REPUBLIKA.CO.ID, KUNDUR -- Kelompok warga Tuah Bersatu di Desa Sawang Laut, Pulau Kundur, Kepulauan Riau, menyulap lahan pesisir yang sebelumnya terbengkalai menjadi sumber ekonomi baru. Inisiatif ini lahir dari kebutuhan warga untuk tidak lagi sepenuhnya bergantung pada hasil melaut.
Penghasilan masyarakat pesisir selama ini sangat ditentukan oleh musim dan kondisi cuaca. Saat laut tenang, hasil tangkapan tersedia. Ketika ombak tinggi, aktivitas melaut terhenti dan pemasukan ikut tersendat. Situasi ini mendorong warga membangun usaha alternatif berbasis potensi lokal.
Ketua Kelompok Tuah Bersatu, Amran, menyampaikan perubahan itu berawal dari kesadaran warga untuk mencari tambahan penghasilan. “Dulu kami ini nelayan, habis melaut ya sudah, istirahat. Tidak ada kegiatan lain. Dari situ kami berpikir bagaimana ada tambahan penghasilan,” kata tokoh setempat itu, dikutip Selasa (5/5/2026).
Berbekal lahan kosong di pesisir, kelompok ini mulai merintis budidaya ikan kakap putih pada 2022 dan berjalan aktif sejak 2023. Pengembangan usaha dilakukan bertahap mengikuti kemampuan dan kesiapan kelompok.
Kegiatan kemudian berkembang ke berbagai sektor, mulai dari hidroponik, produksi terasi, peternakan ayam petelur, hingga persiapan bank sampah berbasis komunitas. Diversifikasi ini menjadi strategi untuk memperkuat ketahanan ekonomi warga.
“Awalnya kakap, lalu berkembang ke hidroponik dan terasi. Sekarang sudah masuk ayam petelur dan bank sampah. Semua bertahap,” ujar Amran.
Dampak ekonomi mulai dirasakan. Unit peternakan ayam mampu memasarkan sekitar 100 ekor per bulan dengan omzet berkisar Rp10–12 juta. Sementara hidroponik yang dikelola kaum ibu menjadi sumber tambahan melalui penjualan sayuran segar seperti pakcoy, selada, dan sawi manis.
“Memang belum besar, tapi sangat membantu ekonomi keluarga,” tambah Amran.
Perubahan juga terlihat pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Warga yang sebelumnya hanya mengandalkan keterampilan melaut mulai menguasai teknik budidaya hingga pengelolaan usaha. “Kami jadi banyak belajar, kenal dengan kepala dinas, dapat ilmu dari ahli. Itu yang paling terasa,” ujarnya.
Dalam pengembangannya, Kelompok Tuah Bersatu mendapat pendampingan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Timah Tbk, anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID. Pendampingan mencakup pembukaan lahan, penguatan teknis, hingga pengembangan usaha.
Kelompok juga mendorong efisiensi melalui rencana pengembangan pakan mandiri untuk budidaya ikan guna menekan biaya operasional. “Harapan kami program ini terus dikembangkan. Kami ingin lebih mandiri dan bisa membantu masyarakat lebih luas,” kata Amran.
Bagi warga Sawang Laut, upaya ini menjadi langkah awal membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi pesisir. Lahan yang semula terbengkalai kini berkembang menjadi pusat aktivitas usaha yang terus tumbuh.
.png)
3 hours ago
2
















































