urine atau feses hewan pengerat yang terinfeksi. Meski dalam beberapa kasus bisa parah, virus ini tidak mudah menular antarmanusia,” Kepala kantor WHO Eropa, Hans Kluge, menyampaikan hal itu pada Senin, lewat platform X.

"Risiko bagi masyarakat luas tetap rendah. Tidak ada alasan untuk panik atau melakukan tindakan apapun."

Menurut Mayo Clinic, Hantavirus merupakan infeksi langka yang ditularkan dari hewan pengerat seperti tikus ke manusia. Penularan ke manusia biasanya terjadi saat seseorang menghirup partikel dari urine, kotoran, atau liur tikus yang terinfeksi; menyentuh benda yang terkontaminasi lalu menyentuh hidung atau mulut; serta melalui gigitan tikus. Penularan antar manusia juga dapat terjadi meskipun jarang.

Salah satu bentuk penyakit yang ditimbulkan adalah sindrom paru hantavirus (HPS), yang diawali dengan gejala mirip flu seperti demam, nyeri pinggang, nyeri otot, dan sakit kepala. Penyakit ini dapat berkembang dengan cepat menjadi kondisi serius yang memengaruhi paru-paru dan jantung, bahkan mengancam jiwa.

Gejala HPS biasanya muncul antara satu hingga delapan pekan setelah paparan. Seiring berkembangnya penyakit, penderita dapat mengalami sesak di dada. Selain itu, hantavirus juga dapat menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS), yang umumnya muncul dalam satu hingga dua pekan setelah terpapar virus.

Menurut data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), tingkat kematian sindrom paru Hantavirus mencapai sekitar 35 persen, sementara HFRS memiliki tingkat kematian antara 1 hingga 15 persen. Hingga saat ini, belum tersedia pengobatan atau obat khusus untuk Hantavirus. Namun, penanganan medis sejak dini dapat meningkatkan peluang pasien untuk bertahan hidup.

Seorang travel blogger asal Amerika Serikat membagikan video mengharukan saat dirinya terjebak di kapal pesiar yang diduga menjadi pusat wabah Hantavirus. Insiden ini terjadi di atas kapal MV Hondius, yang tengah berlayar dari Ushuaia, Argentina selatan, menuju Cape Verde di lepas pantai Afrika Barat.

Kapal tersebut berangkat pada 20 Maret dan dijadwalkan tiba pada 4 Mei. Namun, perjalanan itu berubah menjadi situasi medis darurat setelah muncul dugaan wabah Hantavirus yang telah menewaskan tiga orang di atas kapal dan beberapa lainnya kritis.

Travel blogger Jake Rosmarin, yang memiliki lebih dari 44 ribu pengikut di Instagram, termasuk salah satu penumpang di kapal tersebut. Dalam video yang diunggah pada Senin (4/5/2026), ia menggambarkan kondisi penuh ketidakpastian yang dialami para penumpang dan kru.

sumber : Antara/Sputnik/RIA Novosti

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |