Seorang nahkoda kapal ikan asal Desa Karangsong, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, sedang bekerja memperbaiki jaring ikan, Jumat (13/1/2023).
REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Para pemilik kapal maupun nelayan yang menjadi anak buah kapal (ABK) di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat kini sedang resah. Sejak Lebaran Idul Fitri lalu, kapal mereka belum bisa kembali berlayar karena persoalan harga solar non subsidi yang kini di luar jangkauan.
Di Pelabuhan Perikanan Karangsong, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, ada lebih dari 100 kapal yang kini tak melaut. Dampaknya, ribuan ABK jadi menganggur.
Salah satunya dialami Haji Tisa, seorang juragan pemilik 11 kapal di Karangsong, Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Sudah hampir dua bulan ini, belasan kapalnya lego jangkar di sekitar perairan Karangsong.
Tisa mengatakan, dari jumlah kapalnya itu, sebanyak lima di antaranya berbobot di atas 30 gross ton (GT) atau merupakan pengguna solar non subsidi. Sedangkan enam kapal lainnya, berbobot dibawah 30 GT atau pengguna solar subsidi.
“Semuanya belum ada yang berangkat melaut lagi karena terkendala solar,” kata Tisa, Selasa (6/5/2026).
Tisa mengatakan, harga solar non subsidi kini harganya melonjak tinggi dan terus mengalami perubahan secara cepat. Hal itulah yang menyebabkan kapal-kapal di atas 30 GT miliknya kini tak bisa beroperasi.
Tisa menjelaskan, kapal-kapal miliknya yang berbobot diatas 30 GT biasa mencari ikan hingga ke perairan Papua. Dengan waktu pelayaran sekitar delapan bulan, setiap kapalnya membutuhkan solar sekitar 100 ribu liter.
Ia menilai, harga solar non subsidi yang naik tajam saat ini sangat memberatkan biaya melaut. Apalagi, fluktuasi kenaikan harga solar juga terjadi secara cepat sehingga menyulitkan perhitungan biaya melaut dalam sekali pelayaran.
Adapun harga Dexlite (CN 51) per 4 Mei 2026 naik menjadi Rp 26.000 per liter dari Rp 23.600 per liter pada April 2026. Sedangkan Pertamina Dex (CN 53) juga naik menjadi Rp 27.900 per liter dari sebelumnya Rp 23.900 per liter.
Untuk memenuhi kebutuhan solar non subsidi bagi kapalnya, Tisa harus merogoh hampir Rp 3 miliar untuk sekali melaut. Angka itu belum termasuk biaya perbekalan para ABK selama delapan bulan.
.png)
2 hours ago
2















































